
Disebuah istana goib, lebih tepatnya istana hutan larangan milik Nyi Danu yang sudah diambil oleh Nyi Danuwati tidak jauh berbeda dengan Pangeran Segoro. Tampak Nyi Danuwati terbaring lemah diatas kasur yang sangat empuk dan lembut, Nyi Danu pun mencoba untuk memulihkan kondisinya.
"Mengapa kamu tidak melawan pria itu?" tanya Nyi Danu yang diselimuti dengan kekhawatiran
Namun Nyi Danuwati hanya menggeleng lemah.
"Ingat dendam mu, pria itu hanya akan menghalangi mu membalaskan penderitaan yang kau alami selama ini. Oh tidak, atau bahkan pemuda itu melindungi orang orang yang membuat hidupmu hancur." ucap Nyi Danu dengan tatapan nyalang
Mendengar hal itu tampak Nyi Danuwati mengepalkan erat tangannya, terlihat jelas ada kilatan amarah dipancaran matanya.
Nyi Danu menghela dan menghembuskan nafas sejenak, dan menatap kearah Nyi Danuwati.
"Sekarang duduklah membelakangi ibu." ucap Nyi Danu
"Baik ibu."
Nyi Danuwati pun segera mengubah posisi dari berbaring ke posisi duduk dengan dibantu oleh Nyi Danu, kemudian Nyi Danuwati segera menghadap kearah sandaran ranjang dan membelakangi Nyi Danu.
Nyi Danu sendiri tidak membuang waktu, ia segera memberikan energi kepada Nyi Danuwati. Pertama, Nyi Danu mengucapkan rapalan ajian tanpa bersuara dengan duduk bersila.
Tidak lama asap hitam pekat tiba tiba saja keluar dari telapak tangannya yang mengepal serta dari mulut, kemudian tangan itu ia hentakkan kuat dipunggung Nyi Danuwati. Bahkan saking kuatnya, Nyi Danuwati sampai terbelalak dan meringis.
Kemudian asap yang keluar dari mulut Nyi Danu ia tiupkan sampai asap itu bergerak terbang dan masuk dari dalam rongga hidung Nyi Danuwati, perlahan tapi pasti Nyi Danuwati merasakan kondisi fisiknya membaik.
"Bagaimana?" tanya Nyi Danu kala melepaskan tangannya dari punggung Nyi Danuwati
"Sudah baikan ibu, terimakasih." sahut Nyi Danuwati yang seketika langsung segar
__ADS_1
"Sekarang istirahat lah." ucap Nyi Danu
"Njih."
Nyi Danuwati pun kembali berbaring, dan Nyi Danu segera bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar meninggalkan Nyi Danuwati yang sedang beristirahat.
...****************...
Sementara di desa Ketang, beberapa warga sudah meringkuk dibalik selimut. Apalagi mereka sedari pagi sampai sore tadi dihadapkan dengan warga yang memiliki penyakit aneh, para warga yang tidak terkena juga pasti lelah membantu. Begitu juga dengan yang terkena, pasti lebih letih lagi.
Angin berhembus kencang membawa masuk kerumah warga dari celah lubang ventilasi, suasana dingin sangat luar biasa menembus kulit dan masuk kedalam pori pori.
Malam merangkak semakin larut, angin berhembus sepoi membelai rimbun dedaunan. Hawa sejuknya membelai lembut wajah seorang pria yang sedang berjalan berdua dengan temannya, mereka selama ini berada dikota dan baru pulang sekarang.
"Desa ini kok seram yo, sepi lagi." ucap salah satu diantara mereka yang bernama Nardi yang tidak lain dan tidak bukan salah satu anak buah Ginanjar
"Iyo, ada opo yo?" sahut temannya yang bernama Wiryo yang posisinya sama dengan Nardi sama sama anak buah Ginanjar
"Kok aku merinding yo." gumam Wiryo
"Sama Yo aku juga, nih lihat." sahut Nardi seraya memperlihatkan tangannya
Hingga tiba tiba.
Wushhhh
Blashhh
__ADS_1
"Opo iku?" tanya Nardi yang sudah gemeteran
"Ti...tidak tahu Nar." sahut Wiryo
Hingga tiba tiba mereka merasakan hawa dingin sedingin es menyentuh tengkuk mereka berdua, dari tengkuk menjalar ke punggung padahal dilapisi baju.
"A...apa ini." desis Nardi yang seketika langsung merapatkan tubuhnya dan menggenggam erat lengan Wiryo
"Sampean juga merasakan toh?" tanya Wiryo
"I..iyo."
"Jangan jangan demit." gumam Wiryo
Baru saja Wiryo mengatakan hal itu seketika terdengar tawa dari belakang mereka.
Hehehehe
Hihihihi
Deg
Mereka berdua terkejut bukan main, jantung mereka hampir lepas dari rongganya. Bahkan Nardi sekarang sudah kencing celana saking takutnya, suara perempuan tertawa dan suara serak khas wanita tua terdengar jelas di indera pendengaran mereka.
"A...ada dua." ucap Nardi dengan wajah memerah
Sementara Wiryo hanya diam saja, bohong jika ia tidak takut. Nyatanya ia ketakutan setengah mati, hanya saja ia tidak menunjukan nya didepan Nardi.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" tanya Nardi lagi
...****************...