
POV Riana
Setelah menumpaskan sebagian dendamku lekas aku pergi, biarlah aku membalas nya dengan perlahan. Sesampainya dirumah, benar saja aku melihat mbok Sri menunggu diteras dengan berjalan mondar mandir.
"Mbok." ucapku
Spontan ia menghentikan langkah nya dan menoleh kearah ku, seraya tersenyum.
"Kamu sudah pulang nduk." sahut nya
"Mbok, lain kali jangan menungguku seperti itu. Bagaimana jika ada orang lain yang melihat, bisa bisa identitas kita terbongkar." ucapku langsung tanpa basa basi
"Maaf nduk, mbok cemas sekali." sahutnya seraya menunduk merasa bersalah
"Tidak apa mbok, lain kali biar bisa hati hati." ucapku
Mbok Sri pun mengajakku masuk kedalam rumah, aku langsung masuk kekamar untuk mencari tau siapa siapa saja yang membakar rumah ku.
Aku duduk bersila dilantai kamar yang beralaskan tikar pandan, aku lekas membakar kemenyan dan memasukkan beberapa kembang seketika aroma kemenyan bercampur bunga menguar.
Setelah asap kemenyan nya semakin tebal, aku lekas mengambil posisi bersemedi. Aku lekas memejamkan mataku, dan memulai ritualku.
Aku dapat melihat setelah pria pria yang memakai penutup kepala itu membakar rumahku, segera ia pergi kerumah juragan Karno. Sesampainya disana, mereka lekas membuka penutup kepala.
Aku dapat melihat dengan jelas wajah wajah mereka, disana aku melihat juragan Karno keluar dari rumah.
"Bagaimana apakah kalian berhasil membakar rumah itu?" tanya juragan Karno
"Kami berhasil juragan." ucap salah satu perwakilan dari mereka dengan bangga
__ADS_1
"Apakah mereka semua mati?" tanya juragan Karno dengan tatapan tajam
Seketika kesepuluh pengawal yang terlibat kelimpungan, mereka semua ketakutan.
"Eehh.. Anu juragan, mereka berhasil melarikan diri." ucap salah satu perwakilan yang bicara tadi
""Bagaimana bisa Basuki, kau dan anak buahmu memang tidak becus." ucap juragan Karno kepada salah satu yang bicara tadi yang bernama Basuki, yang merupakan pemimpin pengawal nya.
"Ma...maaf juragan, ini diluar perkiraan kami." ucap Basuki menunduk
"Arghhh." teriak juragan Karno frustasi dan langsung masuk kedalam rumah nya.
Sepeninggal juragan Karno, lima orang anak buahnya termasuk Darma dan Zuki yang ku habisi tadi langsung pergi pulang. Kini, tinggal lima orang lagi.
"Bagaimana ini kang." ucap salah satu diantara mereka
"Udah kamu tenang saja Hardi, juragan pasti tidak akan lama marahnya." ucap Basuki kepada yang bicara tadi yang bernama Hardi
"Iya kang, dapat tidak? Biar bagaimana pun kita sudah melakukan tugas kita." timpal pria berkumis tebal membenarkan
"Udah kamu Manto dan Mansur tenang saja pasti dapat kok." ucap Basuki
"Mantap kalau begitu." ucap Manto sumringah
Salah satu pria diantara mereka pria kelima yang sedari tadi diam dan menyimak saja, kini berdiri.
"Mau kemana Din?" tanya Basuki
"Kedalam kang, mau buat kopi." sahutnya seraya berjalan
__ADS_1
"Eh Udin aku juga mau yo." teriak Hardi kepada temannya yang bernama Udin
Udin hanya mengangguk
...****************...
Setelah selesai menerawang lekas aku membuka mataku, aku hanya ingin mencari tau namanya dan wajahnya saja. Kemudian, aku kembali menerawang kelima orang yang pergi tadi.
Aku kembali mengatur posisiku, dan fokus dapat aku kembali melihat kelima orang yang memutuskan untuk pulang tadi berjalan.
"Aku kok ngerasa bersalah yo kang." timpal salah satu diantara mereka
"Sama kang Bahar aku juga.". sahut Darma kepada Bahar
"Kalian berdua iki kok yo banci benar, bukan laki namanya." sahut pria bertubuh sedikit tambun
"Husss hati hati kalau bicara ya kang." ucap Darma seraya melotot
Di persimpangan jalan mereka berpisah, Darma dan Zuki belok kanan. Sementara di belok kiri, ada Bahar dan ketiga pria lainnya.
"Kira kira juragan Karno bakal bayar kita tidak yo." ucap pria bertubuh sedikit tambun tadi
"Pokoknya harus dibayar toh kang Nanang." timpal satunya lagi kepada pria bertubuh sedikit tambun yang tak lain adalah Nanang
"Kamu kok yo serakah banget sih kang Mamad." sahut Bahar
"Suka suka saya dong." ucap Mamad ketus
...****************...
__ADS_1
Aku kembali membuka mata ku, aku tersenyum miring. Sekarang aku sudah tau siapa siapa saja mereka, aku akan mulai beraksi lagi besok.
Siapapun tidak akan bisa lepas dari kemarahan ku, termasuk orang yang sudah mengirim teluh ke keluarga ku. Aku akan membalas mereka jauh lebih sakit, daripada yang lain.