Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Nasib Apes


__ADS_3

Berbeda dengan mbah Sastro, Pangeran Segoro, dan Kemal yang menghadapi Nyi Danuwati dan Nyi Danu dengan perasaan santai meskipun ada rasa was was. Lain halnya dengan mang Kurdi, tampak pria paruh baya itu terlihat kelimpungan.


"Ya Gusti lindungi hamba." ucap mang Kurdi lirih kala mendengar suara bunyi gemerincing


Cring cring cring


Bunyi gemerincing itu semakin terdengar mendekat, alih alih bersembunyi. Mang Kurdi justru terpaku ditempat, tungkai nya seolah lemas tak bertulang.


Kakinya seolah dipaku ditempat hingga tidak bisa digerakkan, mulutnya terasa kelu hingga tidak bisa mengeluarkan suara. Peluh sebesar biji jagung kini memenuhi dahi pria paruh baya itu, ingin rasanya pingsan ditempat saja agar tidak melihat penampakan yang mengerikan namun itu semua tidak terjadi.


'Gusti opo iku?' batin mang Kurdi bertanya tanya


'Lindungi hamba.' batinnya lagi

__ADS_1


Gigi mang Kurdi bahkan saling beradu hingga berbunyi gemelutuk saking takutnya, perlahan tapi pasti kereta kuda yang dikendarai oleh kusir yang berpakaian serba hitam seperti ninja itu semakin mendekat.


Kini mang Kurdi dapat melihat dengan jelas kereta kuda yang tampak megah itu, furniture nya terlihat sangat mewah dan pastinya terbuat dari emas. Dan sekarang kuda besar yang berwarna putih itu tengah melintas didepan mang Kurdi, ingin rasanya berteriak kencang namun mulutnya seolah dikunci.


Dan sekarang, mang Kurdi juga dapat melihat sosok wanita cantik yang sedang duduk manis didalam kursi delman itu. Sosok yang berwajah ayu dengan kulit putih, bersih, dan mulus itu sekilas menoleh kearah mang Kurdi.


Tatapan nya yang tajam seolah menembus ke jantung mang Kurdi hingga membuat jantung nya berdetak tidak karuan, seolah sedang berperang dengan musuh.


Sekilas pandangan mereka juga bertemu, namun dengan cepat ingatan mang Kurdi bekerja dan mengingat ucapan mbah Sastro untuk tidak menatap matanya. Secepat kilat mang Kurdi membuang pandangan nya dan menoleh kebawah, tampak Nyi Danuwati mengangkat sudut bibirnya hingga menyunggingkan senyum sinis.


Fiuhh


"Huh aman." ucapnya pelan

__ADS_1


Mang Kurdi pun berniat untuk melanjutkan perjalanan, namun baru hendak melangkahkan kakinya kini suara gemerincing terdengar lagi.


"Ada apa lagi ini ya Gusti." ucap mang Kurdi hampir berteriak karena frustasi


Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini kesadaran mang Kurdi seolah membara dan secepat kilat ia masuk kedalam semak semak untuk bersembunyi.


Ia tidak ingin mengambil resiko dan membahayakan dirinya, kini dari balik semak semak ia dapat memantau keadaan. Dan benar saja, tidak lama muncul lagi sebuah kereta kuda yang tidak kalah mewah dengan yang baru lewat tadi.


Kuda yang berwarna hitam itu tengah dikendarai oleh kusir yang berpakaian serba hitam seperti sebelumnya, tampak didalamnya tengah duduk dengan anggun sosok wanita cantik dengan penampilan seperti ratu keraton tidak jauh berbeda dengan Nyi Danuwati tadi.


Seolah tahu apa yang sedang mengintai nya, Nyi Danu menoleh kesamping dan menatap lurus ke semak semak. Mang Kurdi yang sedang mengawasi dari balik celah seketika tatapan mereka bertemu, kini tidak lagi keringat. Bahkan, seluruh tubuh mang Kurdi sudah menggigil gemeteran.


Tidak henti hentinya mang Kurdi berdoa dalam hati untuk meminta perlindungan, kini kereta kuda itupun sudah pergi menjauh dari pandangan.

__ADS_1


Kini mang Kurdi terduduk lemas, badannya terasa seperti tidak bertulang. Untuk berdiri saja ia tampak sudah tidak mampu, namun ia tetap memaksakan diri untuk berjalan kerumah nya yang sudah tidak jauh.


"Nasib apes iki." gumam nya


__ADS_2