
Keesokan paginya, setelah sarapan pagi bersama. Damar mengajak Riana untuk berbicara berdua, semenjak Ratna ibunya tinggal disini Damar memang sudah jarang pulang.
Itu atas permintaan ibunya sendiri, kini mereka berdua sudah duduk diruang tamu.
"Kamu ingin bicarakan apa Damar?" tanya Riana
"Aku hanya ingin bertanya." sahut Damar
Riana hanya terdiam menunggu Damar untuk menanyakan apa, dengan wajah datar.
"Emm... Kamu ada hubungan apa dengan Mahendra?" tanya Damar
"Tidak ada." sahut Riana singkat
"Lalu mengapa kalian sangat dekat sekali." ucap Damar
"Jangan tanyakan sesuatu yang akan membuatmu sakit Damar." sahut Riana seraya menatap lekat mata Damar
"Baiklah." ucap Damar menunduk
"Apa kebun sudah selesai dipanen? Aku ingin pembangunan rumah segera dilakukan." ucap Riana mengalihkan topik
"Besok sudah selesai, kemungkinan lusa kami akan bergerak untuk melakukan pembangunan itu." sahut Damar
"Baguslah, hari ini aku ikut denganmu ke desa Ketang. Aku ingin menemui beberapa petinggi desa agar mereka mempercayai aku masih hidup, dengan begitu pembangunan itu lebih mudah dilakukan. Karena, setelah itu aku ingin pergi menyendiri." ucap Riana di kalimat terakhir ia menunduk sendu
Deg
Dada Damar tiba tiba berdetak kencang, ia tidak rela jika Riana pergi lagi.
"Kemana? Mengapa harus pergi? Atau, kamu tidak nyaman dengan keberadaan kami? Tidak apa Riana, Asal kamu tidak pergi. Aku, aku tidak bisa jika kehilangan kamu lagi." tanya Damar beruntun
__ADS_1
Riana dengan cepat menggeleng.
"Ini tidak ada kaitannya dengan kamu ataupun bude Damar, aku ingin pergi untuk mengasah dan menambah kekuatan ku."
Damar memang sudah tahu jika Riana memiliki ilmu hitam, Riana sudah menceritakan semunya diwaktu pertemuan pertama mereka setelah pengejaran pria berjubah hitam.
"Kenapa harus pergi Riana?
"Tempat ini tidak cocok untukku Damar, aku membutuhkan tempat yang tenang, sunyi, dan gelap." ucap Riana lirih
"Boleh aku tahu dimana?"
Riana hanya menggeleng pelan, tampak Damar menghembuskan nafas sangat dalam.
"Baiklah, kamu jaga diri baik baik." ucap Riana
"Iya Damar."
Setelah perbincangan yang panjang, kini Damar dengan membonceng Riana segera pergi kedesa Ketang. Setelah beberapa jam, kini mereka sampai di gapura desa Ketang.
Lekas Damar mengantar Riana kerumah milik salah satu petinggi desa, setelah itu Riana meminta Damar untuk pergi saja. Dengan berat hati, Damar mengayuh sepedanya menuju kebun milik keluarga Riana.
Sesampainya di kebun, Damar dikejutkan dengan Mang Kurdi yang terlihat menangis meski tidak mengeluarkan suara tangisan.
Damar segera menghampiri mang Kurdi, setelah berada didekat mang Kurdi Damar pun bertanya.
"Ada apa mang?" tanya Damar
Mang Kurdi yang tidak menyadari keberadaan Damar seketika terlonjak kaget, spontan ia memegang dadanya yang terkejut.
"Huss, nak Damar ngagetin saja toh."
__ADS_1
Namun Damar tidak memperdulikan ucapan mang Kurdi yang dianggap hanya untuk mengalihkan pembicaraan saja, Damar tetap mendesak mang Kurdi untuk menjawab.
"Apa yang terjadi mang? Mang Kurdi sakit?" tanya Damar
Mang Kurdi hanya menggeleng pelan, berasa tidak ada tempat lain untuk bercerita. Mang Kurdi pun memutuskan untuk bercerita pada Damar, mengenai kondisi putrinya.
"Sekar."ucap mang Kurdi yang kini terisak
"Sekar kenapa mang?" tanya Damar menautkan kedua alis bingung
"Entah apa yang terjadi, kini Sekar depresi berat mungkin saja ia sudah gila. Setiap hari ia hanya ketakutan dan berteriak, tidak lama kemudian ia menangis dan tertawa hiks hikss." ucap mang Kurdi menangis histeris
Untuk beberapa detik Damar tertegun, ia memang sudah tahu dari Riana jika Riana mencoba untuk meneror Sekar. Serta mengapa tiba tiba ibunya Damar lupa pun Riana menjelaskan, namun Damar tidak mengira jika hal ini membuat Sekar gila.
'Kasihan juga mang Kurdi.' batin Damar
'Aku harus memberitahu Riana.' batinnya lagi
"Mengapa bisa mang?" tanya Damar mencari tahu apakah Sekar memberi tahu bapaknya
Namun mang Kurdi hanya menggeleng pelan, berarti Sekar tidak mengatakan apapun.
"Jika mang Kurdi mau pulang silahkan saja, kemungkinan nanti sore setelah urusan kebun selesai saya akan datang menjenguk." ucap Damar
"Tidak, biarkan mamang bekerja saja. Dengan begitu, saya bisa membawa Sekar berobat." sahut mang Kurdi cepat
Memang semua pekerja dikebun ini pastinya diberi upah, walaupun dulu pemilik kebun ini sudah meninggal tapi Damar tetap memberi upah dengan uang hasil kebun ini sesuai dengan amanat bapaknya Riana.
"Yasudah, tapi jika mang Kurdi ingin pulang silahkan saja yo." ucap Damar
"Njih nak Damar."
__ADS_1
Mereka pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka, hasil panen kali ini lumayan melimpah membuat mereka harus ekstra keras agar selesai besok. Karena, mereka juga harus melakukan pembangunan ulang rumah milik keluarga Pramono dulu.