Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Persiapan Pemujaan


__ADS_3

Tidak terasa malam sudah berlalu, kini matahari pagi sudah menyambut beberapa warga yang sedang melakukan aktivitas masing masing. Burung burung berkicauan diatas dahan pohon, para warga sudah sibuk mempersiapkan alat mereka untuk ke kebun.


Lain halnya dengan warga, kini Ki Ageng tengah bersiap untuk menuju hutan keramat. Tidak ada yang dibawa, hanya sedikit sasajen saja seperti kemenyan, kembang tujuh rupa yang dibungkus menjadi kecil seukuran kepalan tangan.


Kemudian lekas ia melesat menembus pepohonan di pagi hari, sesampainya di hutan keramat Ki Ageng sudah disambut dengan beberapa pria yang se aliran dengannya. Yaitu pemuja setan, mereka semua yang terdiri dari sekitar tiga puluh orang adalah murid Nyi Warsih.


"Apa kalian sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Nyi Warsih yang tiba tiba muncul


"Sudah Nyi." sahut mereka semua serempak


Tampak beberapa dari mereka ada yang membawa kepala kerbau, kepala sapi, ayam utuh namun sudah mati, dan yang lebih mengerikan adalah terdapat beberapa bayi yang mungkin masih seusia seminggu, dan ada pula janin entah darimana mereka mendapatkan itu sungguh pemandangan yang mengerikan.


"Bagus, nanti malam kita akan mengadakan pemujaan besar besaran terhadap ratu kita, ialah penguasa seluruh hutan terangker." ucap Nyi Warsih


"Jika masih ada ratu nya mengapa kita harus memuja Nyi Warsih, mengapa tidak langsung ke ratu nya saja." ucap salah satu pria yang mungkin berkisar tiga puluh tahunan lebih


"Hust lambemu iki." sahut temannya


Nyi Warsih yang mendengar itu seketika menoleh kearah pria tadi, tampak di wajah Nyi Warsih tidak senang mendengar perkataan nya.


"Maafkan dia Nyi, dia masih baru." sahut pemimpin kelompok cepat kala melihat raut wajah Nyi Warsih berubah


Mereka memang berkelompok, ada kubu A kubu B dan lain lainnya, Ki Ageng sendiri berada di kubu A ia adalah pemimpin Kubu A yang beranggotakan enam orang. Sementara yang berbicara tadi adalah kubu B, yang berisi empat kelompok.


"Junjungan kita tidak bisa diganggu, ia tidak suka jika orang asing memasuki area nya apalagi mengotori dengan sasajen itu." sahut Nyi Warsih yang tampaknya tidak tahu jika sudah ada pergantian ratu baru


"Baik Nyi." ucap mereka semua

__ADS_1


...****************...


Sementara di desa, lagi dan lagi para warga dihebohkan dengan kematian ternak mereka yang tidak wajar. Ternak mereka semua mati dengan cara mengenaskan yaitu perut nya menganga seperti bekas cakaran kuku panjang yang mengakibatkan semua ususnya terburai, seketika aroma anyir amis menguar memasuki rongga hidung mereka.


Ada pula warga yang mengaku kehilangan ayam ayam mereka, dan yang hilang adalah ayam cemani. Belum selesai masalah satu kini tambah masalah baru, ada juga yang mengaku telah kehilangan bayi dan janin yang seharusnya masih didalam perut.


Beberapa petinggi desa tampak pusing dan gelagapan mendengar berita yang ada, sementara mbah Bayan sendiri masih belum sadarkan diri. Bahkan, kondisinya jauh lebih buruk dari yang kemarin.


"Ini ada apa yo kang, dulu hal seperti ini terjadi sudah berpuluh puluh tahunan lalu setelah itu desa kita aman. Sekarang kok yo kembali lagi, masalahnya mengapa baru sekarang gitu loh padahal penguasanya masih sama toh." ucap salah satu warga pria paruh baya


"Embuh lah kang ora paham saya." sahut yang lain


Bahkan beberapa dari wanita yang kehilangan bayi dan janin kini sudah seperti orang yang kehilangan waras, mereka berteriak meraung raung.


Kini sebabnya berbeda, jika Minah memang betul yang dikatakan Nyi Danuwati. Barun selaku suami Minah yang tidak lain adalah anak buah Ginanjar memang menumbalkan janin yang dikandung istrinya, sementara yang menimpa warga sekarang murni karena adanya pencurian.


...****************...


Sementara berada di istana goib, tampak beberapa para danyang sari dan beberapa pengawal di sibuk kan untuk mempersiapkan acara nanti malam.


"Apa kamu sudah melepaskan jiwa kakek tua itu cah ayu?" tanya Nyi Danu dengan suara lembut mendayu namun dengan tatapan yang mematikan


Nyi Danuwati yang melihat pancaran mata sang ibu seketika kelimpungan.


"Belum ibu, aku sudah berniat melepaskan nya namun pria tua itu malah membentak ku." sahut Nyi Danuwati


"Lepaskan sekarang." ucap Nyi Danu kemudian pergi

__ADS_1


Tampak Nyi Danuwati menghela nafas dan menghembuskan nya secara kasar, kemudian ia bangkit dari duduknya dan menuju sel. Seperti biasa, ia dikawal oleh beberapa pengawal.


Sesampainya disel tempat mbah Bayan dikurung, Nyi Danuwati segera memerintahkan salah satu algojo nya untuk membuka sel. Algojo itu pun maju hingga berada didepan sel, dengan sigap ia membuka sel itu.


"Pergilah dari istana ku kakek tua, dan jangan pernah kembali jika tidak ingin mati." ucap Nyi Danuwati kemudian segera pergi bersama algojo nya


Sembari berjalan, Nyi Danuwati memerintahkan salah satu pengawalnya untuk menyuruh siapapun yang melihat mbah Bayan harus membiarkan pria tua itu keluar.


"Katakan kepada penghuni istana atau warga istana bahwa siapapun yang melihat jiwa kakek tua itu maka biarkan saja, biarkan ia pergi mengerti." ucap Nyi Danuwati


"Mengerti ratu."


Nyi Danuwati memilih kembali ke singgasana nya dan duduk di kursi kebesaran, dengan didampingi oleh Buto Ireng yang selalu bersama Nyi Danuwati dulu.


Sementara jiwa mbah Bayan, selepas peninggalan Nyi Danuwati mbah Bayan segera pergi meninggalkan sel itu. Ia berjalan menyusuri istana yang sangat besar, namun anehnya setiap penghuni istana yang melihat mbah Bayan hanya membiarkan pria tua itu lewat dan pergi.


'Aneh sekali, mengapa mereka tidak menangkap ku.' batin mbah Bayan


Tanpa menghiraukan mereka semua, mbah Bayan lekas berjalan hingga sampai gerbang istana. Lagi lagi ia dibuat terpaku, kala dua dari pengawal itu membuka gerbang yang sangat besar dan tinggi itu dari dalam.


"Mungkin Nyi Danuwati yang menyuruh mereka." gumam mbah Bayan pelan


Mbah Bayan segera pergi keluar dari istana, ia berjalan agak sedikit menjauh dari istana karena ia tidak bisa kembali ke raganya bila masih berada didekat area istana itu. Bahkan hingga sudah berada diluar saja aura negatif nya masih terasa kental, dengan mempercepat langkah nya ia menjauhi tempat itu.


Hingga dirasa cukup jauh, barulah ia berhenti. Kemudian mulutnya komat kamit membaca doa, sedetik kemudian jiwa mbah Bayan menghilang dan telah masuk ke raga nya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2