Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Keputusan


__ADS_3

Sepulang dari pemakaman, beberapa para warga memilih untuk pulang kerumah masing masing. Beberapa warga yang lain yang dominan wanita memilih untuk kerumah Minah, tampak tangisan menyayat hati masih terdengar dari arah rumah itu.


Begitu juga dengan Ginanjar, sedari tadi ia memang ikut menyelenggarakan prosesi pemakaman. Kini ia pun memilih kembali pulang kerumahnya dengan wajah kusut, bagaimana tidak? Sudah hampir sebulan ia tidak bisa tenang akibat teror hantu Ki Ageng.


"Huh sial." Ginanjar bersungut sungut sepanjang jalan


Sekali kali ia akan menoleh kebelakang memastikan tidak ada orang, karena Ginanjar merasa bahwa ada yang mengikuti nya sedari tadi.


"Apa mungkin hantu itu?" tanyanya pada diri sendiri


Tidak ingin berlama lama dijalan, ia segera mempercepat langkahnya agar sampai dirumah secepatnya. Padahal, beberapa warga juga masih ada yang berlalu lalang menjelang sore seperti ini.


Sesampainya dirumah, ia segera masuk dan menutup pintu dengan kencang.


Krieett


Brakkk


Kemudian Ginanjar mendudukkan bokongnya ke salah satu kursi yang terbuat dari kayu itu, tampak ia menghela nafas kasar seolah ia sedang membuang beban yang teramat berat melalui hembusan nafas.


"Aku memiliki lima belas anak buah dan sekarang yang tersisa tinggal tujuh." gumam nya


Ginanjar memang memiliki lima belas anak buah, sementara empat orang yang tidak lain Barun, Basuki, Nardi, Wiryo meninggal ditangan Nyi Danuwati langsung.


Sedangkan empat lagi yaitu Regi, Zulkifli, Kartono, Rojak meninggal karena menjadi korban teluh yang dikirim Nyi Danuwati ke desa waktu itu.


Dan sekarang yang tersisa tinggal tujuh, mereka masih hidup karena beberapa pergi dari desa ke desa lain. Dan ada juga yang pergi ke kota, namun itu tidak akan bertahan lama sebab Nyi Danuwati tidak akan tinggal diam.


Wushhhh

__ADS_1


Disaat Ginanjar tengah asik melamun, tiba tiba sekelebat bayangan melintas membuat Ginanjar kini dilanda ketakutan. Takut jika itu adalah teror hantu Ki Ageng, sementara ia dirumah sendiri.


"Duh, apa aku ikut Mahendra saja ya kembali pulang ke kota besok." gumam nya seraya memperhatikan sekitar


Mahendra memang sudah mengatakan jika ia akan kembali ke kota sudah dari minggu yang lalu, namun Ginanjar masih tetap menahan sebab ia tidak memiliki teman terlebih demit Ki Ageng masih meneror. Namun bukan Mahendra namanya jika tidak bisa tegas, kemarin ia sudah mengatakan kepada Ginanjar akan kembali kerumah mereka yang dulu besok di pagi harinya.


"Tapi aku masih belum menemukan wanita itu, ia tidak bisa hidup tenang." gumam nya lagi


Tampak kilatan amarah terpancar dari sorot mata Ginanjar, amarah yang sia sia karena sudah membenci orang yang tidak bersalah. Bahkan, keluarganya juga tidak bersalah.


Hoshhh


Deg


Tiba tiba Ginanjar merasakan deru nafas seseorang dibelakang tengkuknya, ingin menoleh tapi lehernya seolah kaku tidak bisa digerakkan. Bahkan, untuk menelan salivanya sendiri terasa susah.


Hoshhh


Dengan sisa sisa keberanian, ia menoleh kebelakang melihat sosok yang bernafas dibelakang nya. Namun yang dia dapat adalah kekosongan, tidak ada siapa siapa dibelakang.


Disaat ingin memutar kepala kedepan yang tadi nya kebelakang seketika Ginanjar terpaku, sosok demit Ki Ageng kini sudah berada tepat didepan wajahnya. Bahkan wajah mereka hampir tidak berjarak, aroma busuk dan anyir seketika tercium oleh hidung Ginanjar membuat perutnya seraya diaduk aduk.


Tampak belatung menggeliat liat diwajah hancur Ki Ageng membuat Ginanjar merasa geli, demit Ki Ageng kini tersenyum hingga senyumnya semakin lama semakin lebar dan berubah menjadi seringaian.


Menampilkan deretan gigi yang hitam bercampur darah yang sudah menghitam, susah payah Ginanjar menelan saliva nya sendiri namun susah seolah tenggorokan nya sudah disumpal oleh sesuatu.


"To...tolong." akhirnya setelah lama terdiam bagai orang bisu kini Ginanjar bisa bersuara


Namun sayangnya tidak ada yang mendengar sebab suara Ginanjar sangat lirih, kini sosok demit Ki Ageng mengulurkan kedua tangannya ingin mencekik leher Ginanjar.

__ADS_1


Kini Ginanjar dapat melihat bentuk tangan Ki Ageng yang sama hancurnya, mengelupas hingga dagingnya berjatuhan dilantai. Disaat sosok demit Ki Ageng hendak menggapai leher Ginanjar, tiba tiba bunyi suara pintu terbuka terdengar.


Brakkk


Detik itu juga demit Ki Ageng menghilang menyisakan Ginanjar yang seperti orang linglung, tampak Mahendra tengah berdiri diambang pintu dengan wajah kesal.


"Lagi ngapain saja toh, sedari tadi aku mengetuk pintu kencang sampai tetangga mendengar tapi tidak kunjung dibuka." Mahendra terus menggerutu


Ginanjar masih diam terpaku lebih tepatnya ia masih syok, Mahendra yang merasa diabaikan segera melenggang pergi kekamar hendak membereskan pakaian yang akan ia bawa besok.


Namun bukannya membereskan pakaian justru ia malah duduk di pinggiran kasur, detik kemudian pikiran nya pun melayang pergi memikirkan Riana yang tak kunjung kembali.


"Apa memang benar bahwa ia sudah meninggal." gumam Mahendra lirih sangat lirih hingga nyamuk pun tidak akan mendengar


"Jika memang iya tapi siapa yang melakukan nya, tidak mungkin bang Ginanjar karena ia juga mengatakan tidak. Kalaupun iya, sudah pasti bang Ginanjar pergi sedari dulu karena misinya berhasil." ucapnya pelan


"Arghhh." teriak Mahendra frustasi seraya mengacak acak rambutnya


Teriakan Mahendra seketika membuat Ginanjar tersadar dari syok nya, ia segera bangkit dan menyusul Mahendra di kamar nya.


"Apa kamu jadi berangkat besok?" tanya Ginanjar kala sudah berada di ambang pintu kamar


"Hmm." hanya itu sahutan yang terdengar dari Mahendra yang segera berdiri dan mengambil semua pakaiannya


Beberapa minggu yang lalu, disaat Mahendra bertemu dengan Kemal dan Pangeran Segoro yang menyatakan bahwa Mahendra baru dari desa Sumbul. Disaat itu memang Mahendra sudah mengambil semua barang barangnya dari rumahnya dan memindahkan nya kerumah Ginanjar, untuk memudahkan jika ingin pindah agar tidak perlu bolak balik begitu pikir Mahendra.


"Apa tidak bisa ditunda dulu sampai beberapa bulan kedepan?" tanya Ginanjar mencoba bernegosiasi dengan adiknya sekaligus keluarga satu satunya yang ia punya


"Tidak." jawaban singkat itu mematahkan harapan Ginanjar

__ADS_1


Kini Ginanjar memilih untuk masuk kedalam kamarnya dan memikirkan apakah ia harus ikut atau tidak.


...****************...


__ADS_2