
DOUBLE POV
POV Riana
Pagi hari pun tiba dengan sangat cepat, udara dingin yang menusuk tulang membuat ingin berada dibawah selimut saja. Tapi itu tidak berlalu buatku, pagi ini setelah sarapan aku ingin bersama mbok Sri kepasar.
Aku ingin membeli sesuatu, dan juga aku merindukan suasana desa Ketang.
"Kamu yakin ingin ikut nduk?" tanya mbok Sri memastikan
"Iya mbok." sahutku singkat
"Yasudah, kamu pakai caping yang mbok belikkan kemarin dipasar biar si mbok yang pakai caping milik eyang mu."
"Baik."
"Jangan lupa pakai selendang."
"Iyaa mbok, tenang saja. Lagian, aku sudah merubah penampilan ku walaupun sedikit mereka tidak akan mengenali ku." ucapku lirih
"Buat jaga jaga toh." ketus mbok Sri membuat aku ingin sekali tertawa namun susah
Kami pun pergi menuju pasar, ternyata mbok Sri jika ingin kebawah harus membutuhkan waktu lama. Jarak dari bukit ke pemukiman warga lumayan jauh, aku berniat untuk mencari rumah dibawah saja.
"Mbok, bagaimana jika kita tinggal kembali di desa Ketang." ucapku membuka pembicaraan
Seketika mbok Sri menghentikan langkahnya, dan menatapku sinis. Tapi aku ingin tertawa sekali, wajah mbok Sri jika begitu bukannya seram malah lucu.
"Kamu bicara apa toh, nanti ada yang tau pie?"
"Tapi aku tidak mau melihat mbok Sri setiap kepasar harus berjalan sejauh ini."
Mbok Sri tampak berfikir sejenak, kemudian ia menoleh ke arah ku.
"Kenapa harus di desa kita, desa sebelah masih ada toh? Dekat juga sama desa musuh kita." ucap mbok Sri
"Dimana mbok."
"Desa Sumbul."
__ADS_1
Seketika aku diam sejenak, memikirkan perkataan mbok Sri kalau dipikir pikir memang benar juga.
"Yasudah mbok, nanti sehabis dari pasar kita ke desa Sumbul." ucapku
"Baiklah." sahut mbok Sri
Kami kembali berjalan, tanpa bersuara lagi. Setelah sampai kami segera memasuki area pasar, kami berjalan menuju pedagang yang berjualan sayur karna ini yang paling dekat jaraknya.
Aku mendapat uang karna bapak telah memberikan aku satu lahan untuk kebun, tidak ada orang pun yang tau karna kebun itu adalah hadiah. Kebun yang bapak berikan padaku berada di desa Sumbul yang akan kami datangi nanti, itu sebabnya aku menyetujui.
Kebun milikku diolah oleh orang kepercayaan ku, mereka juga belum tau berita tentang kelurga ku jadi mereka tidak akan terkejut jika melihatku.
Kami lekas memilih beberapa sayuran yang akan kami beli, tiba tiba ada seorang wanita paruh baya dan seorang pemuda tampan yang akan membeli sayuran juga. Namun bukan itu yang membuat ku terkejut, melainkan mereka adalah bude Ratna dan Damar.
"Saya beli sayur ini saja ya bu." ucap bude Ratna seraya memberikan tiga ikat sayur kangkung.
Deg
Mbok Sri seketika menoleh kearah ku, namun aku lekas menyuruh ia tenang dengan tatapan mata dan mbok Sri pun lebih rileks sekarang.
"Ibu jadi rindu sama Riana le, biasanya setiap ibu tumis kangkung dia yang ngabisin kangkung tumis kecap sayuran kesukaan dia." ucap bude Ratna sendu
"Sama bu, Damar juga merasakan hal yang sama. Damar masih tidak percaya jika Riana meninggalkan Damar." ucap Damar menunduk
Aku bisa melihat dari balik caping ku jika matanya sudah berkaca kaca, aku masih mencoba menahan rasa ini. Rasanya dadaku sudah sangat sesak sekali, aku ingin berteriak sekencang kencang nya.
Bude Ratna mengusap pelan punggung Damar, seketika air mata yang sedari tadi ia tahan keluar juga. Ia menangis pelan di pundak bude Ratna, agar tidak ada yang mendengar.
"Padahal dia sudah janji bu, dia janji akan bersama Damar selamanya." ucap Damar lirih
Damar yang ingin memeluk ibunya secara tidak sengaja tangannya mengenai lenganku.
Deg
Jantung ku berpacu cepat, getaran yang tadi menyergap kini semakin kencang. Hawa panas yang datang tiba tiba membuatku tidak tahan, tanpa menunggu mbok Sri aku lekas keluar dari area pasar.
Sebelum pergi, aku menoleh kebelakang ingin hati memberi kode pada mbok Sri untuk cepat cepat. Justru yang ada, tatapan ku dan tatapan mata Damar bertemu.
Seketika tubuhku sudah bergetar hebat seperti orang yang sedang menggigil kedinginan, tanpa lama lama aku segera pergi.
__ADS_1
...****************...
POV Damar
Aku berniat untuk menemani ibu kepasar, karna aku takut terjadi sesuatu. Semenjak kejadian semua yang menimpa kami, aku lebih sedikit overprotektif.
Setelah berada dipasar, kami lekas berjalan menuju tukang sayur. Disana, aku melihat dua wanita kemungkinan ibu dan anaknya. Namun, aku merasa tidak asing dengan postur tubuh mereka. Tapi, aku lekas berfikir jernih, kalau cuma postur tubuh pasti banyak yang mirip.
Disaat memilih sayur, ibu mengingatkan tentang Riana. Seketika aku tidak bisa menahan sedihku, sesudah aku mengatakan apa yang menganjal hatiku aku berniat memeluk ibu.
Disaat aku ingin memeluk ibu, tidak sengaja aku mengenai lengan wanita yang berada disamping ibuku.
Deg
Tiba tiba aku merasakan detak jantung yang tidak karuan, hawa panas menyergap diriku, dan ada sebuah getaran yang sangat kuat menghampiri tubuhku. 'Perasaan apa ini.' batinku
Seketika wanita tadi lekas pergi keluar dari area pasar tanpa menunggu ibunya, aku terus memperhatikan dia. Seketika ia menoleh kebelakang, tatapan kami bertemu.
Deg
'Tatapan itu.' batinku
"Riana." tanpa sadar aku bergumam pelan hanya aku yang dapat mendengar
Disaat ia pergi, aku hendak mengejar namun ada yang membuatku lebih terkejut lagi.
"Ini bu, saya beli yang ini cepat dibungkus ya bu." ucap ibu wanita tadi seraya menyerahkan sayur bayam lima ikat
Deg
Aku mengenali suara itu, rasanya ibuku juga sama buktinya ia menoleh kearah ku. Kami kembali menoleh kearah wanita paruh baya ini, disaat ia hendak pergi dengan refleks aku mencekal tangannya.
Seketika ia sangat terkejut, saking terkejut nya selendang yang ia gunakan untuk menutupi sebagian wajahnya terlepas.
Deg
"Mbok Sri." gumamku
Disaat aku dan ibu masih terkejut, ia lekas melepaskan cekalan tanganku dan berlari.
__ADS_1
...****************...