
Masih di malam yang sama, diatas bukit paling ujung di utara seorang kakek tua dengan wajah yang menyeramkan kini sedang dilanda amarah.
Blarrrr
Seperti suara petir menggelegar menghantam atap rumahnya, sontak ia yang tadinya membaca mantra kini terhenti.
"Sial." ucapnya
Bersamaan dengan itu, beberapa demit kiriman nya kini kembali padanya, demit itu kini mulai mendekati kakek tua yang sudah pucat pasi.
"Mengapa kalian kembali." ucapnya
"Kami lapar." sahut demit itu dengan suara besar dan ganda
"Aku akan memberi kalian makan, sekarang pergi."
"Ggrrhh." sosok demit itu hanya mengeram dan pergi
"Huh sial, ternyata wanita itu bukan wanita sembarangan ia bahkan memiliki ilmu tinggi." gumam nya
Ki Ageng kini membuka kemeja lusuh yang ia kenakan, tepat didada terdapat luka memar kebiruan.
"Ilmunya sangat tinggi." gumam nya lagi
"Aku bahkan hanya bisa berbuat seperti ini, aku tidak bisa melihat wanita itu tinggal dimana." gumam nya lagi
...****************...
Hingga keesokan paginya, seperti biasa mbok Sri melakukan aktivitas nya bersama Ratna ibunya Damar. Kini, hanya mereka berdua.
"Aku wes kepasar dulu yo." ucap mbok Sri
"Perlu aku temani mbak yu?" tanya ibunya Damar
"Ora, wong cuma sebentar."
"Yowes."
__ADS_1
Mbok Sri pun segera pergi dengan menaiki kuda delman yang dikendarai oleh kusirnya, ia memilih berbelanja didesa Ketang. Ia ingin mengunjungi Riana, ia takut jika Riana tidak bisa berbuat apa apa.
Walaupun butuh waktu lama itu tidak masalah buat mbok Sri, setelah sampai dipasar desa Ketang ia segera turun dari delman dan memasuki area pasar.
Ia memilih banyak bahan makanan yang sebagian untuk Riana dan sebagian lagi untuk mbok Sri, setelah selesai berbelanja ia segera lekas menaiki delman lagi untuk masuk ke pemukiman warga.
Mbok Sri segera menutup wajahnya dengan selendang yang ia bawa, setelah hampir dekat dengan area hutan mbok Sri segera turun.
"Disini mbak?" tanya kusir
"Iyo, wes kamu diam saja." ucap mbok Sri yang segera masuk kedalam hutan
Sebelum masuk ia mengatakan kepada kusir agar menunggu nya, beruntung kusir nya adalah pekerja Riana seorang supir yang sering mengantar Riana.
Mbok Sri terlihat kesusahan berjalan, bagaimana tidak? Ia menaiki tanjakan terkadang turunan dengan menenteng dua keranjang bahan makanan, ia sengaja membawa kedua keranjang karena bahan makanan nya tercampur dengan alat alat ritual Riana.
Peluh sudah membanjiri wajahnya, sesekali mbok Sri akan berhenti dan mengusap wajahnya. Setelah melakukan perjalanan jauh mbok Sri pun sampai, sejenak ia memandang gubuk yang pernah ia tinggali bersama Riana dulu.
"Kok sepi yo." ucap mbok Sri pada diri sendiri
Tok tok tok
Mbok Sri mengetuk pintu, namun tidak ada sahutan, tidak putus asa ia mengetuk pintu lagi dengan jauh lebih keras.
Tok tok tok
Ketukan pintu yang keras membuat pintunya terdorong.
"Loh, tidak dikunci toh." ucap mbok Sri merutuki kebodohan nya
Mbok Sri pun membuka lebar pintu dan masuk kedalam, kemudian tidak lupa menutup pintu lagi. Ia segera mencari keberadaan Riana dikamar namun kosong, mbok Sri berjalan kearah dapur dan meletakkan belanjaan nya.
Ia melihat pintu dapur terbuka, segera ia melihat kebelakang dan terdengar bunyi guyuran air dari sumur.
"Mungkin ia sedang mandi." gumam mbok Sri
Segera wanita paruh baya itu memasak untuk Riana, ia mulai berjibaku didapur.
__ADS_1
Sementara Riana yang sudah selesai mandi segera masuk kedalam rumah melalui dapur, begitu melihat mbok Sri ia terkejut.
"Mbok." ucap Riana
Sontak mbok Sri yang sedang mengiris sayur terkejut, ia segera menekan dadanya dan menoleh kearah Riana.
"Kamu ngagetin mbok." ucap mbok Sri
Nanmun Riana tidak menjawab, ia masih terpaku ditempat nya berdiri.
"Mbok kenapa kesini?" tanya Riana setelah sadar
"Cuma memastikan saja, kamu baik baik saja atau tidak."
"Aku baik baik saja mbok, bagaimana jika ada yang melihat mbok kesini."
"Wes kamu tenang saja, tidak ada yang melihat."
Riana hanya menghembuskan nafas dalam, kemudian ia berlalu kekamar untuk berganti pakaian karena ia hanya menggunakan kain jarik untuk membalut tubuhnya.
Mbok Sri menyusul Riana kekamar dengan membawakan wedang uwuh, kemudian mbok Sri kembali kedapur untuk menyelesaikan tugasnya.
...****************...
Sementara dibawah bukit, tepatnya di rumah Riana yang sudah terbakar terlihat para pekerja kini sedang sibuk melakukan pembangunan.
Namun Damar sedari tadi memperhatikan gerak gerik Mahendra yang gelisah, kemudian Damar menghampiri Mahendra dan menepuk pelan pundaknya.
"Ada apa mas?" tanya Damar
"Ehh mas Damar, tidak ada kok mas." sahut Mahendra seraya tersenyum untuk meyakinkan Damar
Kemudian Mahendra melanjutkan tugasnya, sangat aneh menurut Damar namun ia berusaha untuk mengabaikan nya. Toh, itu bukan urusan Damar.
"Aneh." gumam Damar pelan kemudian mengangkat kedua bahunya
Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka.
__ADS_1