
Selama diperjalanan menuju rumah Basuki, Mahendra, Kemal, dan mang Kurdi membahas tentang kesembuhan mbah Bayan yang mendadak.
"Jadi mbah Bayan sudah sembuh pakde?" tanya Mahendra kepada mang Kurdi
"Iyo le, aneh toh? Padahal baru semalam memburuk eh besok pagi nya sudah membaik." sahut mang Kurdi
"Memangnya mbah Bayan tidak menceritakan apapun?" tanya Mahendra
"Tidak ada le." sahut mang Kurdi
Mahendra kemudian manggut manggut, sementara Kemal sedari tadi hanya diam menyimak. Hingga sesampainya mereka dipekarangan Basuki, mereka sudah disuguhkan oleh pemandangan warga yang sudah ramai ingin menyaksikan secara langsung apa yang terjadi.
"Nyuwun pangapunten, tolong berikan kami jalan kang, mbakyu." ucap mang Kurdi
(Permisi)
Seketika beberapa warga yang tadi berdempetan segera menyingkir untuk memberi ruang kepada mang Kurdi dan rombongan, mang Kurdi beserta Mahendra dan Kemal seketika berjalan memasuki rumah almarhum Basuki.
Sesampainya mereka di pintu masuk, mereka dikejutkan dengan mbah Bayan yang sudah terlebih dahulu datang. Dan sekarang pria sepuh itu kini duduk disamping tubuh Basuki yang sudah terbujur kaku, tampak dari raut wajahnya bahwa mbah Bayan sedang berfikir keras.
"Loh mbah, jenengan ternyata sudah terlebih dulu toh." ucap mang Kurdi seraya menyalami tangan mbah Bayan
Begitu juga dengan Mahendra dan Kemal, mereka berdua juga ikut menyalami dan mencium punggung tangan mbah Bayan.
"Iyo, begitu dengar dari warga saya langsung kesini." sahut mbah Bayan
Mang Kurdi hanya manggut manggut, kini mereka melihat kondisi jenazah Basuki. Tampak raut wajah mang Kurdi serta Mahendra dan Kemal terbelalak kaget, bahkan Kemal ingin muntah namun ia harus menahan nya sekuat yang ia bisa.
"Mbah..." ucap mang Kurdi yang tidak mampu meneruskan ucapannya
Mbah Bayan yang seolah mengerti apa yang didalam pikiran mang Kurdi segera mengangguk pelan, tampak kondisi jasad Basuki sangat mengenaskan. Dengan luka diperut seperti disayat sesuatu kini menganga dan mengeluarkan aroma anyir busuk, serta dari dalam perut itu keluar hewan menjijikkan yang menggeliat.
Wajah Basuki juga tidak kalah mengerikan, wajahnya sudah hancur seperti kena sayatan memanjang. Tidak hanya satu atau dua sayatan, melainkan lebih dan menyebabkan wajahnya sudah hancur parah.
"Astagfirullah innalillahi, bagaimana bisa seperti ini mbah?" tanya mang Kurdi dengan suara bergetar
"Entahlah, menurut pengakuan salah satu warga ia sedang berangkat ke sawah untuk panen kebunnya. Namun baru ditengah jalan ia melihat sesuatu yang aneh, awalnya ia merasa tidak perduli karena yang pertama ia lihat hanyalah warna baju yang dikenakan Basuki terakhir kali...
__ADS_1
Namun ia merasa penasaran, hingga ia memperhatikan lebih lama lagi hingga ia melihat seperti sosok tubuh manusia. Awalnya ia merasa halusinasi, hingga ia memutuskan untuk menghampiri ternyata memang sosok tubuh manusia." sahut mbah Bayan menjelaskan
"Siapa yang tega melakukan ini yo, padahal Basuki sudah yatim piatu." ucap mang Kurdi lirih
Namun mbah Bayan hanya menggeleng pelan, hingga acara pemakaman pun dilakukan. Pemakaman berlangsung dengan lancar, beberapa warga yang ikut turut merasakan kesedihan dan kengerian.
"Lama lama desa ini menjadi aneh yo." ucap salah satu warga kala sedang berjalan pulang dari area pemakaman
"Iyo kang, selalu saja ada masalah yang bermunculan. Belum selesai masalah satu, datang lagi masalah baru." sahut yang lain
"Emoh lah kang mumet aku, belum lagi ternak yang bermatian semua. Bayi serta janin hilang, ditambah lagi satu persatu warga meninggal. Aku yo kasihan lihat si Minah, baru kemarin mereka kehilangan janin eh besoknya suaminya yang menghilang." ucap yang lain menimpali
Sementara mbah Bayan yang memang berjalan didekat mereka mendengar semua apa yang warga ucapkan, pria sepuh itu hanya bisa diam terpaku.
'Apa ini semua ulah Nyi Danuwati.' batin mbah Bayan
'Siapapun yang menyebut namaku akan mati.' tiba tiba terdengar suara sosok wanita yang lembut mendayu menyahut
Seketika mbah Bayan terkejut, kemudian ia menoleh kesana kemari untuk mencari asal suara itu.
"Nyari opo mbah?" tanya mang Kurdi yang memperhatikan mbah Bayan celingak celinguk
'Mbah Bayan kok semenjak sembuh menjadi aneh yo.' batin mang Kurdi seraya menggaruk kepala yang tidak gatal
...****************...
Sementara di istana goib milik Ratu Nyi Danuwati, tampak wanita cantik itu berjalan dengan anggun dan diikuti oleh sepuluh pengawal nya. Ia ingin membebaskan Barun sekarang, tentunya tidak akan mudah. Setelah Barun bebas, ia akan menjadi kembang amben dan meninggal setelah empat puluh hari.
"Hey manusia serakah, senang bertemu denganmu kembali." ucap Nyi Danuwati dengan suara yang lemah gemulai tepat didepan sel milik Barun
Ia tidak berniat melihat Nyi Warsih, sementara Nyi Warsih yang melihat kedatangan Nyi Danuwati seketika merasa was was.
"Sebelumnya aku akan meminta maaf, karena aku membebaskan mu tidak tepat waktu. Jadinya, kau tidak bisa melihat kematian temanmu yang mengenaskan itu." ucap Nyi Danuwati lagi masih dengan suara lembut mendayu namun senyum sinis terpatri di bibirnya
Mendengar kematian temannya seketika Barun yang sedari tadi tidak memperhatikan Nyi Danuwati kini mendongak.
"Apa maksudmu, te...teman siapa?" ucap Barun berteriak
__ADS_1
"Basuki."
Deg
Satu kalimat itu mampu membuat perasaan Barun kian berkecamuk ketakutan, ia merasa tidak tenang.
"Tidak perlu membuang air matamu disini, pergi dan menangislah sepuasnya ditanah gundukan milik temanmu itu." ucap Nyi Danuwati dengan wajah datar dan dingin tanpa ekspresi
"Hmmm sebenarnya kau tidak harus melakukan itu, karena sebentar lagi kalian akan bertemu di alam baka." ucap Nyi Danuwati sinis
"To...tolong ampuni aku Nyi hiks hiks." ucap Barun
Sungguh perasaan Barun sangat ketakutan, lebih tepatnya takut mati. Namun Nyi Danuwati yang memang sudah dikuasai kegelapan, amarah, dendam, dan benci tidak perduli.
Ia memerintahkan pengawalnya untuk melepaskan Barun dan melemparnya ke alam manusia, setelah memerintahkan pengawalnya Nyi Danuwati segera pergi. Namun, baru dua langkah ia berjalan seketika berhenti dan menoleh kearah Barun.
"Siap siap menerima teluh dariku, teluh pelesit matimang dan tidak ada yang bisa menyembuhkan mu selain aku hahahaha." ucap Nyi Danuwati disusul dengan tawa menggelegar
Kemudian wanita cantik yang dipenuhi kebencian itu segera pergi menuju singgasana nya dan duduk dengan anggun di kursi kebesaran nya, tampak senyum itu selalu terlukis dibibir Nyi Danuwati.
"Sepertinya kau sangat senang ratu." ucap Buto Ireng sosok murid kesayangan yang dikirim Nyi Danu untuk menemani Nyi Danuwati kala masih menjadi Riana
Seketika senyum Nyi Danuwati semakin mengembang, ia memang merasa sangat bahagia setelah menyiksa seseorang.
Sepeninggal Nyi Danuwati, para pengawal itu segera membuka sel yang dihuni Barun. Kemudian, mereka menyeret tubuh Barun yang meronta ronta.
"Lepaskan aku, lepas." teriak Barun seraya menggeliat agar bisa terlepas
Namun percuma, karena semua penghuni istana baik danyang sari atau pengawal memiliki sedikit kekuatan. Lagipula mereka ini sudah menjadi demit, dan tenaga demit memang jauh lebih besar dari manusia.
"Le...lepas." teriak Barun
Namun pengawal itu tidak merasa terusik, ia segera membawa tubuh Barun keluar dari istana dan berjalan hingga sedikit jauh. Sampai mereka melihat sebuah kabut seperti asap hitam, segera dilemparnya tubuh Barun kedalam asap itu.
"Sudah ayo." ucap salah satu pengawal itu dan disetujui oleh yang lain
Kemudian pengawal itu masuk kembali ke dalam istana dan menemani ratu mereka.
__ADS_1
...****************...