Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Nyi Warsih


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah matahari terbenam aku lekas pergi kehutan keramat. Karna jarak kesana lumayan jauh, jadi aku harus bergerak dari sekarang.


"Mbok, aku pamit dulu njih." ucapku datar pada mbok Sri


Entahlah, sejak kejadian itu aku lupa bagaimana cara tersenyum. Rasanya, setelah semua yang terjadi menimpaku sangat menyakitkan jika aku tersenyum.


"Nggeh nduk, kamu hati hati yo." ucap mbok Sri cemas


"Nggeh mbok." sahutku seraya pergi menuju hutan keramat


(Iya mbo.")


Setelah malam semakin larut, akhirnya aku sampai juga dihutan keramat. Situasi disini sangat hening, tidak ada suara apapun. Ditengah hutan aku melihat sebuah batu besar yang berwarna hitam pekat. Lekas aku menghampiri batu itu, dan duduk di atas nya.


Aku duduk bersila dengan melipat kaki, tangan aku letakkan dikedua paha. Aku mulai untuk bersemedi, aku merasakan begitu banyak pasang mata yang mengintai.


Aku tetep fokus, tidak memedulikan gangguan apapun yang berusaha untuk menganggu ku. Setelah sekian lama bersemedi, aku mulai merasakan semilir angin yang berhembus kencang.


Hawa dingin menyergap menusuk tulang, tapi aku tetap fokus. Hingga aku merasakan sebuah tangan yang dingin menepuk pundak ku, perlahan aku membuka mata.


Dapat aku lihat seorang perempuan yang sangat cantik, dengan rambut lurus panjang hingga bokong tergerai dengan memakai mahkota. Dengan kulit putih mulus dan bersih, hidung mancung, alis dan bulu mata tebal, bibir yang dipoles berwarna merah darah.


"Aku Nyi Warsih penunggu hutan keramat ini, apa yang kamu inginkan cah ayu?" tanya nya


Suara nya yang lembut mendayu, namun sangat menyeramkan.


"Sugeng dalu Nyi, saya datang kesini atas arahan keris Nogososro." sahutku menunduk

__ADS_1


(Selamat malam nyi)


"Apakah kamu pemilik keris itu?" tanya nya


"Nggeh Nyi." sahutku


"Aku mengerti cah ayu, baiklah aku akan memberikan sebagian kekuatanku padamu." ucapnya tersenyum


"Terimakasih Nyi." ucapku mendongak seraya tersenyum


"Tapi apakah kau tau cara memakai keris itu cah ayu?" tanya nya


(Cah ayu/ anak cantik)


Aku diam tak bergeming, karna aku memegang keris itu saja masih kemarin.


"Nggeh Nyi, saya mengerti. Tapi, apakah darah yang saya berikan darah khusus?" tanyaku


"Tidak harus cah ayu, kau bisa memberikan ia darah musuhmu. Jika tidak ada, kau bisa memberikan darah ayam cemani, atau teteskan saja darahmu pada keris itu sebanyak tiga tetes." ucapnya


"Baik Nyi, saya mengerti." ucapku


"Baiklah, sekarang kamu berbalik aku akan memberikan kekuatan ku." ucapnya


Aku lekas berbalik kelain arah membelakangi nya, dengan duduk bersila aku mulai memejamkan mata. Aku mulai bisa merasakan ada hawa panas yang menusuk tubuhku, tidak berselang lama tubuhku bergetar menerima kekuatan itu.


"Tahan cah ayu." ucapnya

__ADS_1


Aku hanya bisa mengangguk, aku sudah tidak sanggup bicara kala hawa panas itu semakin panas menusuk. Aku dapat melihat di sekujur tubuhku sudah memerah karna rasa panas ini, tapi aku tetap harus bertahan demi menumpaskan musuhku.


Tidak berselang lama, hawa dingin sedingin air es yang berada di kutub menjalari tubuhku. Aku sampai menggigil, tapi aku masih bertahan.


Hingga tak lama kemudian, akhirnya selesai juga. Aku dapat merasakan tubuhku sudah tidak sakit justru jauh lebih baik, aku pun berbalik badan menghadap Nyi Warsih.


"Kamu sudah memiliki sebagian kekuatan ku cah ayu, tapi itu tidak akan berarti jika kau masih memiliki hati nurani. Kau harus mengubah hatimu yang semula putih menjadi hitam, apakah kau mengerti maksud ku cah ayu?" ucapnya


"Nggeh Nyi, saya mengerti." sahutku


"Apakah kamu tau cara merogoh sukmo?" tanya nya


Aku mengernyitkan alis bingung.


"Kau harus bisa cah ayu, dapat aku lihat musuh mu bukan orang yang mudah dikalahkan." ucapnya


"Bagaimana caranya Nyi?" tanyaku


"Aku akan mengajari mu." ucapnya seraya tersenyum


Nyi Warsih pun mulai memberi arahan, hingga setelah sekian lama aku dapat melakukan Rogoh Sukmo dengan mudah.


"Kamu sudah bisa cah ayu, baiklah aku harus pergi." ucapnya


"Terimakasih Nyi." ucapku


Ia hanya membalas dengan tersenyum kemudian ia pun pergi, tak ingin membuang waktu akupun pulang. Karna mbok Sri pasti khawatir, aku pun berlari kencang hingga orang awam yang melihat pasti akan mengira cuma sekelebat angin ini semua berkat kekuatan ku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2