
"Jangan ceroboh Nyi Ratu." ucap Buto Ireng yang mengikuti Riana hingga kedalam kamar
"Diamlah, mengapa kau selalu saja memanggilku dengan sebutan itu?" tanya Riana yang sejenak menetralkan nafasnya yang memburu
"Karena suatu saat Nyi Ratu akan menjadi penguasa hutan..." belum sempat Buto Ireng menyelesaikan ucapannya, Riana lekas memotong.
"Omong kosong apa ini." ucap Riana
Hening, sosok makhluk besar dan menyeramkan itu tidak menjawab ucapan Riana. Terdengar helaan nafas milik wanita cantik itu, untuk sesaat ia berfikir bagaimana cara mengalahkan Ki Ageng.
"Pergilah, awasi setiap gerak gerik Ki Ageng." ucap Riana
"Baik Nyi Ratu." sahut Buto Ireng
Disaat Buto Ireng hendak menghilang, Riana lekas menahan nya.
"Tunggu." ucap Riana
Kemudian Riana segera mengambil bunga sedap malam sebanyak tiga kuntum yang terselip di rambutnya, selain untuk mempercantik rambutnya. Bunga itu juga bisa dijadikan obat, karena sudah menyatu dengan kekuatan Riana.
"Makanlah, agar Ki Ageng tidak bisa membaui aroma mu. Dan ingat, jangan sampai ketahuan." ucap Riana seraya menyodorkan tiga kuntum bunga sedap malam itu
"Baik Nyi Ratu." sahut Buto Ireng kemudian menerima bunga itu dan memakannya
Setelah itu ia pun menghilang dengan cepat, kini hanya tersisa Riana yang bingung harus melakukan apa.
"Arghhh, kurang ajar Nyi Warsih." ucap Riana berteriak frustasi
"Tega sekali dia menghianatiku." gumam nya seraya mencengkram kuat pakaian nya untuk meredakan gejolak amarah
...****************...
Hingga tidak terasa sudah malam, kembali ke desa terlihat Damar pulang dengan rombongan empat orang. Yang terdiri dari Damar, Mahendra, Kemal, dan mbah Bayan.
"Mbah Bayan tahu cerita tadi darimana?" tanya Damar membuka pembicaraan
"Dulu aku seorang Rt di desa ini, sekaligus orang kepercayaan mbah Sastro dulu." sahut mbah Bayan
__ADS_1
"Ohh." Damar dan yang lain terperangah
"Dulu sewaktu mbah menjadi Rt, usia mbah seumuran dengan Kurdi. Sementara mbah Sastro sendiri sudah sangat tua, yo namanya juga para tetua adat." ucap mbah Bayan
"Mengapa mbah Bayan tidak ikut menjadi tetua adat saja." ucap Kemal menimpali
Sontak ucapan Kemal mendapat tatapan tajam dari Damar, sementara mbah Bayan sendiri hanya menggeleng kepala dan tersenyum menanggapi. Lain halnya dengan Mahendra, pria tampan berkulit putih itu sedari tadi sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Menjadi tetua adat itu tidak boleh asal sembarang orang, mereka harus memiliki ilmu kebatinan, kanuragan, dan lainnya." sahut mbah Bayan
"Ohh." lagi lagi mereka hanya terperangah
"Yowes rumah si mbah sudah sampai, mari mampir dulu." ucap mbah Bayan berhenti didepan salah satu rumah jaman dulu bukan rumah panggung, melainkan rumah yang terbuat dari kayu.
"Oh ora perlu mbah, nanti ngerepotin simbah lagi. Lagian iki sudah malam, kami pulang saja." sahut Kemal
"Yowes, hati hati yo." ucap mbah Bayan
"Njih mbah."
Hingga sampai didepan rumah Damar dan Kemal mereka pun berhenti, sontak Mahendra pun ikutan berhenti dan menoleh kearah Damar.
"Sampean tidak ikutan ke desa Ketang mas? Kan disana ada ibunya toh." ucap Mahendra bertanya
"Nanti saya kesana kok, ini cuma mau mandi dan ganti baju dulu. Mampir sini mas, nanti kita barengan kesana." sahut Damar
Tampak Mahendra terlihat berfikir keras, namun sesaat kemudian ia pun menolak.
"Wes tidak usah repot mas, saya duluan saja njih." ucap Mahendra menolak tawaran Damar
Setelah berpamitan, Mahendra pun kembali melanjutkan perjalanan nya seorang diri.
"Dia aneh yo." ucap Kemal yang merasa aneh dengan Mahendera
"Wes lah Mal, biarkan saja." ucap Damar kemudian masuk kedalam rumah nya
Tidak membutuhkan waktu lama ia selesai mandi dan berganti baju, kemudian ia lekas hendak pergi ke desa Ketang menemui ibunya.
__ADS_1
Krieett
Brakk
Setelah pintu tertutup rapat, Damar pun mengayuh sepedanya menuju desa Ketang. Baru sampai di gapura desanya, ia terpaksa berhenti kala seseorang memberhentikan nya.
"Nyuwun pengapunten mas." ucap sosok pria yang memakai caping serta menenteng tas besar
"Njih mas." sahut Damar
"Saya ingin menanyakan sesuatu mas."
"Njih, monggo."
"Sebelumnya perkenalkan saya Purwo dari desa Sukar, hanya saja sudah tinggal dikota."
Deg
Tiba tiba darah Damar terasa berdesir, jantungnya berdetak hebat. Tanpa sepengatahuan Purwo, terlihat Damar mengepalkan kedua tangannya untuk menenangkan hati yang bergejolak.
"Begini mas, saya ingin menanyakan tentang keberadaan Riana. Apakah mas tau dia ada dimana?" tanya Purwo
"Oh mas Purwo toh, memang nya untuk apa yo mas. Bukannya kalian sudah bercerai toh." ucap Damar seolah tidak mengenal Purwo
Mendengar Damar berkata cerai seketika Purwo terpaku sesaat, mulutnya terasa kelu mengucapkan sepatah kata.
"Iyo mas benar, saya mencari Riana untuk meminta maaf sekalian berterimakasih karena sudah menyembuhkan saya." ucap Purwo
Kali ini giliran Damar yang terpaku, mendengar Riana menyembuhkan Purwo seketika darahnya seperti mendidih.
'Mengapa Riana menyembuhkan nya, bukankah pria ini juga ikut andil dalam penderitaan Riana. Mungkinkah jika Riana sudah menyukai Purwo, arghh apa yang kupikirkan.' batin Damar bergejolak
"Maaf mas, tapi saya dan seluruh warga desa tidak tahu kemana perginya Riana." ucap Damar
"Oh, matur nuwun njih mas." sahut Purwo kemudian masuk kedalam gapura desa
Damar pun kembali mengayuh sepedanya menuju desa Ketang.
__ADS_1