
Hingga tepat di siang hari, di jam makan siang semua menu kini telah terhidang dengan sempurna. Lekas Yeti menaruh sebagian di piring untuk dihidangkan, sebagian lagi untuk dibagikan. Karena mbah Sastro mengatakan bahwa tidak boleh memberikan warga sisa, atau bekas makan mereka yang tidak habis.
Walaupun yang tersisa lauk pauk yang masih bersih, namun bagi mbah Sastro sama saja. Itu sebabnya Yeti membagi menjadi dua bagian, lekas ia menghidangkan diruang depan yang sudah digelar tikar pandan.
"Ayo dimakan." ucap Yeti setelah meletakkan makanan
Kebetulan mang Kurdi sudah datang sebelum makanan selesai dimasak semua, sementara Yeti lekas kembali kerumah nya yang hanya bersebelahan dengan rumah Pangeran Segoro.
Mbah Sastro sendiri sudah meminta Yeti untuk ikut bersama namun ibunya Kemal itu menolak, bukan tanpa alasan. Jelas Yeti merasa asing karena hanya ia satu satunya wanita, jadi ia memilih untuk pulang saja. Toh, nanti juga makanan nya akan dibagikan kepada warga termasuk dirinya jadi ia bisa mencicipi.
Yeti juga sudah berpesan untuk memanggil nya setelah selesai makan siang, karena ingin mencuci piring dan membersihkan dapur.
"Monggo dinikmati." ucap mbah Sastro
Mereka pun makan dengan lahap, terlebih Pangeran Segoro yang sudah sebulan tidak mengisi perut. Setelah selesai, mang Kurdi dan Kemal segera mencuci piring. Ia tidak diizinkan mbah Sastro untuk memanggil ibunya lagi, karena bagaimana pun Yeti pasti merasa lelah. Terlebih lagi, semua makanan tadi lebih dominan Yeti yang mengerjakan semua.
Kini tinggal mbah Sastro dan Pangeran Segoro, sementara mbah Bayan memilih untuk membersihkan dapur.
"Mbah." ucap Pangeran Segoro
"Ada apa le?" tanya mbah Sastro
"Selama aku tidak disini, ada kejadian apa saja mbah? Kenapa para warga seperti tengah ketakutan seperti itu." sahut Pangeran Segoro
Tampak mbah Sastro menghembuskan nafas dalam, tatapan nya lurus kedepan. Kemudian ia bercerita tentang teror pertama setelah berbulan bulan tenang, dan ternyata Nyi Danuwati hanya mampu menyelesaikan satu ajian yang membuat ia cepat kembali dan membuat masalah.
Kedatangan satu persatu anak buah Ginanjar yang mbah Sastro lihat, kematian Juki, serta ternak yang lagi lagi mati mengenaskan namun ditangan manusia.
"Apakah dia memang tidak bisa kembali lagi mbah?" tanya Pangeran Segoro sendu
Sementara mbah Sastro tidak bisa menjawab selain menepuk pundak Pangeran Segoro pertanda untuk menguatkan, tidak ingin larut dalam kesedihan Pangeran Segoro memilih untuk membantu Kemal dan lainnya.
...----------------...
Hingga sore hari telah tiba, langit yang tadinya tampak cerah membuat cuaca panas kini sudah mredup. Bukan mendung, hanya sedikit meredup sebagaimana mestinya sore hari.
Angin juga tampak berhembus sepoi membuat suasana tampak sejuk, hari masih menunjukkan pukul 15:00 beberapa warga tampak sudah sibuk dengan pekerjaan nya masing masing.
Begitu juga dengan Yayan dan Mamat yang akan melakukan pekerjaan nya di desa sebelah, mereka kemudian keluar dari rumah dan berjalan cepat menuju gapura desa.
Mereka berdua pun melewati kediaman Pangeran Segoro yang sedang menatap mereka melalui jendela yang terbuka.
"Ayo cepat Mat." ucap Yayan
__ADS_1
"Iyo, memang kamu tidak lihat aku lagi jalan." sahut Mamat dengan malas
Hingga sampai digapura, ternyata masih ada beberapa warga yang memang mencari uang dengan mengantar warga yang ingin keluar atau masuk desa menggunakan kuda delman.
"Pakde antar ke desa sebelah yo." ucap Yayan
"Yowes silahkan naik."
Mereka berdua pun lekas menaiki kuda delman dan segera meluncur meninggalkan desa Ketang.
...****************...
Disisi lain, tampak Pangeran Segoro masih berada di jendela tidak bergerak sedikitpun. Hingga mbah Sastro mengagetkan nya dengan menepuk punggung Pangeran Segoro, tanpa menoleh Pangeran Segoro seolah tahu siapa yang ada dibelakang nya.
"Kamu lagi apa toh, daritadi hanya diam berdiri seperti orang bingung." ucap mbah Sastro yang kini berdiri sejajar dengan Pangeran Segoro
"Tidak ada mbah, hanya melihat dua orang yang mbah ceritakan tadi. Sepertinya mereka mulai melancarkan aksinya, aku harus menggagalkan nya mbah." ucap Pangeran Segoro
Mbah Sastro mengangguk kan kepalanya pelan.
"Baiklah, kamu boleh pergi le." sahut mbah Sastro
Pangeran Segoro kemudian berpamitan kepada yang lain yang sedang membungkus makanan didapur untuk dibagikan sore itu juga, setelahnya Pangeran Segoro pergi dengan melalui jalan goib yaitu lipat bumi.
...****************...
Setelah salah satu warga yang membawa kuda delman itu pergi hingga tidak terlihat, Yayan dan Mamat segera memasuki desa itu. Tidak seperti desa Ketang yang harus melewati hutan sebelum menemukan desa, desa Sumbul terletak dipinggir jalan hingga Yayan dan Mamat tidak perlu takut.
"Ayo." ucap Yayan
Jauh berbeda dengan desa Ketang yang sangat mencekam, suasana desa Sumbul tampak damai dan tentram. Tampak anak anak balita masih bermain dengan teman seusianya, beberapa pria paruh baya pun tampak duduk bersantai dipos ronda dengan bermain catur. Sementara wanita paruh baya ada yang sedang bersantai bersama wanita paruh baya lain, ada juga yang sibuk menyapu halaman dan banyak lagi.
"Kita baru jalan beberapa langkah saja sudah menemukan empat wanita hamil." celetuk Mamat
"Iyo, sampeyan membawa celurit toh?" tanya Yayan yang dijawab anggukan oleh Mamat
Bugh
Bugh
Tiba tiba ada yang menepuk pundak mereka berdua membuat Mamat dan Yayan seketika panik dan gelagapan, perlahan mereka memberanikan diri menoleh kebelakang. Tampak pria paruh baya yang menatap mereka dengan heran, terlihat jelas dari raut kening yang mengerut.
"Sapa kowe, aku durung tau weruh kowe." ucap pria paruh baya itu yang ternyata salah satu warga desa Sumbul
__ADS_1
(Siapa kamu, saya tidak pernah melihat kalian sebelumnya.)
"Sa...Saya Yayan dan ini Mamat te..teman saya, kami dari desa sebelah." ucap Yayan terbata
Karena panik ketakutan bahkan angin yang berhembus di sore hari tidak membuat mereka sejuk, keringat sebesar biji jagung tampak berjatuhan dari kening Yayan sementara Mamat keringat dingin.
Pria paruh baya itu hanya mengangguk anggukan kepalanya, kemudian tatapannya kembali menelisik kearah Yayan dan Mamat dari atas sampai bawah dan dari bawah sampai atas lagi membuat mereka berdua risih.
"Apa tujuan kalian datang kesini?" tanya pria paruh baya itu
Hanya pertanyaan simpel, tapi mampu membuat wajah Yayan dan Mamat seketika pucat pasi.
"Ka..kami ingin menemui bude saya, iya ingin bertemu dengan bude saya." sahut Yayan
Sementara pria paruh baya itu menatap mereka dengan tatapan curiga, bagaimana tidak? Awalnya mereka tampak baik baik saja, tapi setelah kedatangan pria paruh baya itu mereka seketika panik, gelagapan, ketakutan dan lain lainnya. Bahkan, sekarang wajah mereka sudah memucat.
"Siapa nama bude sampeyan?" tanya pria paruh baya itu lagi
"Saya katakan juga pakde belum tentu tahu." sahut Yayan berkilah kali ini ia tidak gugup lagi namun masih ada sedikit rasa takut
"Jelas saya tahu, bukan hanya karena warga didesa ini masih terbilang sedikit namun karena saya juga lurah di desa ini." ucap pria itu yang ternyata adalah lurah desa Sumbul
Glek
Yayan dan Mamat menelan saliva dengan susah payah, mereka yang tadinya tenang lagi lagi harus dilanda panik.
"Susi, iya bude Susi." sahut Yayan asal
"Tidak ada yang bernama Susi disini." sahut pak lurah itu
Kali ini tatapan pak lurah sangat tajam menusuk mereka berdua, ternyata wajar saja jika ia terpilih menjadi lurah. Tampak pria paruh baya itu sangat bijaksana, dan waspada kepada orang baru apalagi dengan membuat orang curiga.
"Arum, bude saya bernama Arum." ternyata Yayan masih belum menyerah sementara Mamat merasa tungkai nya lemas tak bertulang
"Tidak ada yang bernama Arum, sepertinya kalian datang kesini dengan niatan yang tidak baik. Pergi dari sini sekarang juga, atau saya menyuruh warga untuk mengusir kalian." ucap pak lurah
Namun mereka masih tetap berdiri membuat pak lurah itu jengah, kemudian ia menyuruh beberapa pria yang berada di pos ronda untuk mengusir kedua manusia bebal itu.
Tangan Yayan dan Mamat pun ditarik paksa hingga keluar dari desa Sumbul, setelah itu warga tadi segera pergi.
"Bagaimana sekarang?" tanya Mamat
"Kita tunggu saja dulu, kita akan bergerak setelah malam." sahut Yayan yang masih belum kapok
__ADS_1
...****************...