Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Kematian


__ADS_3

Kesal dengan mas Prastyo yang di anggap mencampuri urusan nya, mas Purwo langsung menerjang kembali tubuh mas Prastyo.


Bughhhh


Bughhhh


Dua kali hantaman langsung bersarang di dada mas Prastyo, hingga mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


"Maassss hentikan." teriak Riana


aku mencoba mendekati mas Purwo


"Berhenti disitu atau aku juga akan membunuh mu." ucap mas Purwo yang membuat dadaku terasa berdebar


Pertarungan sengit pun tak dapat di elakkan lagi, disaat mas Purwo terdesak. Mas Purwo pun mengambil celurit dari balik kasur, dengan gerakan cukup cepat.


(Celurit/Belati)


Mas Prastyo pun mengambil keris dari balik punggung nya.


"Sekarang kita imbang, sama sama memiliki senjata." ucap mas Prastyo


Mas Purwo yang diliputi amarah, langsung menyerang mas Prastyo secara membab* buta. Mas Prastyo mencabut warangka keris, dan membalas serangan mas Purwo.


Pertarungan kedua saudara itu sangat mencekam, bahkan mereka tak segan untuk saling membunuh.


"Mas sudah cukup, tolong hentikan." teriak ku frustasi sembari menangis sejadi jadinya.


Namun tidak ada yang menyahut, beberapa kali aku melihat mas Prastyo menerjang serta melompat untuk melakukan penyerangan. Begitu juga dengan mas Purwo yang tengah menangkis serangan saudaranya itu melihat bahwa ada celah, mas Purwo langsung bergerak maju menghantam dada mas Prastyo dengan gagang celurit yang ia genggam.


Bughhh


Bughhh


Membuat keris yang di genggam mas Prastyo terlempar jauh darinya.


"Mas, tolong hentikan ku mohon." ucapku di tengah tangisanku


Aku langsung berhambur ke arah mas Prastyo.


"Mass bangun lah." ucapku

__ADS_1


"Kalau sampai ia mati ini semua karna mu." timpal mas Purwo


Mas Prastyo membuka matanya, dan bergerak cepat menerjang mas Purwo kembali, lagi lagi pertarungan sengit pun terjadi.


"Kamu minggir lah agak menjauh, atau sembunyi aku takut kamu terluka." teriak mas Prastyo


Tanpa pikir panjang aku mengikuti perkataan nya, aku lekas menjauh dari mereka.


Beberapa hantaman saling membuat bunyi yang cukup nyaring, sampai di sesuatu titik mas Purwo kualahan dan tidak dapat menandingi gerakan mas Prastyo.


Tanpa kami sangka, mas Purwo melompat ke arahku dan mengarahkan celurit nya ke arah ku.


Mas Prastyo terbelalak melihat tingkah saudaranya.


"Ka..kamu mau apa Purwo, ingat dia itu istri kamu. ucap mas Prastyo


"Biarkan saja, toh juga aku tidak mencintainya. Aku hanya ingin tubuhnya saja, setelah itu mungkin aku akan membunuh nya." ucap mas Purwo yang membuat aku terpaku sesaat


'Apa ini? Kenapa takdir ku seperti ini?' batinku


Aku semakin menggigil ketakutan, kala aku merasakan cairan menetes ke tangan ku dan leherku terasa dingin dan parah.


"Kamu benar benar edan Purwo." sentak mas Prastyo


(Edan/gila.)


Tidak peduli atas keselamatan mas Prastyo sndiri, ia bangkit dan dengan cepat menerjang mas Purwo.


"Menunduk lah Riana." teriaknya


Namun mas Purwo yang sudah membaca gerakan mas Prastyo, langsung menghunuskan celurit nya ke arah mas Prastyo setelah mendekat.


Dan


Zlebb


Aku terpaku, mulutku terasa kelu aku terkejut melihat pemandangan di depanku. Tanpa terasa, aku menangis sejadi jadinya.


Celurit itu meluncur dengan sangat tepat ke arah mas Prastyo dengan ujung yang menancap di perut, membuat mas Prastyo terjatuh bersimbah darah. Bahkan darahnya, terciprat ke wajahku.


Aku langsung berlari ke arah mas Prastyo, dan meletakkan kepala nya di pangkuan ku.

__ADS_1


"Kamu jahat mas, kamu pembunuh kamu tega membunuh saudara kandung kamu sendiri, kamu jahat." teriak ku frustasi air mata ku keluar dengan snagat deras.


"Diam kamu." sentak mas Prastyo seraya menunjuk wajahku


"Mas kumohoh bertahan lah, kumohon." pintaku terisak


Mas Prastyo menggeleng lemah


"Riana... dengar kan aku, ka..kamu pergilah. Disini bu..bukan tempat kamu, kamu harus pergi... pergilah." ucapnya terbata bata


Mas Purwo berjalan mendekat, dan berjongkok di depan mas Prastyo seraya menyeringai menakutkan.


"Bukankah sudah ku katakan, jangan ikut campur." ucapnya penuh penekanan.


Dengan sisa kesadaran, dan kekuatan mas Prastyo mencabut belati dari perutnya dan menancapkan ke perut mas Purwo dengan cepat.


Wajah mas Purwo memerah, dan pucat pasi.


"Ka...kau." ucap mas Purwo


"Riana pergilah cepat, kumohon." pinta mas Prasetyo


Setelah itu mas Prasetyo menghembuskan nafas terakhir nya, aku menangis sesenggukan. Aku mendengar derap langkah yang menuju kesini, tanpa memperdulikan mas Purwo aku lekas berlari dan keluar dari rumah ini.


Sebelum aku keluar dari rumah ini, aku masih melihat dan mendengar keluarga juragan Karno dan beberapa para pekerja. Juragan Karno menanyakan siapa yang membuat mereka seperti ini, Mas Purwo yang masih sedikit tersadar berkata.


"Rii..Riana yang me..melakukan nya." ucap mas Purwo


Setelah itu aku tidak tau apa yang terjadi, karna aku sudah keluar dari rumah ini. Beruntung semua pekerja di dalam, jadi aku bisa dengan mudah keluar.


Disaat aku masih berlari di tengah jalan, aku melihat mereka mengejar ku di belakang dengan menggunakan sepeda.


"Aku harus terus berlari, jangan sampai mereka berhasil menangkap ku. Aku tidak mau kembali ke rumah terkutuk itu, jika mereka menangkap ku mungkin bapak sama ibu tidak bisa melihatku lagi." gumamku


Aku semakin kencang berlari, tanpa melihat sekitar dan.


Bruakkk


Tubuhku terpental ke pinggiran semak semak


...****************...

__ADS_1


__ADS_2