Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Mengirim Santet


__ADS_3

POV Purwo


Hari hari telah berlalu, tidak terasa lima hari sudah dilalui dengan begitu begitu saja. Selama lima hari ini, sudah banyak lelaki yang datang untuk melamar Riana.


Aku sudah muak, seakan akan mereka semua tidak tahu bahwa aku masih suaminya. Aku membenci setiap lelaki atau keluarga yang datang untuk melamar nya, walaupun aku tidak pernah mencintainya tetap saja aku tidak mau jika ada orang lain yang menginginkan nya.


Hari ini aku putuskan untuk mendatangi Ki Geni agar ia membuat wajah Riana hancur, karena kecantikan yang dia miliki banyak lelaki dari semua kalangan yang datang.


Aku tidak sempat menemui Ki Geni waktu itu, jadi aku putuskan saja untuk datang sekarang. Lekas aku bersiap siap, setelah selesai aku keluar kamar.


"Mbok." ucapku berteriak


Mendengar teriakan ku yang menggelegar, seketika mbok Asih lari tergopoh gopoh.


"Ada apa tuan?" tanya mbok Asih setelah sampai di depan ku


"Suruh Harjo untuk bersiap siap mbok, dan siapkan kuda kami akan pergi setelah aku selesai sarapan."


"Baik tuan."


Mbok Asih pun lekas berlari menemui Harjo didepan, sepeninggal mbok Asih aku lekas ke dapur untuk makan. Disana aku melihat Riana sudah menyiapkan makanan, aku hanya menatapnya sekilas.


Setiap kali aku menatap wajahnya, rasanya ingin aku siram pakai air panas. Bahkan aku sering sekali memukuli wajahnya jika ia berbuat kesalahan sedikit saja, berharap agar wajahnya yang cantik itu bisa hancur.


"Setelah aku pergi nanti, jangan sekali kali kamu menemui para lelaki mata keranjang itu." ucapku pada Riana dengan tatapan mengintimidasi


"Iya mas." sahutnya dengan menunduk


Aku lekas menyelesaikan sarapan ku hingga habis, setelah itu bergegas aku keluar menemui Harjo dan beberapa anak buah nya.


"Sudah siap semua?" tanya ku pada Harjo


"Sudah tuan."


"Ayo berangkat."


Kami pun segera menunggangi kuda dan berjalan kearah desa Ketang, sesampainya di gapura desa kami segera beralih belok kiri untuk menuju ke bukit.


Kami menyusuri jalan yang lambab, dan semak semak yang setinggi lutut. Perjalanan kali ini sangat lancar, tidak seperti waktu itu banyak sekali hambatan makhluk tak kasat mata.

__ADS_1


Setelah cukup jauh menunggangi kuda, akhirnya kami sampai didepan sebuah gubuk. Lekas kami turun dari atas kuda dan berjalan kearah gubuk itu, seperti waktu itu tiba tiba saja pintunya terbuka lebar seolah menyambut kedatangan kami.


Aku memberanikan diri untuk memasuki gubuk itu, entah mengapa tiba tiba semua bulu di sekujur tubuhku meremang. Setelah aku berada didalam, tiba tiba.


Brakkk


Pintunya tertutup rapat, aku sangat terkejut namun aku tetap memberanikan diri. Karna, waktu itu juga aku pernah datang kesini.


"Ada apalagi kau mendatangi gubukku." tiba tiba saja dari arah dalam sebuah ruangan ada suara berat


"Ki." ucapku lirih karena nyaliku tiba tiba menciut


"Kemari." ucap Ki Geni


Lekas aku memasuki sebuah ruangan yang mirip dengan kamar kecil, aku melihat Ki Geni duduk didepan sebuah meja yang berisi media ritual nya.


Segera aku duduk didepan Ki Geni yang terhalang oleh meja, aku berusaha menoleh ke sembarang arah. Karena, aku tidak berani menatap wajah Ki Geni yang seram dengan mata melotot.


"Ada keperluan apa kau kesini." ucapnya


"Em.. Sa...saya ingin mencelakai seseorang Ki." sahutku


"Hahahahahahah." seketika tawa Ki Geni menggelegar keseluruh penjuru ruangan


Seketika aku tersenyum lebar, aku merasa akan berhasil mencelakai Riana.


"Katakan, siapa yang ingin kau celakai."


"Riana."


"Perempuan?" tanya Ki Geni


Aku hanya mengangguk pelan.


"Hahahahah." tawa Ki Geni semakin kencang


"Apakah bisa Ki?" tanyaku was was


"Bisa." sahut Ki Geni dengan senyum tersungging

__ADS_1


"Katakan nama panjang nya, dan apa wetonnya."


"Ariana Kusumani Pramona, weton rabu legi Ki."


"Hmmm." seketika Ki Geni hanya mengangguk anggukan kepala nya seraya tersenyum licik


"Apa yang ingin kau lakukan padanya." ucap Ki Geni lagi


"Aku ingin wajahnya hancur Ki." sahutku seraya tersenyum smirk


Ki Geni hanya menatapku dan tersenyum licik, seolah kami satu pemikiran.


"Riana, rasakan itu." batinku


Lekas Ki Geni menyiapkan satu kendi kosong, dan memasukan beberapa sasajen seperti kemenyan, beberapa kembang melati, dan kamboja.


Setelah itu, ia membakar dupa hingga megepulkan asap dupa yang sangat banyak hampir memenuhi ruangan ini. Aroma dupa pun menguar tajam, sampai sampai aku harus menahan nafas.


Ki Geni kemudian memejamkan mata, dan mulutnya komat kamit entah mengatakan apa. Hingga beberapa menit kemudian, Ki Geni terlihat bergerak kekiri dan ke kanan, terkadang seperti menangkis sebuah serangan.


Hingga tiba tiba.


Blaarrrr


Kendi yang berisi sasajen pecah, bahkan pecahan nya sedikit mengenai wajahku. Bersamaan dengan pecahnya kendi itu, tubuh Ki Geni juga terpental kebelakang hingga dari dalam mulutnya mengeluarkan darah segar.


Mata Ki Geni melotot keatas, bahkan dadanya naik turun seperti kesulitan bernafas. Aku segera berdiri dan membantu Ki Geni, segera aku mendudukkan Ki Ganti dan memberinya minum yang tersedia diatas meja kecil.


"Ada apa Ki?" tanyaku cemas aku tidak mencemaskan Ki Geni, namun santet nya berhasil atau tidak.


"Pergi." ucap Ki Geni menggelegar


Aku terkejut dengan respon Ki Geni, bukankah tadi ia yang paling semangat.


"Ada apa ini Ki, mengapa Ki Geni mengusirku? Apa santetnya berhasil." ucapku


"Pergi, dan jangan pernah datang lagi kesini." ucap Ki Geni dengan nada tinggi serta mata melotot bahkan hampir keluar.


Aku tidak mengerti apa yang terjadi, melihat Ki Geni marah besar aku segera pergi dari gubuk reot ini. Aku tidak akan pernah menginjakan kaki kesini lagi, dasar dukun abal abal.

__ADS_1


Akhirnya aku beserta anak buahku meninggalkan tempat ini dalam keadaan kecewa, dianya saja yang dukun abal abal tapi malah menyalahkan ku.


...****************...


__ADS_2