Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Pergi


__ADS_3

POV Author


Matahari pagi sudah menampakkan sinarnya dan menghangatkan penghuni desa ini, sebagian para warga sudah melaksanakan aktifitas nya dengan bekerja di kebun.


"Nduk, kamu yakin untuk pergi sekarang juga." ucap mbok Sri kepada Riana


"Njih mbok." sahut Riana


Mbok Sri terlihat menghela nafas sejenak, kemudian menatap Riana lekat lekat.


"Tapi janji yo nanti kita tinggal bersama lagi." ucap ibunya Damar menimpali


"Njih bude." sahut Riana menatap ibunya Damar


"Ini Damar pie toh, kok belum datang yo." ucap ibunya Damar


Riana terpaku sesaat, kemudian ia tersenyum kecut. Damar memang belum datang sedari tadi, setelah memutuskan untuk pergi ke desa Ketang semalam.


"Yasudah mbok, bude, Riana pamit sekarang njih." ucap Riana


Sontak kedua wanita paruh baya itu menoleh kearah Riana, dari raut wajah mbok Sri dan ibunya Damar terlihat bahwa mereka ingin menahan Riana sebentar lagi saja, namun mereka tidak ingin membuat Riana tidak nyaman.


"Yowes, kamu hati hati yo." ucap mbok Sri


"Jaga diri kamu nduk." ucap ibunya Damar lagi menimpali


"Njih bude, mbok, aku pasti baik baik saja jangan khawatir yo." sahut Riana


Setelah berpamitan, Riana segera berlalu dari hadapan kedua wanita paruh baya yang menatapnya dengan sendu. Setelah menoleh kebelakang namun sudah tidak terlihat mbok Sri dan ibunya Damar, dan memastikan bahwa sepi segera Riana melesat cepat hingga hanya terlihat hembusan angin yang kencang.


Tujuannya saat ini kedesa Ketang terlebih dahulu, ia ingin mengawasi pria berjubah hitam tepatnya abang Mahendra. Ia ingin mengetahui rencana apa yang akan mereka siapkan, karena sudah berhari hari juga Mahendra tidak lagi mengunjungi Riana.

__ADS_1


Sementara didesa yang sama namun ditempat yang berbeda, terlihat dua orang pria sedang berbincang. Lebih tepatnya, Mahendra dan pria berjubah hitam yang tak lain adalah abangnya.


"Apa kau sudah menemukan keberadaan wanita itu." tanya pria berjubah hitam


Mahendra hanya menggeleng pelan.


"Aku ingin bertanya sesuatu bang." ucap Mahendra


"Katakan." sahut pria berjubah hitam


"Sebenarnya apa yang tidak aku ketahui? Maksudku apa permasalahan antara keluarga wanita itu dan keluarga kita?" tanya Mahendra


"Keluarga mereka membuat orang tua kita meninggal." sentak pria berjubah hitam yang dipanggil abang oleh Mahendra


Kemudian pria berjubah hitam itu bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


"Lalu apa rencana kita selanjutnya." ucap Mahendra


"Kita akan mendatangi Ki Ageng, kita akan bertanya padanya. Bila perlu, kita kirimkan saja wanita itu santet yang pernah dirasakan keluarga nya." ucap pria berjubah hitam


Tanpa mereka sadari, bahwa sedari tadi diluar rumah itu terlihat Riana yang sedari tadi menguping dan menyaksikan mereka.


Terlihat Riana mengepalkan erat kedua tangannya, hingga buku tangannya terlihat memutih. Bahkan, telapak tangannya mengeluarkan cairan kental berwarna merah akibat tusukan kukunya sendiri.


"Mengapa tidak dari dulu?" tanya Mahendra


"Tidak bisa, wanita itu tidak bisa disentuh dulu. Ki Ageng mengatakan bahwa ia memiliki sesuatu yang menjaganya, itu sebabnya ia masih hidup." sahut pria berjubah hitam


"Lalu, apakah sekarang bisa disentuh?" tanya Mahendra dengan sirat merendahkan dan ejekan


Sontak pria berjubah hitam itu naik pitam, ia lalu mendengus kesal. Ia tidak bisa menyakiti Mahendra adiknya, karena ia hanya mempunyai adiknya saja sekarang.

__ADS_1


Tidak ingin berdebat, pria berjubah hitam itu segera pergi meninggalkan Mahendra.


Riana yang melihat itu juga segera melesat dengan membawa sebuah barang barang nya yang dibungkus oleh kain jarik. Ia segera memutuskan untuk pergi keatas bukit yang dimana berada gubuk eyang nya dulu, namun ditengah perjalanan ia melihat segerombolan orang yang tidak lain adalah Harjo dan beberapa anak buahnya.


Segera Riana kembali berjalan seperti biasa, Harjo yang tiba tiba melihat Riana segera menghampiri wanita cantik itu. Dengan berlari tergopoh gopoh ia menghampiri Riana, anak buahnya yang belum melihat apa apa hanya mengekor dari belakang.


"Mbak, mbak tunggu." ucap Harjo berteriak


Setelah berada dihadapan Riana, Harjo segera memperhatikan dari atas sampai bawah dan dari bawah keatas lagi hanya untuk memastikan jika wanita yang dihadapannya ini adalah Riana.


"Bener, mbak Riana kan yo." ucap Harjo


"Ada apa?" tanya Riana dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi


"Kami disuruh nyonya untuk menjemput mbak Riana." ucap Harjo


"Aku sibuk." sahut Riana singkat masih dengan wajah datar


"Tapi mbak, juragan Purwo sekarang sakit parah."


"Aku tahu."


"Eeh anu, maksud saya juragan Purwo sakitnya semakin parah dan tiap hari hanya menyebut nama mbak Riana saja." Harjo masih bersikeras


Riana tampak menghela nafas, kemudian ia menatap anak buah Purwo satu persatu. Kemudian ia menarik dua kuntum bunga sedap malam yang menghiasi rambutnya yang tergerai panjang, kemudian memberikan nya pada Harjo.


"Berikan satu kuntum untuk ditelan, satu lagi haluskan dan beri sedikit air kemudian oleskan ke wajah Purwo." ucap Riana


Kemudian Riana pergi meninggalkan anak buah Purwo yang masih melongo.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2