Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Menyerahkan Janin


__ADS_3

Semua warga tercengang menyaksikan mayat yang sangat mengenaskan didepan mata, tampak Ratna ibunya Pangeran Segoro meninggal dengan golok yang masih menancap diperut hingga tembus ke punggung belakang.


Sementara wanita hamil yang mereka ketahui bernama Murti meninggal dengan kondisi tak kalah mengenaskan, perut yang tersayat sangat lebar hingga terus mengeluarkan darah segar hingga semerbak bau amis menguar mengusik indra penciuman mereka.


Tampak tanah yang tadinya berwarna cokelat layaknya warna tanah kini berganti warna menjadi merah darah, semua yang menyaksikan turut berduka cita.


"Hiks hiks... Bangun bu." ucap Pangeran Segoro terisak pilu


Warga hanya bisa menenangkan, tidak berani mengatakan ikhlas ya le, sabar ya le, ini sudah takdir dan berbagai kata lainnya. Karena warga sadar, mereka yang mengalami kehilangan tidak butuh kata kata seperti itu, karena semua orang tahu iklhas itu sulit, sabar juga sulit, semua hanya masalah waktu.


"Ibu jangan tinggalin aku sendiri bu hiks hiks, bapak sudah lama berpulang. Hayati juga, dan sekarang giliran ibu harus kemana lagi aku jika butuh sandaran bu hiks hiks." ucap Pangeran Segoro


Sementara suami dan mertua dari Murti wanita hamil itu pun mengalami hal yang sama, mereka semua terisak pilu. Terlebih sebenarnya sudah lama kedua pasangan itu menanti buah hati, hampir lima tahun menikah dan baru sekarang Tuhan mempercayakan momongan. Tapi kini, lihatlah apa yang terjadi.


"Arghhh brengsek, akan ku balas orang orang yang sudah melakukan ini." teriak suami mendiang Murti


Seketika Pangeran Segoro tersadar, kemudian ia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat hingga buku jari terlihat memutih. Telapak tangannya pun berdarah akibat terkena kuku yang ditekan dengan kuat, dalam pikirannya terlintas dua orang.


'Kalian harus mendapatkan balasannya.' batin Pangeran Segoro bergemuruh


...****************...


Sementara kedua pemuda yang berambisi hingga berbuat nekat itu sudah berlari keluar desa dengan cara mengendap endap, jalan menuju keluar desa hanya satu yaitu jalan menuju gapura. Itu sebabnya Yayan dan Mamat memilih untuk bersembunyi dulu, dan disaat para warga sibuk dengan kedua mayat itu Yayan dan Mamat pun berjalan pelan mengendap endap hingga keluar dari desa.


Hosh hosh hosh


Nafas mereka terengah-engah akibat berlari kencang seperti dikejar kejar setan, sesekali mereka berhenti untuk menyeka peluh.


"Kita kemana iki?" tanya Mamat


"Yo langsung kehutan larangan, gitu saja pakai tanya." sahut Yayan


Mereka pun memberhentikan kuda delman yang sepertinya hendak pulang ke desa Sumbul, namun ketika melihat kedua pemuda yang sepertinya kelelahan itu membuat kusir itu iba dan mengantarkan ke desa Ketang.

__ADS_1


"Kalian bukan warga Sumbul yo?" tanya kusir itu


"I...Iyo pakde." sahut Yayan tergagap


"Memang ada perlu apa ke desa Sumbul? Pulangnya malam malam lagi." tanya kusir itu lagi


"Eeh anu, hmm tadi cuma main kerumah saudara." sahut Yayan


Kusir itu hanya ber oh ria, namun tatapan matanya tampak curiga melihat penampilan kedua penumpang nya yang semrawut. Penampilan mereka sangat kacau, wajah mereka basah akibat keringat padahal di malam hari yang dingin.


Pakaian mereka pun terlihat berantakan serta berdarah darah, namun yang paling banyak adalah Yayan. Tampak darah terus menetes dari balik baju Yayan hingga bajunya kini basah oleh darah, ternyata Yayan menyembunyikan janin itu dibalik bajunya.


"Kalian habis ngapain kok berdarah darah?" tanya kusir itu penasaran


"Eh.. Tadi nangkap babi hutan dengan saudara, dan kami hendak pulang kerumah untuk memanggil orang tua agar bisa menikmati babi hutan." sahut Mamat kala Yayan hanya diam saja memikirkan kata kata yang akan dikeluarkan


Kusir itu hanya manggut manggut, kini sepanjang jalan tidak ada lagi percakapan. Hanya keheningan, hingga mereka sampai di gapura desa Ketang.


"Matur nuwun njih."


Hiyy


Membayangkan itu Yayan dan Mamat bergidik ngeri, mereka lekas mempercepat langkah menuju hutan larangan.


"Seram tenan." ucap Mamat


"Iyo, tapi setelah ini kita pasti mendapatkan uang." sahut Yayan


Yang dipikiran mereka hanya uang, uang, dan uang saja. Mereka tidak berfikir apakah mereka masih bisa melihat matahari besok atau tidak, mereka tidak sadar sudah membangkitkan amarah Nyi Danuwati.


"Nanti uangnya tak apakan yo?" gumam Yayan seraya membayangkan kehidupan enak


"Wes lah, nanti saja dibayangkan. Sekarang cepat jalan, sampeyan tidak lihat ini sangat horor." ucap Mamat

__ADS_1


Yayan hanya mengangguk, mereka kembali berjalan dengan cepat hingga Mamat menepuk pundak Yayan dengan keras.


"Opo sih." sentak Yayan seraya menoleh kebelakang


"Kita tidak membawa sesajen." sahut Mamat ketus


Yayan seketika tampak berfikir.


"Wes lah tidak usah dibawakan, sudah kepalang tanggung yang penting kita bawa janin." ucap Yayan


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan setelah dipenuhi banyak drama, masih sama seperti sebelumnya. Perjalanan mereka tampak cepat sampai, tidak ada hambatan sedikit pun.


Dan secara kebetulan mereka pun sampai tepat tengah malam, karena mereka harus ke desa sebelah yang jaraknya lumayan jauh hingga memakan waktu.


"Kita masuk sekarang?" tanya Mamat bergidik ngeri seraya menatap lurus kedepan yang tampak berbeda dengan semua hutan yang mereka jajaki


"Lah yo iyo, kenapa? Sampeyan takut?" tanya Yayan yang tersirat akan ejekan


"Tidak." sahut Mamat dengan ketus


Mereka kemudian berjalan memasuki hutan larangan yang tampak menyeramkan seolah tidak ada kehidupan disana, Yayan lekas mengeluarkan janin yang berada dibalik bajunya kemudian ia letakkan diatas batu besar yang tampak bersih. Padahal seingat mereka, mereka meletakan sesaji beserta kepala kerbau diatas batu beberapa hari yang lalu. Tapi sekarang, semua tampak bersih.


"Siapa yang membersihkan." gumam Mamat yang masih didengar oleh Yayan


"Tidak usah dipikirkan, wong namanya dunia goib." sahut Yayan seraya duduk bersila diikuti oleh Mamat


Mereka kemudian memejamkan mata dan membaca mantra yang sudah diajarkan Yayan dengan fokus, tidak lama muncul angin yang sangat berbeda dari biasanya. Seolah angin itu adalah kemarahan sang Ratu, beberapa pohon yang sangat besar sebesar raksasa yang menjulang tinggi yang ditaksir tidak bisa tumbang kini tumbang juga.


Yayan dan Mamat sudah ketar ketir, namun mereka masih mencoba untuk tetap fokus. Hingga tidak lama, muncul asap hitam pekat yang mengepul didepan sana.


Perlahan asap hitam itu membentuk siluet tubuh, dan tidak lama tampaklah sosok wanita cantik yang membelakangi mereka.


"Buka matamu." ucap Nyi Danuwati

__ADS_1


Berbeda dengan sebelumnya, yang bicara bahkan tertawa masih dengan suara yang lembut mendayu. Kini suara mendayu itu tidak ada lagi, nada bicara Nyi Danuwati sangat dingin sedingin wajahnya. Bahkan, sedingin angin malam.


...****************...


__ADS_2