
Pagi hari kembali menyapa, suasana dingin terasa luar biasa. Angin berhembus pelan menerpa dedaunan, rintik hujan terbawa bersama angin menciptakan suasana semakin dingin. Langit nampak mendung seolah ikut bersedih atas kematian tak terduga yang menimpa Ratna, pandangan tertutup kabut menutupi matahari yang seharusnya sudah menampakkan diri.
Pemakaman Ratna ibunya Pangeran Segoro dilakukan di desa Ketang, berkumpul bersama mendiang ayah dan adiknya. Tampak air mata terus mengalir terjatuh diatas tumpukan tanah merah, Pangeran Segoro semakin terisak pilu.
"Sudah le, mbah tahu ini tidak mudah. Tapi terpaksa mbah katakan ikhlas kan lah, karena jika terus kamu tangisi maka mereka tidak akan tenang disana." ucap mbah Sastro seraya mengelus punggung Pangeran Segoro
"Hiks hiks hiks, sekarang hanya tinggal saya sendiri mbah." sahut Pangeran Segoro disela isakannya
"Tidak le, itu tidak benar. Kamu tidak sendiri, ada kami semua disini. Ada mbah juga, apa kamu tidak menganggap mbah mu ini." ucap mbah Sastro diangguki oleh yang lain
Pangeran Segoro menggeleng pelan di dekapan mbah Sastro, bukan seperti itu maksud Pangeran Segoro.
"Sudah sudah, sebaiknya kita pulang saja."
Pangeran Segoro setuju, mereka pun lekas beranjak berdiri dan pergi dari area pemakaman itu. Ditengah jalan Pangeran Segoro pamit untuk pergi, mbah Sastro menyetujui meskipun ia tahu tempat yang akan dituju oleh Pangeran Segoro sangat berbahaya.
"Mau aku temenin opo ora?" tanya Kemal
"Ora." sahut Pangeran Segoro kemudian pergi
"Dia mau kemana mbah?" tanya Kemal masih menatap punggung Pangeran Segoro yang semakin menjauh
"Sudahlah, biarkan saja. Sebaiknya kita pulang sekarang, mungkin dia butuh waktu sendiri." sahut mbah Sastro
__ADS_1
"Kok arahnya kehutan mbah." ucap Kemal lagi yang ternyata sangat jeli
Tanpa menjawab mbah Sastro segera berjalan disusul dengan mbah Bayan, lekas mang Kurdi menarik tangan Kemal yang enggan beranjak.
...****************...
Sementara itu, Pangeran Segoro segera mempercepat langkah kakinya menyusuri jalanan setapak yang sunyi. Tampak rahang Pangeran Segoro mengeras menahan amarah, tangannya juga sedari tadi mengepal erat.
Entah apa yang dipikirkan oleh Pangeran Segoro yang tidak memilih jalan pintas agar cepat sampai, justru ia memilih jalan manual yang menyusuri hutan larangan yang masih jauh.
Hingga akhirnya ia sampai didepan hutan larangan, tampak Nyi Danuwati masih berdiri disana seolah tahu akan ada seseorang yang datang menyambangi kawasan nya.
Tanpa banyak berfikir, Pangeran Segoro dengan mantap melangkahkan kakinya memasuki hutan larangan yang berbeda dengan hutan yang ia susuri tadi. Kini mereka sudah berdiri berhadapan, hanya berjarak selangkah saja.
"Puas!" seru Pangeran Segoro menggelegar membuat burung burung yang tadinya hinggap diatas pohon kini berterbangan
"Wanita keji." umpat Pangeran Segoro tanpa sadar air mata nya luruh juga
Entah perasaan apa yang bergolak didada nya sekarang, marah, rindu, sakit, bercampur menjadi satu. Atau bahkan, perasaan nya kini sudah berubah menjadi benci.
Setelah sekian lama tidak bergerak, kini Nyi Danuwati menunduk tidak mampu menatap mata Pangeran Segoro. Padahal, dari segi ilmu ia lebih tinggi.
"Kenapa harus ibuku, kenapa!" seru Pangeran Segoro berteriak keras membuat pepohonan semakin bergoyang seolah terkena badai
__ADS_1
"Maaf." ucap Nyi Danuwati masih menunduk
"Aku tahu kau kehilangan banyak keluargamu dan itu sangatlah menyakitkan, itu sebabnya kau iri bahkan sangat iri melihat orang orang yang memiliki keluarga sebab itu kau menghabisi ibuku dan melenyapkan para wanita hamil." sahut Pangeran Segoro sangat menusuk hati
Kini Nyi Danuwati mengangkat kepalanya menatap Pangeran Segoro dengan lekat.
"Tapi kenapa harus ibuku!" seru Pangeran Segoro dengan amarah memuncak membuat kekuatan nya keluar lewat amarah Pangeran Segoro membuat Nyi Danuwati mundur beberapa langkah
Nyi Danuwati mundur bukan karena keinginannya, melainkan kekuatan Pangeran Segoro mendorong paksa tubuh Nyi Danuwati.
"Aku tidak membunuh ibumu." ucap Nyi Danuwati
"Tapi kau menyuruh para manusia bedebah itu membunuh orang orang hingga ibuku terkena getahnya." sahut Pangeran Segoro seraya melangkah mendekati Nyi Danuwati dengan kilatan amarah yang terpancar dari matanya
Sementara Nyi Danuwati tidak berniat mundur, ia tetap berdiri tegak ditempat ia berdiri.
"Sekarang pasti kau sudah puas memakan janin itu." ucap Pangeran Segoro yang kini sudah berdiri didepan Nyi Danuwati hanya berjarak beberapa inci saja
"Sangat puas, bahkan saking puasnya aku juga hampir memakan manusia yang kau sebut bedebah itu." sahut Nyi Danuwati dengan sinis seraya mendongak keatas agar bisa melihat wajah Pangeran Segoro karena tinggi Nyi Danuwati hanya sebatas dada Pangeran Segoro saja
Pangeran Segoro menunduk sedikit agar bisa melihat Nyi Danuwati dengan dahi mengerut tidak mengerti.
"Apa maksudmu?" tanya Pangeran Segoro
__ADS_1
Nyi Danuwati hanya menunjuk dengan tatapan matanya, Pangeran Segoro pun mengikuti arah pandangan Nyi Danuwati. Seketika Pangeran Segoro terkejut, namun itu tidak berlangsung lama.
...****************...