
Hingga dimalam harinya, Mahendra menepati janjinya untuk datang kembali. Setelah sampai didepan pintu, ia segera mengetuk.
Tok tok tok
Dua kali ketukan namun tidak ada sahutan, tidak menyerah Mahendra mengetuk kembali dengan sedikit lebih keras.
Tok tok tok
Ketukan itu pun terdengar hingga ke dapur, membuat mbok Sri dan Ratna ibunya Damar yang sedang memasak sontak saling berpandangan.
"Siapa ya kira kira?." tanya ibunya Damar
"Biar saya saja yang buka yo." sahut mbok Sri
Ibunya Damar hanya mengangguk, segera mbok Sri melangkahkan kakinya kearah pintu utama.
Krieeettt
Pintu berderit tanda dibuka, setelah pintu dibuka lebar menampakkan wajah tampan yang sudah lama menunggu.
"Loh nak Mahen toh." ucap mbok Sri
"Njih mbok, saya ingin bertemu dengan Riana." sahut Mahen seraya meringis
"Silahkan masuk nak Mahen." ucap mbok Sri seraya mengibaskan sebelah tangannya tanda mempersilahkan masuk
Mahendra segera masuk kedalam dan duduk diruang tamu, mbok Sri pun segera menghampiri Riana didalam kamarnya.
Tok tok tok
"Nduk." ucap mbok Sri memanggil seraya mengetuk pintu pelan
Hal itu pun membuat atensi wanita cantik yang sedang bersemedi segera membuka mata dan menoleh kearah pintu, tanpa beranjak ia bertanya.
"Ada apa mbok?"
"Diruang tamu ada nak Mahen nduk."
"Yasudah, katakan saja agar menunggu Riana sebentar." ucap Riana
"Njih." sahut mbok Sri kembali ke ruang tamu
Setelah mengatakan kepada Mahen bahwa Riana akan datang sebentar lagi, mbok Sri kembali ke dapur untuk membuatkan minuman wedang uwuh dan segelas kopi.
__ADS_1
Tidak lama berselang setelah mbok Sri pergi, Riana pun muncul dari balik pintu kamar dan segera menghampiri Mahendra yang sudah lama menunggu.
"Maaf yo sudah membuat kamu nunggu lama." ucap Riana seraya duduk di kursi rotan yang bersebelahan dengan Mahen
"Tidak apa apa kok." sahut Mahen seraya tersenyum
"Ada keperluan apa?" tanya Riana
"Tidak ada yang penting sih, cuma pengen bertanya sesuatu saja." ucap Mahen
Riana mengernyitkan alis bingung, saking bingung nya alisnya hampir menyatu.
"Apa?" tanya Riana penasaran
Belum sempat Mahen menjawab, mbok Sri terlihat datang dengan membawa nampan yang berisi wedang uwuh untuk Riana sementara kopi untuk Mahendra, serta cemilan pisang goreng.
"Monggo diminum dan dimakan cemilannya, maaf yo cuma seadanya saja." ucap mbok Sri seraya meletakkan semua yang ada di nampan
"Matur nuwun njih mbok, ini saja sudah cukup kok." sahut Mahen
Setelah itu mbok Sri segera kembali ke dapur.
"Apa?" ulang Riana yang sangat penasaran
Sementara Riana sedang terpaku, mulutnya terasa kelu setiap kali ada yang membahas keluarga nya. Namun segera ia menetralkan pikiran nya, karena ia juga sangat penasaran.
"Apa." ucap Riana
"Apa dulu bapak kamu atau salah satu keluarga kamu ada yang bermasalah dengan seseorang?" tanya Mahen hati hati
Pertanyaan itu pun masih terdengar ditelinga mbok Sri yang masih berada diruang tengah, wajar saja karena rumah ini lumayan besar walaupun berbentuk panggung.
Mbok Sri spontan mengalihkan pandangan nya kearah ruang tamu, wanita paruh baya itu tampak terdiam sejenak. Kemudian segera berlalu ke dapur, hal itu pun tidak luput dari penglihatan Riana yang tidak sengaja menatap kearah mbok Sri.
"Sepertinya tidak ada, karena bapak dan semua keluarga ku orang baik. Mereka semua tidak pernah membuat masalah, dan tidak punya musuh. Entah jika seseorang membenci mereka dan memfitnah mereka, kamu tahu sendiri kan bahwa baik saja tidak cukup. Bahkan, mereka bisa saja tidak suka dengan kebaikan kita." sahut Riana tanpa menatap Mahen
Riana sendiri tahu mengapa Mahen menanyakan hal ini, dari penerawangan nya Mahen memang disuguhi berita bohong. Entah apa tujuan abangnya, dan siapa abangnya itu.
Riana kembali bersuara saat Mahen hanya diam saja, kali ini ia menatap mata Mahen.
"Bapak adalah orang yang bijaksana, sama seperti semua keluarga ku. Mereka orang baik, baik terhadap semuanya. Bahkan, mereka sering membantu para warga, bahkan dari warga desa sebelah juga. Hanya ada satu hal kesalahan mereka." ucap Riana
"Apakah itu?" tanya Mahen
__ADS_1
"Kesalahan mereka cuma satu, yaitu tidak merestui hubungan ku dengan seorang pria yang aku cintai dan mencintaiku. Mereka justru menjodohkan ku dengan putra dari juragan di desa sebelah, yang justru hal itu membawa aku dalam kehancuran. Alasan mereka tidak merestui sudah jelas, yaitu karena pria itu anak dari seorang janda yang miskin." Sahut Riana dengan suara bergetar
Bahkan matanya bergerak kesana kemari hanya untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Kenapa mereka tidak merestui, bukankah mereka orang baik?" tanya Mahen yang semakin tertarik mendengar cerita Riana
"Mereka terlalu mendengarkan kata orang, mereka takut jika para warga banyak yang bergunjing, dan mengolok olok. Bahwa, bagaimana bisa putri dari seorang lurah menikah dengan seorang putra dari kalangan miskin." sahut Riana
Mahen hanya terperangah mendengarnya, bahkan mulutnya sudah berbentuk O.
"Apa kamu masih mencintai pria itu?" tanya Mahen entah mengapa hati nya mendadak sakit
Riana tidak menjawab, untuk sesaat suasana mendadak hening hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar. Hingga suara derap langkah terdengar membuyarkan pikiran mereka masing masing, tidak lama tidak jauh dari mereka muncul seorang pria.
Pria yang tampan dan manis, dengan badan yang tegap dan kekar. Tengah berdiri terpaku tidak jauh dari ruang tamu, ia terkesiap menatap wanita yang ia cintai tengah duduk bersama pria lain.
"Damar." gumam Riana
"Ohh, ada tamu. Maafkan aku telah menganggu pembicaraan kalian, tadi aku sudah mengetuk pintu namun tidak ada sahutan sebab itu aku masuk saja dan kebetulan tidak dikunci." ucap Damar apa adanya
Damar memang sudah mengetuk pintu berkali kali, sedangkan mbok Sri dan Ratna sibuk didapur yang dimana terdengar hanya suara penggorengan. Sementara Riana dan Mahen mungkin terlalu larut dalam pembicaraan mereka mengenai masalalu hingga tidak terdengar suara ketukan, jadilah tidak ada yang membukakan pintu.
"Maaf aku tidak mendengar Damar." ucap Riana
"Tidak apa apa, toh pintunya tidak terkunci. Justru aku yang meminta maaf telah menganggu pembicaraan kalian yang sepertinya sangat serius, andai aku tidak masuk dulu." sahut Damar seraya tersenyum getir
Hening, tidak ada yang berbicara.
"Kamu bisa masuk sesuka Hatimu damar, karena bude sudah tinggal disini. Jadi tolong, jangan katakan itu lagi." ucap Riana memecah kesunyian
"Baiklah, aku menemui ibu dulu. Sekali lagi maaf, maaf karena sudah menganggu." ucap Damar seraya berlalu ke dapur dimana ada ibunya disana
Riana hanya menatap punggung Damar sendu hingga tidak terlihat, ia tahu bahwa pria itu sekarang pasti sedang terluka. Namun sekali lagi, ini yang terbaik menurut Riana.
"Apakah ia pria itu?" tanya Mahen yang mengejutkan Riana
"Tidak." sahut Riana cepat
Ia takut jika mengatakan yang sebenarnya maka Damar dalam bahaya.
"Ohh, kalau begitu aku pamit pulang." ucap Mahen
Mahendra pun segera pergi kerumah miliknya.
__ADS_1