
"Ki, bangun Ki." ucap Ginanjar seraya mengguncang tubuh Ki Ageng yang sudah terbujur kaku
Namun nihil, tidak ada pergerakan sama sekali. Tidak hilang akal, Ginanjar kembali mendekatkan salah satu jari telunjuk nya kearah hidung Ki Ageng namun tidak merasakan hembusan nafas.
"Sialan, terus saya mesti melakukan apa." gumam Ginanjar
"Tidak tidak, aku tidak mau disalahkan toh aku memang tidak salah kan. Tapi, maaf yo Ki saya tidak bisa memakamkan Ki Ageng sendiri." ucap Ginanjar
Ginanjar kemudian bersiap mengambil ancang ancang langkah seribu, tidak perduli betapa mencekam nya hutan yang akan ia lalui dimalam hari. Ginanjar merasa jauh lebih takut berada dirumah Ki Ageng bersama seorang mayat, pelan tapi pasti Ginanjar segera berlari dan membuka pintu kemudian menembus pekatnya malam.
Hosh hosh hosh
Ginanjar berlari kencang hingga ngos ngosan, peluh seketika membanjiri sekujur tubuhnya. Bahkan pakaian yang ia kenakan sudah basah oleh keringat, padahal angin berhembus kencang masuk kedalam pori pori kulit.
"Aku harus segera pergi dari hutan ini." gumamnya seraya berlari kencang
Karena fikiran terlalu fokus untuk berlari, sampai sampai Ginanjar tidak memperhatikan jalan hingga tiba tiba.
Brakk
Bughh
"Argh sial." ucap Ginanjar yang sudah terjungkal kebelakang kala menabrak sesuatu
Ia meringis kala merasakan tangan mulusnya tergores oleh beberapa ranting yang terdampar di tanah, setelah sadar ia mencoba melihat kedepan sesuatu yang ia tabrak barusan.
Untuk sesaat Ginanjar terpaku, mulutnya tertutup rapat. Ia ingin berteriak namun lidahnya terasa kelu, belum lagi ia merasakan sekujur tubuhnya kaku tidak bisa digerakkan sehingga sulit untuk berlari.
"Si...siapa kau." ucap Ginanjar
Ia melihat punggung seorang wanita tua, Ginanjar hanya melihat punggung karena sosok itu membelakangi Ginanjar. Rambut yang keseluruhan nya sudah memutih, tubuh yang sudah membungkuk dan memegang tongkat.
Namun sayang, Ginanjar hanya terfokus oleh ketakutan nya sampai ia tidak memperhatikan kaki sosok itu menapak atau tidak.
"Ma...maaf jenengan siapa?" tanya Ginanjar sekali lagi namun kali ini bahasa serta volume suaranya lebih halus
Perlahan sosok wanita renta itu menoleh, ia memutar tubuhnya pelan sangat pelan persis seperti slowmotion hingga menghadap kearah Ginanjar.
Sontak mata Ginanjar membulat lebar, bahkan untuk menelan ludah ia sulit. Wanita tua dihadapannya sangat menyeramkan, mata yang seluruh nya berwarna putih. Wajah yang sebelah gosong seperti arang, dan sebelah lagi justru penuh luka hingga mengeluarkan hewan menjijikkan seperti belatung.
Seketika sosok itu menyeringai lebar, sangat lebar hingga mengenai telinga. Nampak lah sederet gigi gigi yang hitam, dan tiba tiba darah mengalir dari mulut sosok itu.
Hingga perut Ginanjar seperti diaduk aduk kala menghirup aroma yang sangat bau, bersamaan keluar nya darah dari mulut sosok itu aroma bangkai yang sudah membusuk berhari hari bercampur anyir seketika menguar masuk kedalam rongga hidung.
"Kowe bakal matek." ucap sosok wanita tua itu dengan suara serak
Mendengar ucapannya Ginanjar seketika tersadar, ia kemudian berlari tunggang langgang menembus hutan dimalam hari tanpa menoleh kebelakang lagi.
__ADS_1
Hingga setelah lama berlari, ia pun sudah mulai melihat beberapa rumah warga yang tertutup rapat pintunya. Untungnya, masing masing warga memasang obor didepan rumah hingga mampu menerangi langkah Ginanjar.
"Huh edan, siapa wanita tua tadi manusia ataukah demit?" tanya nya pada diri sendiri seraya terus berjalan
"Terserah lah, yang penting aku bisa kembali kerumah." gumamnya
Ginanjar kemudian mempercepat langkahnya hingga seperti berlari, ia kemudian segera memasuki rumahnya.
Krieett
Brakkk
Setelah menutup pintu, ia berniat untuk segera mandi namun baru berbalik badan.
"Arghhh setan." teriak Ginanjar kala melihat seraut tubuh sosok pria didepan
Saking takutnya, ia bahkan tidak bisa membuka pintu. Berkali kali ia mencoba membuka pintu namun tidak berhasil, perlahan sosok itu berbalik kala mendengar suara teriakan.
"Mana setan?" tanya nya yang tidak lain adalah Mahendra ia juga cukup terkejut mendengar teriakan abangnya
"Sialan, ternyata kamu." ucap Ginanjar kesal yang semakin membuat bingung Mahendra
"Kenapa?" tanya Mahendra seraya mengangkat sebelah alisnya
"Aku sial sekali hari ini."
"Ki Ageng sudah mati." ucap Ginanjar
Uhuk uhuk
Perkataan Ginanjar barusan membuat Mahendra terkejut, ia bahkan tersedak oleh ludahnya sendiri.
"Serius?" tanya Mahendra seraya melotot kearah Ginanjar
Ginanjar mengangguk, ia kemudian bercerita mengapa ia harus pergi ke bukit menemui Ki Ageng. Belakangan ini ia sering mendapatkan teror, hingga ia memutuskan untuk meminta bantuan Ki Ageng namun sialnya Ki Ageng malah meninggal.
"Dan kamu tahu siapa yang membuat Ki Ageng meninggal?" tanya Ginanjar
Mahendra menggeleng pelan.
"Siapa?" tanya Mahendra yang juga penasaran
"Riana, perempuan sial itu." sahut Ginanjar menggebu gebu
"Oh." Mahendra hanya ber oh ria membuat Ginanjar mendengus kesal
Ginanjar memang tidak menceritakan pertarungan nya dengan Ki Ageng dan Nyi Warsih melawan Riana waktu itu, jika Mahendra tahu entah apa yang akan dilakukan oleh Mahendra kepada Ginanjar.
__ADS_1
"Tapi kemana dia selama ini?" tanya Mahendra
Namun Ginanjar hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban, Mahendra pun tampak menghela nafas berat. Tidak tahan dengan badannya yang terasa lengket, Ginanjar pun meninggalkan Mahendra sendiri diruang tamu.
Ginanjar memilih untuk mandi terlebih dahulu, setelah itu ia akan makan sedikit karena perutnya terasa lapar karena sudah memuntahkan semua isinya dirumah Ki Ageng ditambah berlari lari di gelap nya malam.
Sementara Mahendra memilih untuk langsung ke kamar dan beristirahat, semenjak hilangnya Riana. Mahendra memang sudah jarang ke desa Sumbul, ia lebih memilih untuk tinggal dirumah abangnya sendiri yaitu di desa Ketang.
...****************...
Malam telah berlalu, matahari pagi sudah menyingsing dari atas sana dan memancarkan sinarnya hingga menembus pepohonan yang berada di desa.
Namun para warga sudah dikejutkan dengan bunyi kentongan, jika kentongan dibunyikan pertanda akan ada berita yang tidak mengenakkan.
Tung tung tung
Mahendra yang mendengar itu seketika langsung terbangun, tanpa mencuci muka dahulu ia kemudian segera menghampiri para warga yang membunyikan kentongan tadi.
"Ada apa pakle?" tanya Mahendra kepada semua warga pria paruh baya yang membunyikan kentongan
"Iku, ada warga yang ditemukan meninggal tidak wajar." sahut salah satu diantara mereka
"Siapa?" tanya Mahendra kaget
"Basuki." sahut yang lain
"Hooo." Mahendra hanya terperangah
Basuki adalah pemuda desa yang sudah yatim piatu, namun orang orang tidak tahu bahkan Mahendra sekalipun jika Basuki sama seperti Barun yaitu anak buah Ginanjar.
Setelah para warga pergi, Mahendra segera masuk kedalam. Ia berniat untuk mandi dan segera pergi melayat, sesampainya diambang pintu ia diberhentikan oleh Ginanjar.
"Ada apa?" tanya Ginanjar yang juga mendengar suara berisik
"Basuki meninggal, dan meninggalnya tidak wajar." sahut Mahendra
Seketika raut wajah Ginanjar berubah menjadi pucat pasi, gerakan tubuh Ginanjar pun seperti gelagapan semua itu tidak luput dari penglihatan Mahendra.
"Kenapa?" tanya Mahendra curiga
"Ti..tidak ada, yasudah sana." sahut Ginanjar kemudian segera masuk kembali kedalam kamarnya
"Aneh." desis Mahendra
Mahendra kemudian memutuskan untuk mandi tanpa memedulikan Ginanjar, setelah itu ia berjalan menuju rumah Basuki. Namun ditengah jalan ia bertemu dengan Kemal sahabat Damar dan mang Kurdi, jadilah mereka bertiga berbarengan menuju rumah mendiang Basuki.
...****************...
__ADS_1