
Nyi Danuwati segera mencengkram erat leher Nyi Warsih, untuk sesaat Nyi Danuwati menikmati pertunjukan didepan mata. Tampak Nyi Warsih mangap mangap dengan mata yang melotot, ia seperti ikan yang menginginkan air.
Hingga kemudian Nyi Danuwati mengangkat tangannya keatas dengan masih mencekik leher Nyi Warsih, otomatis juga tubuh Nyi Warsih ikut terangkat keatas. Nyi Warsih semakin mendelik lebar, ia menggelepar hebat agar bisa terlepas namun percuma.
"Bagaimana rasanya?" tanya Nyi Danuwati seraya menyeringai seram
"Le..lepas." ucap Nyi Warsih terbata karena pita suaranya terjepit oleh cengkeraman Nyi Danuwati
"Katakan dulu bagaimana rasanya." sahut Nyi Danuwati dengan wajah datar, dingin, dan tanpa ekspresi.
"Sa...kit." ucap Nyi Warsih
Nyi Danuwati tersenyum senang, namun bukannya melepaskan cengkeraman nya tapi Nyi Danuwati malah semakin erat mencekik leher Nyi Warsih. Wajah Nyi Warsih sudah memerah seperti kepiting rebus, nafasnya bahkan sudah tersengal sengal.
Nyi Danuwati segera melayang ke udara hingga hampir menyentuh atap diruangan sel yang tinggi.
"Tenang saja, aku tidak akan membiarkan mu mati secepat ini." ucap Nyi Danuwati menatap lekat ke bola mata Nyi Warsih
Sedetik kemudian, Nyi Danuwati melepaskan cengkraman tangannya hingga Nyi Warsih terjatuh dari ketinggian yang lumayan tinggi. Mengingat istana Nyi Danuwati sangat besar, mewah, dan atapnya juga sangat tinggi.
__ADS_1
Untung saja Nyi Warsih memang tidak mati, walaupun darah segar mengalir deras dari dahinya karena ia terjatuh dalam posisi terlentang.
"Arghhh." erang nya kesakitan
"Masukkan demit terkutuk itu kedalam sel." ucap Nyi Danuwati yang segera dituruti oleh pengawal nya
Para pengawal yang berjumlah sepuluh demit itu segera membagi tugas, lima diantara mereka segera menyeret Nyi Warih dan melemparnya kedalam sel.
"Arghh." ucap Nyi Warsih yang sekali lagi meringis kala mereka melempar tubuhnya asal kedalam sel
Melihat itu tentu saja membuat Nyi Danuwati senang, setelah pengawal itu mengunci sel. Segera mereka pergi dari ruangan itu, Nyi Danuwati memilih untuk pergi ke alam manusia.
"Alam manusia." sahut Nyi Danuwati yang kembali lagi dengan wajahnya yang datar
"Untuk apa?"
"Menyelesaikan yang seharusnya ku selesaikan." sahut Nyi Danuwati kemudian segera pergi, tanpa membuka pintu ia segera menembus pintu utama istana.
Melihat sang ratu, para pengawal dan dua makhluk besar berbulu membuka gerbang istana yang sangat besar dan lebar. Kemudian mereka segera menunduk dan memberikan hormat, dengan cara mengatupkan kedua tangan didepan dada.
__ADS_1
Sesampainya diluar gerbang, ia merapalkan mantra tanpa bersuara. Hingga tidak lama, muncul kabut tebal berwarna hitam. Nyi Danuwati segera masuk kedalam kabut itu, hingga tiba tiba ia berada di hutan larangan alam manusia.
Tidak ingin membuang waktu, ia segera melayang terbang dengan cepat.
...****************...
Sementara di desa Ketang, tepatnya di sebuah balai desa. Mbah Sastro dan Pangeran Segoro bisa merasakan aura negatif yang kuat, namun mbah Sastro diam saja ia percaya Pangeran Segoro bisa mengatasi hal ini.
Terbukti Pangeran Segoro seketika membuka mata, sepertinya ia mengetahui siapa yang datang. Tidak ingin membahayakan para warga, Pangeran Segoro segera bangkit dan hendak pergi.
"Mau kemana le?" tanya mbah Bayan yang sudah ada disana karena ia juga terkena, namun sekarang sudah membaik sebab sudah diobati oleh mbah Sastro.
"Wanita itu datang mbah, sebelum ia sampai dan membahayakan warga sebaiknya aku tahan lebih dulu." ucap Pangeran Segoro yang ambigu menurut warga yang lain yang tidak sengaja mendengar
Namun tidak dengan mbah Bayan, pria tua itu tampaknya paham. Mbah Bayan manggut manggut, Pangeran Segoro juga sengaja tidak mengucapkan nama dari wanita itu sebab tidak ingin warga menyebut nya yang bisa saja menyebabkan kematian.
"Pergilah." ucap mbah Bayan sebab mbah Sastro masih duduk besila mebantu warga
Tanpa menunggu lagi, Pangeran Segoro segera pergi menjauh dari balai desa. Setelah memperhatikan sekeliling sepi, ia segera melayang seperti Nyi Danuwati. Tentu saja mereka bisa sebab mereka adalah penguasa tempat keramat, manusia yang tidak murni.
__ADS_1
...****************...