
"Ini dimana?" Tanya Yanto.
"Saya juga tidak tahu." Sahut Nurdin.
Mereka terus memperhatikan hutan yang tampak asing, hingga tiba tiba terdengar suara gubrakan.
Brakk!
"Opo iku?" Tanya Yanto yang sudah menggigil.
Mereka terdiam terpaku sejenak kala melihat sesuatu mengelinding seperti bola, bahkan bentuknya pun bulat seperti bola. Dengan sisa keberanian yang ada, Nurdin mencoba mengambil sesuatu yang berwarna hitam itu.
"Kok seperti rambut yo." Ucap Nurdin.
Ucapan Nurdin tentu saja membuat Yanto semakin ketakutan, terbukti dengan ia menjauh selangkah.
"Bau anyir." Desis Nurdin yang masih terdengar oleh Yanto.
Dengan gerakan yang penuh dengan kehati hatian, Nurdin membalikkan sesuatu yang berbentuk bola dan berwarna hitam itu. Seketika mereka terbelalak, sepasang mata melotot yang sepenuhnya berwarna merah itu menatap mereka berdua dengan tajam.
Mulutnya yang menganga mengeluarkan aroma bangkai busuk, giginya yang sedikit runcing dan berwarna hitam pekat. Namun anehnya, sosok menyeramkan itu tidak memiliki hidung.
"Arghh."
Mereka berteriak keras memecah kesunyian hutan itu, dengan spontan Nurdin melemparkan sesuatu yang tidak lain adalah kepala dengan asal. Sosok kepala itu masih menyeringai dan seolah menatap mereka kemana pun mereka pergi, sementara kedua manusia itu kelimpungan tak tentu arah.
"Setan." Yanto berteriak histeris.
__ADS_1
Namun sayangnya, mereka hanya berlari berputar putar ditempat seolah ada tembok penghalang yang menghalangi mereka keluar dari hutan larangan. Padahal, hutan yang tampaknya asli ada didepan mata namun mereka tidak dapat menjangkau.
Hah hah hah
"Capek." Ucap Yanto yang lelah berlari tidak tentu arah.
"Apa itu tadi?" Tampaknya Nurdin masih tidak bisa menghilangkan rasa penasaran nya.
"Ke..kepala." Sahut Yanto tergagap karena takut mengingat kepala manusia yang terasa aneh.
"Kok bisa ya?"
"Ora ngerti."
Namun ternyata Nurdin masih memiliki nyali, buktinya ia masih memberanikan diri menoleh kebelakang dengan pelan. Nurdin seketika terbelalak, ia kemudian menepuk pundak Yanto.
Karena tidak mendengar sahutan, Yanto menoleh kearah Nurdin. Yanto seketika mengernyitkan alis bingung, jelas ia tahu kemana arah pandang sang teman. Yanto meneguk liur susah payah, kemudian ia pun segera menoleh kebelakang karena Nurdin masih tidak bicara.
Deg
Jantung mereka bertalu talu dengan kencang, jelas jelas tadi mereka melihat kepala. Namun sekarang, tidak ada kepala yang ada hanya kelapa.
"Ba..bagaimana bisa? Sudah jelas jelas tadi adalah kepala, bahkan aku masih mengingat mata dan bibirnya." Ucap Nurdin kala menyadari Yanto melihat hal serupa.
"Iyo Din, ini aneh." Sahut Yanto.
"Apakah kita sudah gila?"
__ADS_1
"Tentu tidak, wong aku juga melihatnya."
Mereka kembali memutar kepala menghadap depan, namun lagi lagi mereka dibuat terkejut. Tampak didepan sana tengah berdiri seorang wanita membelakangi mereka, mereka berdua meneguk liur kala melihat punggung yang halus dan putih.
"Si..siapa kamu?" Tanya Nurdin.
Namun sosok wanita yang memiliki rambut panjang berkibar karena dihembus angin malam tetap diam, bahkan ia tidak bergerak sedikitpun.
"Apakah kamu tersesat?" Tanya Yanto.
Sepertinya mereka kehabisan akal, padahal mereka tahu di desa itu masih kental hal hal mistis. Namun bukannya sadar malah bertanya, hanya orang bodoh yang mendatangi hutan larangan itu apalagi dimalam hari.
"Apa dia bukan manusia?" Tanya Yanto yang lebih mirip dengan gumaman.
"Tapi kakinya menapak To." Sahut Nurdin seraya melihat kebawah kaki perempuan itu.
"Tapi iki aneh Din, mosok ada wanita keluyuran dimalam hari dihutan lagi. Terus pakaiannya mirip seperti pakaian ala ratu keraton begitu, lihat itu mahkota nya sampai berkilau seperti itu." Ucap Yanto akhirnya menyadari.
Nurdin tidak menjawab, namun dalam hati ia pun membenarkan. Ditambah sudah jelas disaat mereka berlari kelimpungan bahkan dari pertama sampai tidak ada orang, hanya mereka berdua.
"Jangan jangan...."
Ucapan Nurdin berhenti kala wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap kedua manusia itu.
Deg
...****************...
__ADS_1