
POV Riana
Dua hari telah berlalu begitu saja, dan seperti biasa pagi setelah membersihkan tubuh dan sarapan aku berniat untuk menemani mbok Sri kepasar.
Di desa Sumbul memang ada pasar yang lengkap, setelah memakai caping dan selendang aku bergegas keluar kamar.
Aku berjalan kearah ruang tamu, disana terlihat mbok Sri sedang menungguku. Akupun lekas menghampiri nya, mbok Sri yang menyadari kedatangan ku lekas menoleh dan tersenyum.
"Sudah nduk?" tanya nya
"Nggeh, sudah mbok. Ayo!" sahutku
Mbok Sri pun lekas bangkit dari duduknya, kami pun berjalan keluar. Aku memutar gagang pintu.
Cklekk
Brakk
Setelah menutup pintu kembali, lekas kami pergi kepasar karena jika sudah terik sungguh tidak membuat nyaman.
...****************...
Setelah bosan diperjalanan akhirnya kami pun sampai, bergegas kami memasuki area pasar dan membeli yang diperlukan seperti sayuran, dan sembako lainnya.
Tidak lupa juga aku membeli beberapa peralatan ritual ku, karena kendi kendi ku sudah banyak yang pecah.
Setelah selesai kami pun kembali pulang, setelah sampai rumah tidak terasa sudah tengah hari.
"Mbok, tolong siapkan minum njih." ucapku
"Baik nduk, tunggu sebentar yo." sahutnya kemudian lekas berlalu meninggalkan ku kebelakang
Tidak berselang lama, mbok Sri pun terlihat datang seraya membawa nampan yang berisi minuman dan pisang goreng. Lekas aku mengambil alih nampan yang dibawa mbok Sri, dan meletakan nya dimeja.
__ADS_1
Kami pun duduk bersantai sejenak, setelah puas bercengkrama aku memilih untuk memasuki kamarku.
Kriiett
Bunyi derit pintu kubuka perlahan, kemudian lekas aku masuk kedalam dan tidak lupa menutup pintu kembali.
Brakk
Aku berniat untuk merebahkan badanku sejenak sembari berfikir langkah apalagi yang akan kulakukan, setelah lama berfikir aku tidak menemukan cara apapun.
Akupun berniat untuk bersemedi saja di sendang wonogiri setelah malam satu suro nanti, mungkin itu yang terbaik.
Aku mencoba untuk mempergunakan waktuku untuk menambah kekuatan sebelum malam datang, aku kembali bersemedi dilantai kamar yang masih terbuat dari papan.
Setelah lama melakukan aktivitas ku, tidak terasa hari sudah hampir malam. Lekas aku berdiri dan mengambil satu set pakaian ku, kemudian aku bergegas menuju sumur.
Dan seperti biasa, disana aku melihat mbok Sri sedang memasak.
"Nggeh, terimakasih yo mbok." sahutku seraya berlalu dari hadapan mbok Sri
Setelah didalam sumur, lekas aku menanggalkan seluruh pakaian ku hanya menyisakan kemben. Kemudian, aku memasukkan kaki ku terlebih dahulu kedalam gentong dan aku lekas berendam.
Cukup lama aku berendam, hingga akhirnya aku keluar dan memakai pakaian ku kemudian aku bergegas keluar dari sumur.
Disana aku melihat mbok Sri yang masih sedang menyiapkan makanan, mbok Sri yang menyadari aku mendekat seketika menoleh.
"Ayo makan nduk." ucap mbok Sri
"Nggeh mbok." sahutku
Setelah selesai makan malam, aku berpamitan pada mbok Sri untuk keluar sejenak. Setelah berpamitan, lekas aku pergi menuju desa Ketang.
Aku berniat untuk melihat kondisi rumahku yang terbakar, aku berniat untuk membangun rumah persis seperti dulu.
__ADS_1
Dengan menggunakan kekuatan ku, tidak membutuhkan waktu lama aku pun sampai. Lekas aku memasuki area rumahku yang sebagian sudah roboh, ada juga yang hancur lebur.
Melihat kondisi rumahku, amarahku lagi lagi memuncak dada ku sudah naik turun aku mengepalkan erat tanganku sehingga melukai telapak tanganku sendiri.
Tidak ingin lama lama meratapi semua ini, aku berniat untuk kedesa Sukar memantau keluarga juragan Karno. Lekas aku membalikkan badanku, dan berjalan keluar dari area rumah yang sudah hancur ini.
Deg
Aku terpaku melihat sosok yang ada di depan ku sekarang, tanpa sadar aku menekan kuat dadaku untuk mengurangi sesak dan seseorang itu pun melakukan hal yang sama.
'Mengapa Damar ada disini?' batinku
Dan lebih terkejut nya lagi aku melihat seorang wanita yang menghampiri Damar dan memeluk nya dengan erat dari belakang, seketika aku yang tadi sudah emosi semakin emosi.
Wajahku sudah sangat memerah karena amarah, aku mengepalkan semakin erat tanganku. Dan aku tidak menyangka, mengapa Damar tidak melepaskan pelukan itu.
'Arghhh.' aku berteriak dalam hati
Sekar masih belum melihat diriku karena terburu buru memeluk Damar, tidak ingin ia melihatku dan tidak ingin berlama lama disini aku lekas pergi dari sini.
Aku berlari kencang, setelah agak jauh dari mereka aku menggunakan kekuatan ku dan melesat dengan cepat.
Setelah sampai di desa Sukar aku kembali berlari tanpa melesat aku berlari seperti manusia, tanpa menoleh kesana kemari aku terus berlari seraya menekan kuat dadaku.
Aku melihat didepan sana ada persimpangan lekas aku berlari, tanpa diduga ada sebuah kuda yang ditunggangi oleh seseorang.
Karena keberadaan ku yang tiba tiba membuat kuda tersebut melompat tinggi, hingga penunggak kuda nya terjatuh menggelinding kejurang.
Kebetulan didepan sana ada jurang, aku yang terkejut lekas menghampiri ke area pinggiran jurang. Namun melihat seseorang yang aku benci disana seketika aku tidak panik lagi, justru aku hanya menatap nya dengan datar.
"Selamat tinggal juragan Karno." gumamku pelan tanpa ekspresi
...****************...
__ADS_1