
Sementara dikediaman mang Kurdi, tampak seorang wanita cantik yang sedang terbaring dengan ketakutan. Ia menenggelamkan wajahnya dibawah bantal, sesekali ia akan berteriak.
"Pergi, jangan ganggu aku." ucap Sekar berteriak
"Pergi." teriak nya lagi
Setelah beberapa menit hening, Sekar memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menoleh kebelakang. Dengan meyakinkan dirinya bahwa tidak akan ada apa apa, pelan pelan ia pun menoleh kebelakang.
"Arghhhhh." Sekar berteriak histeris
Kala sosok pocong berada tepat didepan wajah Sekar, hanya berjarak satu jengkal saja. Wajah pocong yang sangat menyeramkan, dengan kulit wajah yang hitam legam.
Kulit wajahnya juga sudah membusuk dan mengeluarkan banyak hewan yang menjijikkan menggeliat, seperti belatung, cacing, dan banyak lagi.
"Ggrrmmmm." ucap sosok pocong itu mengeram
Kala sosok pocong itu membuka mulutnya seketika bau bangkai busuk serta anyir menguar, Sekar sudah tidak sanggup menghadapi teror ini. Tak terasa air matanya mengalir deras, bahkan perutnya seperti diaduk aduk.
Seketika pocong itu menyeringai tipis, tapi lama kelamaan seringaian itu berubah menjadi sangat lebar hingga mengenai telinganya.
"Arghhhh, jangan ganggu aku pergi!" seru Sekar
Dengan sisa tenaga yang ada, Sekar mencoba menguatkan dirinya. Perlahan tapi pasti, ia segera turun dari kasurnya yang terbuat dari bambu.
Segera ia berlari keluar dari kamarnya dan menuju keluar rumah.
__ADS_1
Kriieettt
Brakkk
Pintu dibuka dan dibanting dengan kencang, Sekar berlari kencang entah kemana yang penting berlari dan jauh dari pocong itu.
"Tolong ada pocong." ucap Sekar berteriak meminta tolong
Beberapa warga yang tidak pergi ke kebun menatap Sekar dengan tatapan aneh, bahkan tidak sedikit dari warga yang bergunjing bahwa Sekar sudah gila.
"Iku anak e Kurdi kan yo, wes gendeng." umpat salah satu warga
"Iyo, padahal masih muda yo." sahut yang lain
"Apa kita tangkap saja yo, nanti malah bikin resah warga." ucap warga yang lain
Semua warga yang berada disitu pun kompak mengangguk, mereka lekas dengan sigap bergerak. Para warga kini sudah mengepung Sekar yang sedang kelimpungan mencari jalan keluar, salah satu warga pun dengan gesit menangkap Sekar.
"Arghhh lepaskan." ucap Sekar berteriak
Namun warga tidak memperdulikan teriakan Sekar, segera beberapa warga kembali membawa Sekar kekamar nya dan mengunci pintu dari luar.
"Aman." ucap para warga dan keluar dari rumah itu
Sementara Sekar semakin gila berada didalam, beberapa kali terdengar teriakan dan lemparan barang barang.
__ADS_1
Sosok pocong itu terus meneror Sekar, hingga Sekar terjatuh pingsan tidak sadarkan diri.
...****************...
Sementara Riana sudah selesai dengan urusannya menemui para petinggi desa, sampai sekarang memang belum ada lurah yang menggantikan untuk memimpin desa.
Riana segera berjalan ingin keluar dari desa Ketang, namun tiba tiba terlintas dipikiran nya untuk melihat keadaan Purwo sosok pria yang pernah menjadi suami Riana yang membawa Riana dalam kehancuran.
Riana menoleh ke segala arah, setelah memastikan tidak ada orang. Riana segera melesat, hingga tidak lama ia sudah sampai di desa Sukar.
"Eh kamu tahu tidak mbak yu, anak mendiang juragan Karno penyakit nya semakin parah loh." ucap ibu ibu yang tidak jauh dari Riana
"Mosok iyo." sahut ibu ibu yang lain
"Iyo, bahkan mereka kabarnya sudah jatuh miskin karena terus menghamburkan uang untuk biaya pengobatan Purwo tapi tidak sembuh sembuh juga. Bahkan, rumahnya itu sudah dijual."
"Terus mereka sekarang ada dimana?"
"Kabarnya sih dikota, mereka kan masih punya rumah dikota ikut sama ibunya disana."
Setelah itu tidak ada perbincangan lagi, ibu ibu itu kini sudah jauh dari Riana yang sedari tadi hanya diam diam mendengarkan.
"Hmmm kasihan juga." gumam Riana pelan
Lekas Riana kembali melesat menuju desa Sumbul, karena percuma ia disini orang yang ia cari sudah tidak ada.
__ADS_1