
Tidak terasa matahari pagi datang terlalu cepat, namun aku masih setia dikasur ini. Aku masih memikirkan mas Damar bersama perempuan yang lain semalam, aku bingung dengan diriku sendiri.
'Arghhh tidak seharusnya aku seperti ini.' batinku
Aku mencengkram erat kasur sehingga tangan ku sudah kemerahan dan mengeluarkan urat urat, tiba tiba terdengar ketukan pintu.
Tok tok tok
"Nduk kamu makan dulu nggeh, ini sudah hampir siang." ucap mbok Sri
Aku hanya diam tak bergeming, bahkan bergerak sedikit saja aku malas aku sudah bagaikan patung pajangan disini.
Tok tok tok
"Ingat nduk, kamu hidup karena harus membalaskan dendam mu. Jangan menyakiti dirimu seperti ini, atau para bede*ah itu akan bahagia." ucap mbok Sri memperingati
Tidak terasa kelopak mataku bergerak, benar apa kata mbok. Untuk apa aku terus memikirkan Damar itu akan melukai kami berdua, lebih baik aku fokus ke dendam ku yang sudah membara.
Aku bangkit dari kasur yang terbuat dari papan ini, aku berjalan dan membuka pintu.
Kriieeettt
Pintu terbuka menampilkan wajah mbok Sri yang sedang dilanda khawatir, seraya memegang nampan yang berisi makanan dan wedang jahe.
__ADS_1
Ia tersenyum ke arah ku kala melihatku berada didepan pintu, aku hanya menatap nya kosong namun mataku sudah berkaca kaca. Tanpa aba aba mbok Sri langsung memeluk ku dengan sebelah tangannya, seraya mengusap punggung ku.
Tidak terasa akupun menumpahkan semua tangisan yang sudah aku tahan sedari tadi, puas menangis mbok Sri pun melepaskan pelukan nya dan menyuruhku makan.
"Wess kamu makan dulu toh, ini sudah hampir siang." ucap mbok Sri seraya memberikan nampan kepadaku
Aku hanya mengangguk, dan menerima nampan dari tangan mbok Sri. Aku membawa nya di kursi ruang tamu, setelah duduk aku pun menghabiskan makanan ku.
Mbok Sri pun datang menghampiri ku, untuk sejenak kami hanya terdiam dengan pikiran masing masing sebelum akhirnya aku membuka suara.
"Mbok, emmm sepertinya aku akan kembali ke kediaman juragan Karno dalam waktu dekat apalagi aku sudah menghabisi semua antek nya." ucapku
Untuk sesaat mbok Sri hanya terdiam, kemudian ia menghembuskan nafas kasar.
"Baiklah jika itu yang menurut mu terbaik nduk, mbok hanya bisa mendoakan kamu saja." sahut mbok Sri dengan lesu
"Yasudah mbok mau kebelakang dulu, masih banyak pekerjaan mbok." ucap mbok setelah sekian menit hanya hening
"Nggeh." sahutku
Setelah mbok Sri berlalu ke dapur aku berniat untuk mencari tau dukun yang sudah mengirim teluh ke keluarga ku, beserta siapa yang menyuruhnya.
Lekas aku masuk kedalam kamar ku yang remang remang karna lampunya sudah ku padamkan dari semalam, semenjak kejadian itu aku sangat menyukai kegelapan.
__ADS_1
Setelah mempersiapkan peralatan ritual ku, lekas aku duduk bersila dan membakar dupa. Setelah asap kemenyan menguar dan memasukkan beberapa kembang tujuh rupa, lekas aku memejamkan mataku dan mulai menerawang.
Namun cukup susah, sepertinya memang benar dukun ini bukan dukun sembarangan. Hingga untuk yang kesekian kali, akhirnya aku berhasil menembus nya.
Seorang pria sepuh, rambut yang sudah memutih namun masih terlihat kuat. Dengan memakai pakaian serba hitam, dan pengikat kepala yang hitam juga.
Aku berusaha untuk menembus siapa yang menyuruhnya, namun sangat susah. Baiklah, ini saja dulu.
"Ki Ageng." desisku seraya tersenyum miring
Aku memang sempat melihat dan mendengar bahwa orang yang menyuruhnya memanggil nya Ki Ageng, walaupun aku tidak bisa melihat jelas siapa yang menyuruhnya hanya buram.
"Baiklah, sebentar lagi permainan yang sesungguhnya akan dimulai." gumamku sinis
Untuk sekarang aku fokus untuk memasuki kediaman juragan Karno dulu, aku berniat membuat mereka hancur sehingga mereka sendiri yang meminta mati.
Lekas aku berdiri dan membereskan peralatan ritual ku, setelah menyimpan nya ditempat semula aku membaringkan tubuhku sejenak dikasur.
Aku berbaring seraya memikirkan sebuah rencana, aku sibuk dengan pikiran ku yang menyusun rencana.
Setelah memikirkan sebuah rencana, dan menyusun nya dengan matang aku pun tersenyum sinis.
"Kehancuran kalian akan dimulai." gumamku
__ADS_1
Dulu karna aku mengira orang orang menganggap ku sudah mati itu sebab nya aku mengubah jati diriku, namun sekarang tidak perlu.
"Bersiaplah para musuhku, karena Riana Kusumani Paramona akan membalas kalian semua dengan cara menyakitkan." gumamku pelan