Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Bertamu


__ADS_3

Pagi hari kembali menyapa, tidak ada nyanyian apapun. Baik burung burung yang berkicauan atau binatang lainnya, bahkan ayam tetangga masih meringkuk dikandang nya.


Suasana dingin terasa luar biasa, angin masih berhembus kencang membawa tetesan air hujan yang baru saja berhenti. Sedangkan langit masih nampak mendung dan gelap, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07:30 pagi.


Semua warga masih bergulung dibalik selimut yang tebal, tidak ada satupun warga yang berani keluar. Sebab dikarenakan cuaca yang sangat dingin, ditambah dengan adanya teror.


Tapi itu tidak berlaku di salah satu rumah yang tampak ramai dengan suara berisik nya memasak dan mandi di sumur yang terletak dibelakang rumah.


"Sudah selesai mbah?" tanya Pangeran Segoro yang melihat mbah Sastro muncul dari balik pintu dapur


"Sudah le, sampean sudah selesai memasak?" tanya mbah Sastro


"Sudah mbah, mari sarapan dulu."


"Iyo, warga juga tampaknya belum ada yang beraktivitas."


"Mungkin karena cuaca mendung dan dingin mbah."


Mbah Sastro hanya manggut manggut seraya berjalan ke ruang tamu dengan membawa piring dan gelas yang masih terbuat dari seng, sementara Pangeran Segoro membawa nasi goreng yang sudah berada didalam wadah dan kendi yang berisi air minum.


Mereka memilih sarapan diruang tamu karena diruang tamu lumayan sedikit hangat dibandingkan didapur yang sangat terasa dinginnya, dengan sigap Pangeran Segoro menuangkan teh dan nasi untuk mbah Sastro.


Tok tok tok


Kala sudah selesai sarapan dan bersantai sejenak diruang tamu terdengar bunyi ketukan pintu, lekas Pangeran Segoro berdiri dan membuka pintu perlahan.


Kriettt

__ADS_1


Pintu terbuka lebar menampakkan seraut wajah manis khas pemuda desa, tampak Kemal tersenyum lebar hingga menampilkan deretan giginya yang membuat Pangeran Segoro mengernyitkan alis.


"Kamu kenapa Mal?" tanya Pangeran Segoro


"Aku ora dipersilahkan masuk?" tanya Kemal


"Ora." sahut Pangeran Segoro seraya merentangkan sebelah tangannya tanda menyuruh Kemal masuk


"Ora tapi dipersilahkan." Kemal menggerutu seraya menaik turunkan bibirnya


Pangeran Segoro hanya tersenyum menanggapi sikap teman masa kecilnya.


"Kamu toh le." ucap mbah Sastro melihat Kemal masuk


"Iyo mbah." sahut Kemal seraya menyalami tangan mbah Sastro


"Kebetulan mbah dan Segoro datang semalam le, untuk memudahkan warga jika terkena teluh." sahut mbah Sastro seraya mengangguk pelan


Hingga waktu merangkak semakin naik, kini waktu sudah menunjukkan pukul 09:10 pagi. Matahari sudah sedari tadi berada diatas awan memancarkan sinarnya yang malu malu, kini para warga telah melakukan aktivitas mereka masing masing.


Dari yang berkebun, atau sengaja ke kebun hanya untuk mencari rumput untuk makan ternak mereka. Ada juga yang berangkat kepasar untuk membeli bahan makanan atau bahkan menjual bahan makanan, bahkan ada juga sebagian warga memilih untuk dirumah.


"Kita keluar yuk Segoro." ucap Kemal jujur dari dalam hati Kemal masih ada rasa geli memanggil temannya dengan nama baru terbukti ia menahan tawa


"Yowes, si mbah pie apa mau ikut dengan kami?" tanya Pangeran Segoro yang melihat mbah Sastro


"Kalian saja le, mbah masih ingin istirahat."

__ADS_1


Pangeran Segoro pun mengangguk lantas segera pergi bersama Kemal, mereka bercerita banyak.


"Apa rumah Riana sudah selesai?" tanya Pangeran Segoro setiap kali datang ke desa memang Pangeran Segoro tidak terlalu memperhatikan


"Sudah, persis seperti dulu." sahut Kemal


"Yowes kalau begitu kita kerumah pakde Kurdi dulu aku ingin menanyakan soal kebun." ucap Pangeran Segoro


"Yowes ayo."


Sungguh Pangeran Segoro masih mengharapkan adanya harapan untuk kembali bersama Nyi Danuwati dan hidup bahagia, ia ingin memastikan semua aset Nyi Danuwati masih utuh untuk dikelola Nyi Danuwati suatu saat nanti.


Sesampainya didepan rumah mang Kurdi pintu rumah mang Kurdi tampak tertutup rapat, namun lampu masih menyala terang. Kemal pun segera maju dan mengetuk pintu, Pangeran Segoro mengekor dibelakang."


Tok tok tok


"Kulo nuwun." ucap Kemal


Tok tok tok


"Kulo nuwun."


Setelah mengetuk pintu berkali kali akhirnya terdengar adanya pergerakan dari dalam, disusul dengan suara pria paruh baya yang serak khas bangun tidur


"Monggo, sebentar." ucap mang Kurdi


...****************...

__ADS_1


__ADS_2