
Setelah semua orang yang turut melakukan pemujaan telah pergi, kini Nyi Danuwati diikuti oleh semua penghuni istana segera kembali ke istana goib. Kini istana yang dilihat semua orang sudah tidak ada, hanya hutan gelap yang ditumbuhi pohon-pohon menjulang yang mungkin usia sudah lama.
"Loh kang istana tadi hilang." ucap seseorang salah satu diantara mereka
"Sudah biasa kalau saya mah kang, namanya juga mistis hal seperti itu sudah biasa." sahut yang lain
"Seram juga yo kang."
"Sudah sudah, nanti juga lama lama kamu sudah terbiasa."
Para manusia pemuja setan pun segera pergi meninggalkan area hutan larangan yang paling dikeramatkan dibanding hutan hutan yang lain.
...****************...
Didalam sebuah sel, tepatnya tiga sel karena Nyi Danuwati meminta algojo nya untuk memisahkan mereka namun dengan ruangan sel yang bersebelahan. Tampak senyum sinis yang sedari tadi terus tersungging dari bibir Nyi Danuwati, ia merasa puas melihat para musuh bebuyutan nya seketika terbungkam dengan wajah yang pucat pasi.
"Selamat datang di istana Ratu Nyi Danuwati, senang bertemu kembali dengan kalian." ucap Nyi Danuwati seraya menoleh ketiga ruangan sel dengan tatapan mencemooh
"Beraninya kau tikus kecil!" seru Nyi Warsih dengan penuh amarah
"Hey, jangan pernah berani beraninya kau mengeraskan suaramu di depan ku atau kau akan menerima akibatnya." sahut Nyi Danuwati masih dengan suara lembut mendayu walaupun ia sudah setengah berteriak
"Kau..." ucap Nyi Warsih tidak mampu melanjutkan perkataan nya seraya menunjuk wajah Nyi Danuwati
"Aku sudah ingin melenyapkan mu maka bersiaplah, tapi sebelum itu aku ingin melenyapkan kakek tua ini." sahut Nyi Danuwati seraya menunjuk Ki Ageng dengan tatapan matanya
Ki Ageng yang melihat itu seketika gelagapan, seorang Ki Ageng yang dikenal dengan dukun sakti kini tidak bisa berbuat apa apa. Ilmu yang dimiliki serasa tidak berarti apa apa di istana goib milik Nyi Danuwati, seketika tubuh Ki Ageng bergetar menahan ketakutan.
"Ampuni saya ratu." ucap Ki Ageng yang seketika langsung bersimpuh menghadap Nyi Danuwati melalui dalam sel
"Aku akan mengampuni mu." sahut Nyi Danuwati ramah
"Be...benarkah?" tanya Ki Ageng dengan tatapan berbinar
__ADS_1
"Tentu saja, asal kau bisa membangkitkan seluruh keluarga ku yang sudah kau buat mati dengan santet mu." ucap Nyi Danuwati masih dengan suara lemah gemulai namun dengan tatapan membunuh
Seketika mulut Ki Ageng terkatup rapat, rasa takut seketika mendominasi dirinya. Melihat hal itu Nyi Danuwati tertawa menggelegar, ia suka bila musuhnya memohon ampun disertai wajah penuh ketakutan.
Nyi Danuwati pun bertepuk tangan sekali, seketika lima dari sepuluh pengawal datang menghampiri.
"Bawa pria tua ini kehadapan ku, dan tahan tubuhnya jangan sampai terlepas." ucap Nyi Danuwati memerintah lima algojo nya
"Baik Ratu."
Salah satu diantara mereka pun membuka sel yang diisi oleh Ki Ageng, tanpa rasa iba mereka menyeret tubuh Ki Ageng yang meronta minta dilepas. Setelah berhadapan dengan Nyi Danuwati, kelima pengawal itupun menahan tubuh Ki Ageng.
"Baringkan saja." ucap Nyi Danuwati
"Aaa...Apa yang akan kau lakukan sialan." teriak Ki Ageng yang kelimpungan
Kelima pengawal itupun membaringkan tubuh Ki Ageng, kemudian mereka pun menahan tubuhnya dengan cara ada yang memegang kedua tangan dan kakinya serta bagian kepala. Sementara Nyi Warsih dan Barun, mereka hanya bisa terdiam seraya menyaksikan.
"Bagus, aku akan menarik semua kekuatan mu pria tua." ucap Nyi Danuwati
Tanpa memedulikan Ki Ageng yang terus meronta, Nyi Danuwati segera berjongkok. Kemudian tampak mulutnya komat kamit membaca mantra, setelah itu ia meraba tubuh Ki Ageng dari bawah sampai atas namun tidak dengan menyentuh nya.
Kemudian tangan Nyi Danuwati berhenti dibagian kepala, dengan cepat ia seperti menarik sesuatu dari kepala Ki Ageng. Anehnya Ki Ageng berteriak histeris, padahal tangan mulus Nyi Danuwati tidak sampai menyentuh kepala nya. Jangankan kepala, menyentuh rambut saja tidak kena.
"Arghhh." Ki Ageng berteriak kencang seraya berusaha keras menggeliatkan tubuhnya yang ditahan
Namun Nyi Danuwati tidak merasa terusik oleh teriakan itu, ia terus fokus menarik sesuatu dari kepala Ki Ageng. Hingga tiba tiba muncul sebuah asap yang sangat hitam pekat keluar dari kepala Ki Ageng, melihat itu Nyi Danuwati semakin bersemangat untuk menariknya.
"Arghhh panas, sakit." ucap Ki Ageng berteriak
Sementara Nyi Warsih dan Barun meringis menyaksikan itu.
"Berikan aku wadah." ucap Nyi Danuwati kepada salah satu dari lima orang pengawal yang tersisa yang masih setia berdiri dibelakang ratu mereka
__ADS_1
Seketika salah satu pengawal itu memberikan wadah yang memang sudah dipersiapkan sebelum mereka mendatangi sel, Nyi Danuwati lekas menerima wadah itu dan membuka penutupnya.
Kemudian asap hitam yang bergulung gulung itu ia masukkan kedalam wadah, setelah kepala Ki Ageng tidak mengeluarkan asap lagi segera Nyi Danuwati berpindah ke bagian kaki.
Masih dengan cara yang sama, Nyi Danuwati menarik asap hitam pekat itu dari bagian kaki Ki Ageng. Kini ruangan sel hanya diisi dengan teriakan kesakitan dari Ki Ageng, saking sakitnya bahkan Ki Ageng sampai mengeluarkan air mata.
Setelah sudah tidak ada lagi asap yang keluar, Nyi Danuwati pun kembali memasukkan asap yang bergulung kedalam wadah dan menutupnya rapat. Kemudian ia merapalkan mantra, dan menghembuskan nya kearah wadah itu agar tidak ada yang bisa membukanya termasuk Nyi Danu.
"Selesai, bawa tua bangka ini ke dunia nya yaitu alam manusia. Setelah itu, aku akan mengirimkan mu teluh yang sama seperti yang kau kirimkan kepada keluarga ku. Hanya saja bedanya, teluh ini tidak ada yang bisa menyembuhkan nya sekalipun dukun sakti....
Hanya aku, hanya Ratu Nyi Danuwati yang dapat menyembuhkan nya. Tapi jangan harap, karena aku memang menginginkan mu mati." ucap Nyi Danuwati tersenyum sinis
Tanpa menunggu ucapan Ki Ageng yang sudah melemah, kelima pengawal yang menahan tubuh Ki Ageng segera membawa pria tua itu ke alam manusia.
Sepeninggal kelima algojo dan Ki Ageng, tampak Nyi Danuwati tersenyum puas.
"Sebentar lagi giliran mu, dan kau." ucap Nyi Danuwati seraya menunjuk Nyi Warsih dan Barun
"Sebenarnya aku ingin melenyapkan kalian detik ini juga, hanya saja jika aku melakukan itu maka aku sudah tidak mempunyai bahan mainan lagi nanti." ucap Nyi Danuwati seraya memasang wajah sedih seperti anak balita
"Tidak perlu takut Barun, aku hanya akan mengirimkan mu teluh kembang amben. Tapi tetap saja, sama seperti tua bangka tadi hanya aku yang bisa menyembuhkan." ucap Nyi Danuwati lagi kala melihat raut khawatir dan ketakutan dari wajah Barun
"Tolong ampuni aku Riana." ucap Barun mengiba seraya mengatupkan kedua tangan didepan dada dan bersimpuh
"Sssttt, Riana sudah mati ditangan Nyi Warsih hmmm maksudku ditangan tusuk konde milik Nyi Warsih. Ck ck ck, lihatlah betapa hebatnya Nyi Warsih membunuh Riana....
Kini yang berdiri dihadapan kalian adalah Nyi Danuwati, Ratu Nyi Danuwati junjungan oleh banyak orang hahahaha." ucap Nyi Danuwati seraya tertawa
"Tolong ampuni aku Nyi hiks hiks hiks, kasian istriku." sahut Barun lagi seraya menangis terisak
"Bagaimana bisa aku mempercayai mu hah, anakmu sendiri yang masih belum lahir kau tega menumbalkan hanya untuk kekayaan. Apalagi hanya istrimu, kau sungguh pria berengsek." ucap Nyi Danuwati dengan pandangan yang siap menusuk siapa saja
"Tapi tenang saja, aku akan memulangkan mu besok. Dan setelah itu, pastinya kau langsung menerima teluh yang kukirim." ucap Nyi Danuwati lagi
__ADS_1
"Dan setelah itu, giliran mu wahai muridku." ucap Danuwati seraya menunjuk kearah Nyi Warsih kemudian Nyi Danuwati melenggang pergi diikuti oleh kelima pengawal yang tersisa
...****************...