Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Kekhawatiran Mbok Sri


__ADS_3

Keesokan harinya, sinar pagi sedikit malu malu menampakkan diri. Menyalurkan cahaya disetiap ujung pepohonan, masuk menyelinap kehutan paling gelap.


Riana mendongak keatas menatap langit yang tidak terlalu cerah, kemudian ia segera berjalan pulang. Sesampainya dihalaman rumah, ia merasa janggal.


"Sepertinya kakek tua itu tidak menyerah mencari keberadaan ku." gumam Riana


Riana memang merasakan bahwa ada seseorang yang mencoba mencari tahu keberadaan nya, namun orang itu tidak berhasil menemukan apapun.


"Hmm... Jika ia tahu aku dimana lalu apa yang terjadi." gumam nya lagi


Tiba tiba sosok Buto Ireng muncul dihadapan Riana, kemunculan sosok itu yang tiba tiba membuat Riana terperanjat kaget.


"Kau.." ucap Riana


"Maafkan aku telah menganggu, tapi aku melihat bahwa ada sosok gendoruwo yang sedari tadi mengawasi kita." sahut Buto Ireng dengan suara ganda


"Aku tahu, kau urusi saja dia." ucap Riana kemudian masuk kedalam rumah


Sementara Buto Ireng terlihat sedang bertarung dengan sosok gendoruwo, terdengar suara keras yang memekakkan telinga. Hanya orang orang tertentu atau yang memiliki kemampuan khusus seperti indra keenam, yang mampu melihat dan mendengar pertarungan itu.


Awalnya pertarungan mereka seri, namun buto tetaplah buto yang lebih tinggi kekuatan nya dari gendoruwo dan sejenis nya. Kini gendoruwo itu telah kalah, kemudian menghilang begitu saja.


Tidak lama, disusul buto ireng yang juga menghilang. Sementara didalam rumah, Riana sedari tadi mengintip pertempuran itu.


"Rupanya dia bersungguh sungguh menjadi muridku." gumam nya kemudian berlalu kesumur untuk mandi


Cukup lama ia berendam didalam gentong, tiba tiba terdengar suara ketukan.


Tok tok tok


Karena tempat tinggal Riana sekarang hanyalah gubuk kecil, sebab itu semua suara terdengar hingga kebelakang. Apalagi, ketukan itu cukup keras.


"Siapa ya?" tanya nya pada diri sendiri


Lekas ia menyambar kain jarik yang tergantung didekat nya, setelah membalut tubuhnya ia segera berjalan kedepan melalui samping rumah.

__ADS_1


Terlihat wanita paruh baya mengetuk pintu dengan tergesa gesa, padahal bisa saja ia berjalan melalui samping rumah juga.


"Mbok." ucap Riana


Mendengar suara Riana yang tiba tiba membuat mbok Sri kaget, kemudian ia menoleh kebelakang sembari memegang dadanya yang berdebar kencang.


"Gusti, kamu ngagetin mbok." ucap mbok Sri seraya mendengus kesal


Tanpa menunggu Riana berbicara, mbok Sri segera menarik pergelangan tangan Riana masuk kedalam rumah.


"Ada apa mbok?" tanya Riana setelah mereka duduk ditikar pandan


"Ada berita penting." sahut mbok Sri


Riana mengernyitkan alis bingung, ia menatap mbok Sri dengan penuh tanya.


"Semalam Damar mampir kerumah." ucap mbok Sri


"Terus mbok? bukannya wajar toh, bude kan tinggal disana."


"Aku sudah tahu mbok."


Sontak mbok Sri semakin terkejut.


"Apa mbok lupa aku ini sekarang seperti opo."


Mbok Sri menggeleng pelan.


"Iyo, mbok tahu sekarang kamu punya ilmu hitam."


"Aku tahu mereka semua, dan apa tujuannya. Hanya satu yang aku tidak tahu, yaitu nama dan wajah abang Mahendra. Ternyata namanya Ginanjar, seperti apa wajahnya ya." ucap Riana


Mbok Sri hanya terdiam mematung, bingung hendak bicara apa.


"Ginanjar." desis Riana seraya tersenyum seram

__ADS_1


Bahkan mbok Sri yang melihat senyuman itu seketika bergidik ngeri.


"Lalu bagaimana dengan Sekar nduk?" tanya mbok Sri


"Aku hanya meneror nya sekali mbok, bukan membuat ia gila. Ia menjadi seperti itu karena ketakutan nya sendiri, bahkan ia mengatakan jika dikejar pocong itu karena ketakutan yang ia buat sendiri...


Wong aku hanya meneror sekali, mungkin jika ia meminta maaf pada bude maka ia bisa sembuh." ucap Riana


Mbok Sri hanya manggut manggut membenarkan.


"Yowes, mbok mau pulang."


"Tunggu sebentar mbok."


Riana kemudian berdiri dan masuk kedalam kamar, tidak berselang lama ia kemudian keluar dengan membawa dua benang berwarna merah.


"Itu opo nduk?" tanya mbok Sri


"Pakailah mbok." ucap Riana mengulurkan satu benang merah tanpa memedulikan pertanyaan mbok Sri tadi


Tanpa banyak bertanya, mbok Sri segera memakai benang itu dengan cara mengikat nya di salah satu pergelangan tangan.


"Jangan dilepas mbok, terus pakai walaupun sedang mandi. Entah mengapa, aku merasa bahwa Ki Ageng akan memburu orang orang yang aku sayangi...


Itu sebuah jimat perlindungan, walaupun begitu mbok Sri dan bude harus berdoa toh. Jangan terlalu bergantung pada benang itu, dan ini berikan pada bude Ratna." ucap Riana seraya memberikan satu benang lagi


Mbok Sri mengangguk seraya menerima benang itu, terlihat dari raut wajahnya terpancar khawatir.


"Kamu harus jaga diri yo, mbok tidak main main jika kamu mati meninggalkan mbok maka mbok juga akan menyusul." ucap mbok Sri


Sontak perkataan mbok Sri itu membuat Riana terpaku, mulutnya terasa kelu. Ia hanya bisa mengangguk sebagai tanggapan, mbok Sri kemudian berpamitan.


Mbok Sri sudah menawarkan untuk memasak dulu, namun Riana menolak. Kini, mbok Sri sudah pergi meninggalkan Riana yang menatap punggung wanita paruh baya itu dengan tatapan nanar.


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi mbok, aku juga berharap untuk hidup. Namun jika itu tidak tersampai, maka ikhlaskan lah." gumam Riana

__ADS_1


__ADS_2