Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Isi Hati Pangeran Segoro


__ADS_3

Tampak kondisi desa masih sama dengan sebelumnya, sepi seperti desa mati seolah tidak ada makhluk hidup di dalamnya. Pintu pintu rumah warga tertutup rapat, cahaya temaram yang berasal dari obor dipekarangan rumah warga membantu penglihatan mereka.


"Sebaiknya kita letakkan saja di balai desa, tapi kita harus berjaga bergantian sampai pagi." ucap mbah Sastro


"Baik mbah."


Mereka kemudian melangkahkan kaki menuju balai desa, karena untuk diantar kerumah masing masing tidak mungkin. Mengingat salah satu diantara mereka sudah yatim piatu, dan lagipula hari sudah semakin larut.


"Ada yang membawa jarik?" tanya mbah Sastro setelah mereka berada di balai desa


"Saya mbah."


"Saya juga ada mbah."


"Saya juga punya mbah."


Mereka bersahut sahutan setelah meletakkan tandu yang berisi tubuh Yayan dan Mamat yang sudah terbujur kaku, namun anehnya mata kedua mayat itu mendelik melotot keatas seolah melihat penampakan yang mengerikan.


Leher mereka pun terlihat membiru walaupun sudah lunglai seolah tidak bertulang, bagaimana bisa bertulang. Tulang leher mereka bahkan sudah patah, jika bukan karena kulit leher mereka yang menyatu sudah dipastikan kepala mereka jatuh menggelinding.


Mulut Yayan dan Mamat pun menganga dengan lebar, sungguh sangat mengenaskan. Mereka bahkan tidak pernah menikmati kekayaan yang mereka cari, meskipun sudah banyak korban berjatuhan.


"Lekas tutupi seluruh tubuh mereka." ucap mbah Sastro


Tanpa menjawab beberapa warga pria paruh baya yang membawa kain jarik untuk melindungi tubuh mereka dari gigitan nyamuk, lekas melepaskan kain jarik dan menutupi tubuh Yayan dan Mamat.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?" tanya mbah Bayan

__ADS_1


"Mereka bersekutu dengan penghuni hutan larangan mbah, dan sepertinya mereka telah membuat Ratu marah hingga membuat mereka seperti ini." sahut Pangeran Segoro mencoba membunyikan sesuatu


Namun pastinya itu tidak berlaku bagi mbah Sastro, karena pria sepuh dan jauh lebih sepuh dari mbah Bayan itu tahu semuanya. Namun ia juga memilih diam untuk menghargai Pangeran Segoro, ini juga demi warga.


Karena semakin warga tahu banyak, semakin dekat pula mereka dengan bahaya. Sementara rombongan mbah Sastro yang lain tidak tahu apa apa kecuali tentang ibu Pangeran Segoro meninggal karena dibunuh, namun mereka tidak tahu jika yang membunuh Ratna adalah kedua mayat yang sudah terbujur kaku itu.


"Tapi bagaimana bisa? Ma..maksud saya selama ini desa sudah baik baik saja, meskipun bukan selama ini karena beberapa bulan yang lalu desa kita terkena teluh. Namun, bukankah Ratu di hutan larangan sudah tidak pernah membuat masalah?" tanya salah satu warga yang memang notabene nya tidak tahu apa apa


Paska desa mereka terkena teluh pun kebetulan salah satu warga itu berada di desa lain, kampung halaman istrinya. Ia hanya mendengar dari mulut ke mulut saja, jadi wajar jika ia bertanya.


Sementara Pangeran Segoro mengatupkan mulutnya rapat, ia bingung harus menjelaskan seperti apa. Tidak mungkin ia mengatakan jika hutan larangan sudah berganti Ratu walaupun itu faktanya, sedangkan Ratu hutan larangan tidak ingin namanya disebut. Jika ada yang menyebut namanya sudah dipastikan orang itu akan celaka, Nyi Danuwati adalah nama yang dilarang untuk disebut.


"Hanya mereka yang tahu, bukankah kita semua tahu jika hutan larangan itu tempat keramat. Tidak sembarang orang yang bisa memasuki hutan itu, namun mungkin saja mereka berdua memang dipilih sehingga menemukan hutan itu. Namun berakhir seperti ini, ini pelajaran untuk kita jangan coba mendatangi tempat itu lagi." ucap mbah Sastro yang di angguki oleh warga


"Tapi mbah, saya kok tidak melihat hutan larangan tadi yo? Kata orang yang pernah mencari ilmu disana hutan larangan itu beda dengan yang lain, sementara yang saya lihat tadi sama semua." ucap salah satu warga lagi yang diangguki oleh yang lain


"Seperti yang saya katakan tadi, tidak sembarang orang yang bisa memasuki hutan itu. Bahkan jika dukun sakti sekalipun, belum tentu mereka menemukan hutan larangan. Apalagi jika hutan itu sudah ditutup dari pandangan manusia, akan semakin sulit." sahut mbah Sastro


"Kenapa sampeyan tidak cerita semuanya saja?" tanya Kemal


"Apa?" tanya balik Pangeran Segoro yang memilih untuk berpura pura tidak tahu


"Kalau Ratu hutan larangan yang sekarang adalah kekasihmu yang tidak jadi." sahut Kemal membuat Pangeran Segoro mengembungkan pipi menahan tawa


Rombongan mbah Sastro memang sudah tahu tentang sosok Nyi Danuwati, karena awal mula Pangeran Segoro dan mbah Sastro datang ke desa sudah diceritakan oleh mbah Bayan yang memang sudah tahu. Mengingat sukma mbah Bayan pernah tertawan di hutan larangan, dan tentunya atas izin mbah Sastro.


"Kadhang-kadhang aku melas marang dheweke." ucap Kemal dengan nada prihatin

__ADS_1


(Terkadang aku kasihan padanya.)


"Sudah begitu takdirnya Mal, mau bagaimana lagi." sahut Pangeran Segoro yang memang merasakan hal yang sama


"Aku masih ingat betul, dulu waktu kita masih kecil kecil dia orangnya ceria, ramah kepada siapapun, suka menolong. Lah sekarang? Jangankan menolong, wanita itu bahkan ingin menghancurkan desa ini." ucap Kemal lagi


Sementara Pangeran Segoro hanya bisa menghembuskan nafas kasar, seolah di hembusan nafas itu ada beban yang ikut terbuang.


"Sebenernya orang sebaik dia tidak pantas menerima kehidupan yang pahit seperti ini, entah karena apa mereka melenyapkan semua trah Pramono. Kini hanya tersisa dia saja, itupun dia memilih untuk berjalan di jalan yang salah." ucap Kemal lagi


"Dan anehnya, Sekar yang sudah dianggap anak oleh keluarga Pramono ikut andil dalam kehancuran wanita itu cuma karena sampeyan." ucap Kemal lagi seraya menatap Pangeran Segoro dengan melotot tajam


Pangeran Segoro yang ditatap dengan tatapan horor seperti itu bergidik ngeri.


"Doakan saja semoga ini semua lekas membaik Mal, jujur aku masih berharap jika wanita itu kembali lagi ke jalan yang benar. Jika itu terjadi, maka aku akan menuntun langkahnya agar tidak tersesat lagi." sahut Pangeran Segoro seraya tersenyum


Sungguh raut wajah dan hati Pangeran Segoro bertolak belakang, ia mengatakan itu dengan wajah tersenyum. Sementara disaat Pangeran Segoro mengatakan itu, suaranya saja bahkan sudah bergetar menahan tangis.


"Sekarang aku mengerti." ucap Pangeran Segoro lagi seraya manggut manggut


"Opo?" tanya Kemal mengernyitkan alis bingung


"Kehilangan orang yang kita cintai itu tidak mudah Mal, rasanya sakit. Sakit sekali, tidak terbayang yang dialami wanita itu kehilangan semua keluarga nya sekaligus dalam sehari.


Aku saja masih bisa merasakan sakit, padahal aku masih sempat merasakan kasih sayang mereka dalam artian kematian mereka berjarak dengan sangat jauh. Apalagi wanita itu kehilangan semua keluarga dalam sehari, aku saja mengingat jenazah ibu rasanya ingin melenyapkan orang yang melakukan itu apalagi wanita itu." sahut Pangeran Segoro yang sudah menangis pilu


Persetan jika ada yang melihat, masa bodoh jika ada yang mencemooh dan mengatakan cengeng. Biar bagaimana pun Pangeran Segoro manusia yang memiliki rasa lelah, ia capek berpura pura kuat untuk menenangkan warga. Namun aslinya ia juga sangat lelah, belum lagi jika waktunya tiba mau tidak mau ia harus bertarung dengan wanita yang ia cintai.

__ADS_1


Pilihannya hanya satu, melenyapkan wanita yang ia cintai yang selama hidup hanya merasakan penderitaan demi menyelamatkan desa dari sumpah serapah wanita itu. Atau ah sudahlah, rasanya Pangeran Segoro tidak bisa berkata kata.


...****************...


__ADS_2