
Setelah selesai memakan cemilan yang disuguhkan oleh mang Joko, kami pun bercengkerama sesaat. Hingga senja datang, tapi kami masih betah berada disini.
"Di danau ini ada buaya tidak?" tanya Mahen tiba tiba
Sontak aku tersenyum, pertanyaan macam apa ini pikirku aku hanya menggeleng kepala pertanda tidak ada buaya.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita naik sampan itu." ucap Mahen seraya menunjuk sampan yang terikat di pinggir danau
Disana memang ada tiga sampan, aku telah mempersiapkan dari jauh hari.
"Boleh, yuk." sahutku
Ia kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya, segera ku sambut dan ia membantuku berdiri. Kami berjalan kearah sampan berada, ia membuka ikatan salah satu sampan kemudian melepaskan nya.
Lekas ia naik keatas sampan terlebih dahulu, kemudian ia kembali mengulurkan tangannya untuk membantuku naik. Setelah itu, kami duduk diatas sampan dan mendayung.
Suasana ditengah danau ini sangatlah indah, bunga bunga yang aku tanam dahulu kini sudah tumbuh mekar dan cantik. Ditambah jika berada ditengah danau di senja hari, sungguh pemandangan yang sangat menarik.
"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Mahen seraya tersenyum lebar
"Suka." sahutku singkat
Kemudian ia berhenti mendayung menyebabkan sampan yang kami naikin ikut berhenti, dan ia menoleh kearah ku.
"Kamu jangan sedih lagi oke, kalau ada sesuatu kamu bisa cerita ke aku jangan kamu pendam sendiri." ucapnya seraya menatap lekat manik mataku
"Terimakasih." sahutku tersenyum tipis
Dengan spontan ia mengusap kepalaku, setelah sadar apa yang dilakukan ia seperti gugup dan kelimpungan. Mahen berdehem untuk memecahkan kecanggungan, kemudian ia kembali mendayung.
Kami berlayar sampai ke ujung menikmati suasana indah di sekeliling danau, hingga senja tidak lagi menampakkan sinar keemasan nya atau hari sudah gelap kami memutuskan untuk kembali kepinggir danau.
Segera kami mendayung hingga sampai ke titik awal, kemudian ia terlebih dahulu turun dan membantuku. Segera ia mengikat sampan kembali, dan berjalan kearah gazebo.
"Sudah malam, apa kamu mau langsung pulang saja." ucap Mahen
Aku hanya mengangguk setuju, kasihan juga mbok Sri aku tinggal seharian. Aku membereskan nampan dan lain lainnya, dengan sigap Mahen menarik nampan yang berisi piring dan gelas yang terbuat dari seng.
__ADS_1
"Biar aku saja." ucapnya
"Terimakasih." sahutku seraya menoleh kearah nya
Ia hanya tersenyum, dan kami berjalan kearah gubuk yang berada di depan kebun. Sepanjang kebun, sudah tidak ada lagi terlihat para pekerja mungkin mereka sudah pulang.
Hingga sampai didalam gubuk, kami dikagetkan oleh mang Joko yang ternyata belum pulang. Melihat kami berdua yang terkejut, mang Joko hanya bisa tersenyum kikuk seraya menghampiri kami.
"Mang Joko belum pulang?" tanya ku
"Belum non, sengaja nungguin non Riana takut terjadi sesuatu udah malam gini." sahutnya
"Tenang aja kang, saya akan jaga Riana baik baik." ucap Mahen menimpali
Seketika mang Joko tersenyum sungkan, mungkin ia takut jika Mahen tersinggung.
"Yowes, jangan tersinggung dulu yo. Niat saya mah baik, ingin memastikan non Riana baik baik saja. Apalagi ini sudah malam toh, takut terjadi apa apa." sahut mang Joko menunduk
"Tidak apa kang." ucap Mahen seraya menepuk pundak mang Joko pelan
Mang Joko seketika celingak celinguk entah mencari apa, kemudian ia kembali menoleh kearah ku.
"Non Riana pulang pakai apa toh, pakai saja sepeda mamang tidak apa." ucap mang Joko yang ternyata mencari sepeda
"Boleh mang? Kami jalan kaki saja, wong tadi juga jalan kaki kok." sahutku tidak enak
Bagaimana bisa aku membiarkan mang Joko yang seumuran dengan alm bapak untuk berjalan kaki, sementara kami naik sepeda. Apalagi, jarak daerah perkebunan hingga ke pemukiman warga lumayan jauh hingga menempuh tiga puluh menit berjalan.
"Wes tidak apa, wong rumah mamang dekat kok rumah pertama setelah berada di pemukiman." ucapnya
Melihat wajahku yang masih merasa keberatan, mang Joko segera menimpali.
"Wes sudah pakai saja, ini sudah malam." ucapnya kemudian melengos pergi meninggalkan kami
"Yasudah lah, kita pakai saja ayo naik." ucap Mahen
Aku hanya menatap Mahen sekilas, kemudian naik keatas boncengan. Sepeda pun melaju meninggalkan kesunyian kebun, sepanjang jalan hanya hening tidak ada seorang pun yang membuka suara.
__ADS_1
Hingga sepeda berhenti tepat didepan rumahku, rumah yang berbentuk panggung yang lumayan besar namun tidak sebesar rumahku dahulu.
Disana sudah terlihat mbok Sri yang menungguku seraya berjalan mondar mandir tak tentu arah, melihat kedatangan ku mbok Sri segera berjalan tergesa gesa menghampiri ku.
"Kamu dari mana saja toh nduk." ucap mbok Sri cemas
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan mbok Sri, hingga mbok Sri mengalihkan pandangan nya menatap kearah Mahen. Sementara yang ditatap hanya tersenyum seraya menunduk, kemudian Mahen turun dari sepeda dan berjalan kearah kami.
Ia kemudian menyalami punggung tangan mbok Sri, sementara mbok Sri kembali menoleh ke arahku.
"Dia siapa." ucap mbok Sri berbisik
"Ini Mahen mbok, pria yang aku ceritakan pada mbok Sri." ucapku
Mbok Sri hanya ber oh ria, kemudian ia mengucapkan terimakasih kepada Mahen yang sudah mengantar ku pulang. Setelah itu, Mahen segera pergi menggunakan sepeda milik mang Joko.
Mahen mengatakan bahwa ia saja yang akan mengantarkan sepeda itu kembali ke mang Joko esok hari, setelah Mahen sudah tidak terlihat aku dan mbok Sri masuk kedalam rumah.
"Entah mengapa perasaan mbok tidak enak pada Mahen." ucap mbok Sri tiba tiba setelah kami duduk diruang tamu
"Mengapa mbok Sri mengatakan itu?" tanya ku
"Tidak tahu, perasaan mbok saja." sahutnya
"Sebenarnya aku juga merasakan seperti itu mbok, apalagi mbok Sri ingat toh waktu aku mengatakan aku tidak bisa menembus nya." ucapku
"Yo, intine kamu harus hati hati nduk. Mbok tidak mau kehilangan kamu juga, apalagi mbok sudah tidak punya siapa siapa sudah cukup." sahut mbok Sri
Aku hanya mengangguk seraya menggenggam tangan mbok Sri, mbok Sri memang tidak memiliki siapa siapa. Dulu, bapak mengatakan bahwa mbok Sri bekerja di keluarga Pramono sudah sedari muda.
Mbok Sri dulu yatim piatu, yang keluarga nya yang lain juga tidak diketahui keberadaan nya. Mbok Sri menikah namun sampai sekarang belum di anugerahi keturunan, sementara suami mbok Sri sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Kini hanya aku dan mbok Sri yang tertinggal, aku juga tidak mau kehilangan mbok Sri. Karena sedari kecil aku sudah sangat dekat dengan mbok Sri, mbok Sri yang mengurusku dan ada buatku dari dulu.
Aku menganggap mbok Sri sudah seperti ibuku, setelah selesai berbincang. Kami segera memasuki kamar masing masing untuk beristirahat, aku sengaja tidak mandi dulu karena nanti tengah malam aku akan mandi kembang seperti biasa.
...****************...
__ADS_1