
POV Riana
Keesokan harinya, aku berniat untuk kepasar bersama mbok Sri. Karna aku tidak akan bisa melupakan semua kejadian yang menimpa ku jika aku sendiri, memang ada bude Ratna. Tapi bude Ratna selalu termenung seorang diri, aku mengerti perasaan nya karna aku juga mengalami hal yang sama. Bahkan, satu kelurga sekaligus.
"Bude, kami pamit dulu yo." ucapku seraya mencium punggung tangan bude Ratna
"Iyo nduk, kalian hati hati yo." sahut bude Ratna
"Mbak yu Sri, jaga Riana toh yo." ucap bude Ratna lagi kepada mbok Sri
"Iyo pasti, Riana udah saya anggap anak sendiri. Karna, sedari kecil teh lengket sama saya." ucap mbok Sri tersenyum seraya mengusap rambutku
"Seharusnya bude yang hati hati, bude sendiri loh di rumah mas Damar sudah pergi ke kebun sejak tadi." ucapku menimpali
"Ndak papa, kalian cepatlah." ucap bude Ratna mengangguk
Aku dan mbok Sri pun lekas pergi, agar cepat sampai kasian bude Ratna sendiri.
...****************...
Setelah selesai berbelanja kami pun segera pulang, kami hanya membeli bahan makanan untuk dimasak, dan pakaian ku dan mbok Sri karna pakaian kami sudah habis terbakar. Ada jaga pakaian untuk bude Ratna dan mas Damar, hitung hitung kado buat mereka.
Kami membeli semua ini dengan menggunakan uang hasil kebun kami, saat hendak pulang. Kami melihat sosok pria yang berjubah hitam sehingga menutupi wajahnya bersama beberapa centeng nya, awalnya aku dan mbok Sri tidak menanggapi.
Tapi, setelah pria itu melihat kami ia seolah olah ingin menangkap kami. Lekas aku dan mbok Sri berlari kencang tak tentu arah, aku melihat mereka yang seolah ingin menangkap ku.
"Mbok... mbok Sri, pergi saja. Sepertinya mereka hanya ingin menangkap ku mbok, aku tidak ingin membahayakan diri mbok Sri." ucapku seraya berlari
"Kamu bicara apa toh nduk, mbok tidak mungkin membiarkan kamu sendiri. Mbok, sudah janji sama keluarga kamu tidak akan meninggalkan kamu." ucap mbok Sri
"Mbok tapi mereka hanya ingin aku mbok, bagaimana jika mereka menangkap kita bukan tidak mungkin mereka mencelakakan mbok. Jika kita berdua dalam bahaya, lalu siapa yang akan meminta pertolongan." ucapku
Mbok Sri tampak berfikir, didepan sana aku melihat persimpangan. Lekas aku mendorong mbok Sri hingga terjungkal ke sebelah kiri, dan aku berlari ke sebelah kanan.
Benar saja dugaan ku, mereka hanya mengincar ku. Aku kepayahan berlari karna aku harus menenteng sebagian barang belanjaan, aku melirik sekilas kebelakang.
Tampak mbok Sri juga mengikuti, dengan cara sembunyi sembunyi dibalik semak belukar. Disaat fokus berlari, aku tidak memperhatikan jalan hingga aku terjungkal.
Kini mereka sudah mengepung ku, aku terjebak.
__ADS_1
"Hahahahaha ternyata lari mu sungguh kencang sekali, kami hampir kewalahan." ucap sosok pria berjubah hitam
Aku mengernyitkan alis, rasanya aku sangat familiar dengan suara itu. Tapi, siapa.
"Aku sudah muak melihat keluarga Pramono, tadinya aku berfikir untuk membiarkan mu hidup dan menderita. Tapi aku salah, kau justru bahagia. Jadi, alangkah baiknya jika kau menyusul keluarga mu kealaam baka." ucapnya dengan mata melotot tajam
"Si..siapa kau." teriakku terbata
"Hahahaah kau tidak perlu tau siapa aku." ucapnya menggelegar
Aku berusaha berdiri, aku menatap centeng nya satu per satu. Aku memang bisa bela diri karna pernah diajarkan oleh mas Damar, namun jika mereka sebanyak ini aku tidak akan sanggup.
Aku mulai memasang kuda-kuda, mereka siap menendang ku. Lekas aku lompat tinggi, dan secepat mungkin aku menerjang tubuh salah satu dari mereka.
Bugh
Bughh
"Arghhh." teriak salah satu yang aku terjang tadi
"Beraninya kau." teriak salah satu temannya
Bugh
Bugh
Bugh
Tiga kali tendangan, mampu membuat mereka tersungkur. Tanpa aku sadari, salah seorang dari mereka ada dibelakang ku kemudian.
Bughh
"Arghh." teriakku
Aku melihat sekilas mbok Sri ingin mendekat, lekas aku memberi kode untuk jangan berupa gelengan kepala.
Pria berjubah hitam itu mendekat, dan berjongkok didepan ku yang masih terlentang.
"Sudah cukup main mainnya anak bodoh, aku sudah muak melihat mu. Sekarang, ucapkan selamat tinggal dan temui keluargamu." ucapnya seraya mengangkat celurit nya dan menghunuskan ke perut ku
__ADS_1
"Argghhhhhh." suara teriakan ku yang panjang memecah kesunyian
Dibalik kesadaran ku, aku melihat mereka pergi dan membiarkan ku tergeletak disini. Kemudian, mbok Sri keluar dari persembunyian nya dan menghampiri ku.
"Ya Allah Gusti, nduk hiks hiks." ucap mbok Sri seraya menangis
"Aku tidak apa apa mbok." ucapku tersenyum
Karna memang aku merasa tusukan nya tidak terlalu dalam, mereka percaya aku telah mati karna aku berpura pura mati tadi. Hanya saja, darahnya keluar banyak.
Lekas mbok Sri mendudukkan ku, dan mengikat perutku menggunakan kain agar darahnya tidak terlalu deras keluar.
"bagaimana ini nduk, kita tidak mungkin disini cuacanya sudah mendung. Sepertinya, sebentar lagi hujan." ucap mbok Sri
"Kita cari tempat berteduh saja mbok." ucapku
"Kamu memang kuat toh?" tanya mbok Sri cemas
Aku mengangguk, dengan sisa tenaga ku. Kami pun menyusuri hutan hingga naik keatas bukit, namun aku mengingat tempat eyangku diatas bukit.
Dulu, eyang ku memang pernah tinggal disana dan aku pernah kesana. Tidak ada seorang pun yang tau, hanya aku, ibu, dan bapak saja yang tau.
"Eh.. Mbok kita ke gubuk milik eyang saja ya." ucapku akhirnya
"Emang ada nduk?" tanya mbok Sri bingung
"Ada mbok, mbok tau toh selama eyang tidak dirumah. Eyang, tinggal disana." ucapku
"Baiklah, ayo." ucap mbok Sri
Kami pun menyusuri hutan, hingga akhirnya kami sampai. Aku sudah tidak merasa kuat, rasanya darahku sudah habis mengalir walaupun diikat menggunakan kain tetap saja tembus.
"Mbok... Ri..Riana sudah t..tidak kuat." ucapku terbata
"Tidak nduk, kamu jangan ngomong seperti itu. Kamu, kamu harus kuat." ucap mbok Sri
Aku hanya menggeleng lemah, mataku sudah mulai menggelap dan...
...****************...
__ADS_1