
Tiga minggu berlalu
Pagi hari kembali hadir menghiasi desa, matahari pagi sudah menyembul dan memaksa masuk kedalam rumah warga melalui celah lubang ventilasi. Daun daun tampak berair dan berjatuhan akibat embun pagi, tampak suasana desa sudah tampak tenang.
Sudah tiga minggu berlalu, dan mereka melalui hari itu dengan tenang tanpa ada ketakutan akan teror teror. Suasana desa sudah tampak damai, namun entah sebentar lagi.
Namun pagi ini, para warga dihebohkan dengan suara rintihan dan tangisan di salah satu rumah warga. Rumah yang tidak lain adalah milik Minah dan suaminya Barun, tampak wanita itu menangisi Barun yang sudah semakin parah.
"Kamu sebenarnya kenapa toh pak hiks hiks." ucap Minah seraya menangis tersedu sedu
"Ma...maaf." sahut Barun terbata
Sontak ucapan suaminya membuat Minah tertegun, pasalnya semenjak awal kedatangan Barun empat minggu lalu dan disusul dengan penyakit aneh ia tidak berkata sepatah katapun. Dan sekarang setelah suaminya diam sejak lama, kini suaminya sudah bersuara meski hanya sepatah kata.
"Maaf kenapa pak?" tanya Minah setelah sadar
"Maaf hiks hiks." kini Barun yang menangis pilu
"Katakan maaf opo to." sahut Minah
"Se...sebenarnya bapak su...sudah menumbalkan janin ki..kita." ucap Barun terbata menahan sakit
Deg
Bagai disambar petir di siang bolong Minah kini terpaku bagai patung mendengar pengakuan suaminya, air matanya kini semakin deras berjatuhan membasahi pipi.
__ADS_1
"Ke..kenapa pak, kenapa!" ucap Minah berteriak histeris seraya memukul mukul tubuh suaminya yang tidak bisa berbuat apa apa selain hanya tiduran
"Maafkan bapak bu hiks hiks." sahut Barun dengan tangisan tak kalah pecah dari istrinya
Tampak didalam rumah maupun diluar sudah banyak warga berkerumun menyaksikan apa yang sedang terjadi, beberapa warga yang sudah sejak tadi tampak terkejut mendengar penuturan Barun.
"Kenapa!" teriak Minah menggelegar memenuhi ruangan kecil yang sudah dipadati oleh warga
"Bapak tidak ingin me..melihat kamu kesusahan bu, bapak i..ingin kita hidup enak." sahut Barun
Warga yang menyaksikan itu hanya bisa mengelus dada dan berbisik bisik, sementara Minah hanya bisa terpaku. Tidak ada air mata yang keluar, bahkan tubuhnya bagaikan tubuh tanpa jiwa.
"Bapak me..merasa kita tidak akan sanggup mengurusnya, ke...keadaan kita saja susah bu. Ba...bapak, takut jika kita ti..tidak bisa memberinya makan." ucap Barun lagi
Plak
Biar bagaimana pun Barun tahu ini semua kesalahannya, namun masih ada rahasia yang ia tidak katakan. Bukan tanpa alasan, tampak ditengah kerumunan warga Barun melihat salah satu pria yang sangat ia kenal yaitu Ginanjar.
Tampak Ginanjar menunjuk Minah kemudian Ginanjar menunjuk leher Ginanjar sendiri kemudian telunjuk Ginanjar ia gerakkan sebagai pertanda mati, Barun yang melihat itu sontak ketakutan dan memilih diam. Ia tidak mau jika Minah terluka atau bahkan mati, mengingat Ginanjar manusia kejam.
Hingga Barun merasakan tubuhnya semakin sakit, ia dapat merasakan didalam tubuhnya ada sesuatu yang bergerak yang semakin lama menggerogoti bagian dalam tubuh Barun.
Tampak air mata Barun menetes, untuk bersuara pun mulutnya terasa tidak mampu. Alhasil, Barun hanya menggeliat kan tubuhnya bagai cacing kepanasan.
Minah yang menyadari itu seketika terkejut.
__ADS_1
"Gusti, bapak kenapa hiks hiks." air mata yang sudah berhenti kini kembali berhamburan
"Tolong." ucap Minah seraya menoleh kebelakang dimana para warga hanya diam membisu menyaksikan
"Sebentar saya panggil kan pak mantri." sahut salah satu yang langsung keluar dari rumah dan berlari menuju rumah mantri
Minah merasa tidak berguna, selama ini sudah banyak mantri yang ia panggilkan begitu juga dengan orang pintar seperti dukun. Namun satupun tidak ada yang dapat menyembuhkan Barun, bahkan dukun mengatakan jika tidak ada yang bisa menyembuhkan nya.
Sampai sekarang Minah tidak tahu rahasia suaminya, sebab dukun itupun tidak mengatakan apa apa. Bahkan ada juga dukun yang baru melihat mereka saja seolah ketakutan, dan langsung menutup pintu rumahnya.
"Arghhh." Barun mengerang kesakitan
"Ampun." teriak Barun lagi membuat semua orang keheranan
Dalam pandangan Barun, ia melihat banyak makhluk makhluk mengerikan dengan kuku yang panjang dan tajam. Tidak hanya itu, ia melihat banyak makhluk halus dari berbagai jenis.
Makhluk yang mengerikan dengan kuku tajam itu mendekat dan mencekik leher Barun, dalam pandangan semua orang Barun tiba tiba saja menggelinjang hebat dengan mulut yang terbuka dan mata melotot.
Lidah Barun sudah menjulur keluar, sementara Minah semakin histeris menyaksikan suaminya tengah mengalami sakratul maut didepan matanya.
"Arghhhh." hingga teriakan panjang menjadi teriakan terakhir Barun
Tampak pria kurus itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya, mahkluk makhluk halus itu seketika mendekat dan mencabik cabik perut Barun.
Semua warga menganga melihat pemandangan didepan mereka, tampak mereka melihat setelah kematian Barun tiba tiba saja perutnya robek seperti bekas cakaran hingga mengeluarkan darah segar.
__ADS_1
Seketika aroma amis dan anyir menyeruak masuk kedalam rongga hidung mereka, seketika mereka menutup hidung begitu juga dengan Minah.
...****************...