Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Kematian Ki Ageng


__ADS_3

Malam sudah menampakkan gelapnya, kebetulan bulan bersinar terang diatas sana ditemani oleh ribuan bintang. Cahaya dari rembulan dan bintang mampu menerangi langkah seseorang untuk berjalan ditengah gelapnya malam, suara burung gagak menemani sepanjang jalannya.


"Huh, aku harus segera bertemu dengan Ki Ageng." gumam seseorang yang tidak lain adalah Ginanjar


Sesekali ia mengusap tengkuknya yang meremang kala merasakan ada seseorang yang meniup tengkuknya, sesekali juga ia akan menoleh kebelakang kala merasakan banyak pasang mata yang mengintai.


"Seram juga ternyata, tahu begini aku mengajak anak buah ku saja tadi. Huh, lagian si Mahendra kenapa lagi tidak mau menemani. Padahal ini kan demi pembalasan keluarga sendiri, mana anak buah ku hilang semua lagi." Ginanjar terus menggerutu sepanjang jalan


Hingga peluh membanjiri tubuh padahal hari sudah malam dan dingin yang menusuk tulang, dan setelah hampir kurang lebih dua jam berjalan ia pun sampai di sebuah gubuk reot dan usang.


"Akhirnya sampai, tapi kok sepi yo biasanya Ki Ageng akan menyalakan obor jika malam hari. Lah ini, sudah seperti rumah setan." gumam nya


Tok tok tok


Krieeettt


Pintu yang memang sudah usang membuat hanya sekali ketukan saja mampu membuat pintunya terbuka.


"Loh kok tidak dikunci." gumam Ginanjar


Perasaan tidak enak dan fikiran buruk seketika menguasai Ginanjar, namun mengingat betapa seram jalan yang ia lalui dimalam hari membuat ia memberanikan diri masuk kedalam gubuk Ki Ageng.


"Yasudah lah, hanya numpang istirahat jika memang Ki Ageng tidak berada didalam." ucapnya meyakinkan diri


Perlahan, ia pun masuk kedalam gubuk itu dan tidak lupa ia menutup pintu dengan menganjal menggunakan batu besar dari dalam.


"Bau apa ini." gumam nya pada diri sendiri seraya menutup hidung menggunakan tangan


Bau busuk yang menyengat mampu mengaduk aduk perut Ginanjar, seketika perutnya langsung bergejolak ria.


Huekk huekk


Tidak mampu menahan bau busuk bercampur anyir ia pun memuntahkan semua isi perutnya sampai tak bersisa, seketika Ginanjar pun merasakan tubuhnya lemah. Ia kemudian duduk bersandar pada tiang penyangga gubuk itu, nafansya bahkan sudah tersengal sengal.


"Dasar kakek tua jorok, rumah sendiri tidak dibersihkan memangnya dia tidak mencium aroma busuk." Ginanjar kembali menggerutu


"Arrggggh."


Deg


Detak jantung Ginanjar bertalu talu, ia merasakan jantungnya hampir lepas dari tempatnya. Disaat tengah menggerutu, ia mendengar suara erangan seseorang.


"Sa...kit." erang sosok itu lagi lirih


Ginanjar kembali mempertajam indra pendengaran nya, ia sudah tidak salah dengar itu memang suara seseorang.

__ADS_1


"Siapa ya, atau jangan jangan Ki Ageng." gumam nya pelan


Kemudian ia perlahan bangkit dari duduknya dan memberanikan diri untuk mengecek siapa gerangan sosok itu, Ginanjar pun berjalan pelan menuju asal suara. Hingga tiba didepan sebuah ruangan matanya terbelalak kaget, ia terkejut dan tanpa sadar mundur selangkah.


"Ki Ageng." desis Ginanjar


Kemudian ia kembali berjalan cepat menghampiri tubuh Ki Ageng yang terbaring diatas ranjang bambu, kondisinya memperihatinkan. Persis seperti apa yang menimpa Bapak, ibu, dan eyang Nyi Danuwati dulu.


Bau busuk yang Ginanjar hirup tadi berasal dari muntahan Ki Ageng sendiri, terkadang ia juga muntah darah kala tidak ada sedikitpun makanan yang masuk kedalam perutnya. Itu sebabnya ada aroma anyir.


"Ki, kenapa Ki Ageng seperti ini." ucap Ginanjar


Ginanjar bertanya dari jarak dua langkah orang dewasa dari Ki Ageng, ia merasakan jijik melihat ruangan dan tubuh Ki Ageng yang sudah bersimbah oleh kotoran mulutnya sendiri.


"Wa...wanita ii..itu." ucap Ki Ageng terbata dan lirih hampir tidak terdengar


Mau tidak mau akhirnya Ginanjar perlahan mendekat agar bisa mendengar ucapan Ki Ageng yang sepertinya sangat penting, untuk sesaat ia menahan perutnya yang sudah kembali bergejolak.


"Ada apa Ki?" tanya Ginanjar dan mendekatkan telinga nya di mulut Ki Ageng


"Wanita i..itu."


"Wanita siapa?"


"Wanita siapa dia siapa yang Ki maksud." ucap Ginanjar penasaran


"Rii..Riana."


Deg


Sekali lagi Ginanjar merasakan hampir mati karena terkejut, seketika mulutnya terkatup rapat. Ia ingin bicara tapi lidahnya terasa kelu, badannya pun seketika sulit digerakkan karena kaku saking terkejutnya.


"Hati hatilah." ucap Ki Ageng yang membuyarkan lamunan Ginanjar


Ginanjar pun kembali sadar dan menoleh kearah Ki Ageng.


"Tapi bagaimana bisa Ki, tusuk konde adalah benda pusaka andalan dan paling sakti milik Nyi Warsih. Harusnya Riana sudah mati, bagaimana mungkin ini..." Ginanjar tidak mampu meneruskan ucapannya


"Di..dia sangat sakti, dia a...akan me...mengincar mu." ucap Ki Ageng


Seketika wajah Ginanjar berubah menjadi pucat pasi, bohong jika ia tidak merasa takut. Ia sudah sangat ketakutan hebat, ia menghawatirkan bagaimana nasibnya setelah ini.


Ki Ageng saja yang terkenal dukun sakti dan memiliki ilmu hitam tinggi mampu dengan mudah dikalahkan oleh Riana, apalagi hanya manusia seperti Ginanjar sendiri.


"Jangan bilang Ki Ageng seperti ini karena dia." ucap Ginanjar

__ADS_1


Ki Ageng hanya bisa mengangguk.


"Dan kekacauan yang terjadi di desa?" tanya Ginanjar


Lagi lagi Ki Ageng mengangguk dan sesekali mengerang kesakitan.


"Arghh sa...sakit." ucap Ki Ageng mengerang kesakitan


"Aku harus bagaimana Ki?" tanya Ginanjar yang sudah dilanda panik


Ki Ageng hanya mampu menggeleng lemah.


"Apa tidak ada cara agar bisa mengalahkan dia?" tanya Ginanjar lagi


Sungguh ia sedang mengkhawatirkan dirinya, ia takut bila apa yang menimpa Ki Ageng juga menimpa dirinya.


"Tidak ada."


Mendengar perkataan Ki Ageng yang mengucapkan tidak ada yang bisa mengalahkan Riana alias Nyi Danuwati membuat Ginanjar kembali dilanda kepanikan, ia sedang berfikir keras bagaimana caranya agar ia bisa aman.


'Aku harus mencari dukun yang lebih sakti lagi dari Ki Ageng.' batinnya


'Yah ide bagus, aku akan mencari dukun yang lebih sakti.' batinnya lagi kala sudah menimbang dan berfikir


"Arggghh." ucap Ki Ageng berteriak semakin kencang


Ki Ageng merasakan hatinya sakit seperti ditusuk tusuk jarum, disaat merasakan kesakitan nya ia kembali mengingat kesakitan dan penderitaan keluarga Pramono kala itu.


Bohong jika Ki Ageng tidak melihat, ia seorang dukun sakti yang bisa saja menerawang keadaan keluarga Pramono kala itu. Dan, bisa saja ia melihat dari air yang sudah dibacakan mantra yang berada di dalam kendi.


Jadi faktanya, Ki Ageng mengetahui dan mendengar setiap keadaan keluarga Pramono dari terawangan nya. Ia melihat jelas kala teluh yang ia kirim bekerja dengan baik di keluarga Pramono, dan ia mendengar jelas segala rintihan kesakitan yang keluar dari mulut keluarga Pramono.


Namun itu semua seolah menjadi sebuah lagu yang mengirama dengan merdu ditelinga nya, apalagi kala melihat wajah Riana yang panik dan dibanjiri oleh air mata kala itu menjadi sebuah pertunjukan lucu baginya. Ditambah tangisan yang menyayat hati dari bibir Riana membuat Ki Ageng tertawa terbahak bahak kala itu, sekarang ia merasakan semua penderitaan dan kesakitan nya.


"Maaf." ucap Ki Ageng sangat pelan bahkan tidak terdengar


Tanpa disadari, air mata meleleh membasahi wajah Ki Ageng yang memang buruk rupa. Melihat hal itu, sontak membuat Ginanjar semakin panik.


"Ada apa ini Ki?" tanya Ginanjar


"Tolong." rintih Ki Ageng


Detik kemudian tubuhnya terasa lunglai, nafas yang masih tersengal sengal tadi kini sudah tidak terasa. Ki Ageng menghembuskan nafas terakhir, bahkan diujung hayat nya ia tidak meminta maaf kepada yang Maha Kuasa.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2