
POV Riana
Pada malam hari ini, tepat tengah malam aku berniat untuk mandi kembang. Setelah tadi aku melakukan pembalasan dendam kepada Nanang, aku ingin rileks.
Aku bersumpah akan menumpaskan mereka satu persatu, mereka harus bertanggung jawab atas semua penderitaan ku.
"Mbok, apa airnya sudah siap?" tanyaku datar tanpa ekspresi
"Sudah nduk, mau mandi sekarang?"
"Iya mbok."
"Baiklah, tunggu sebentar biar mbok siapkan."
Mbok Sri lekas pergi kebelakang, untuk mempersiapkan keperluan ku. Aku berjalan mengikuti mbok Sri, setelah selesai mbok Sri menghampiri ku.
"Sudah nduk." ucapnya
"Terimakasih mbok."
Mbok Sri hanya mengangguk seraya mengusap rambutku, mbok Sri menatapku sendu. Aku tidak ingin menatap mbok Sri, karna pasti mbok Sri akan menangis. Dan itu, akan membuatku mengingat luka lama, dan aku menjadi lemah.
Aku lekas masuk kedalam sumur, dan berendam digentong yang sudah diberkan kembang tujuh rupa. Aku berendam seraya memejamkan mata, mengingat semua penderitaan dan kesedihan ku oleh ulah manusia tidak punya hati.
"Aku sudah menumpaskan tiga kurcaci, kalian bersiap lah." gumamku pelan
...****************...
Keesokan paginya, aku berniat untuk menumpaskan sebagian para bede*ah itu dengan tanganku sendiri. Karna, kerisku juga sudah haus darah. Bukankah semakin banyak akan semakin sakti.
__ADS_1
"Kamu mau kemana nduk?" tanya mbok Sri yang melihat ku keluar
"Membalaskan dendam mbok." sahutku singkat
"Yasudah, kamu hati hati nduk. Jangan sampai kamu kenapa kenapa, si mbok cuma punya kamu saja sekarang." ucap mbok Sri dengan sendu
Aku menoleh kearah mbok Sri, kemudian aku tersenyum dan memeluk mbok Sri. Setelah itu, akupun pergi kedesa Sukar, dengan menggunakan kekuatan dari Nyi Warsih aku berlari secepat kilat.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya akupun sampai. Aku langsung masuk kedalam warung tepat didepan rumah juragan Karno, dari sini aku bisa mengawasi mereka.
Dari sini aku melihat ada tiga orang centeng juragan Karno datang kesini, mereka adalah Mamad, Basuki, Hardi aku masih mengingat mereka kala aku menerawang.
Mereka bertiga masuk kedalam warung.
"Mbak yu, kopi tiga yo." ucap Basuki
Mereka bertiga kemudian duduk dikursi belakang, meja kami bersebelahan hanya berjarak satu meja saja. Aku bisa mendengar apa yang mereka katakan.
"Aku masih tidak percaya kang, kalau kang Nanang melakukan bunuh diri." ucap Mamad mengawali pembicaraan
"Sama Mad, saya juga apalagi Nanang kan tidak ada masalah apa apa." sahut Basuki
"Menurut saya, ada yang janggal sama kematian nya." cetus Hardi
"Opo maksud kamu Har?" tanya Basuki penasaran
"Bisa saja kalau si Nanang dibunuh, terus mereka membuat seolah olah Nanang bunuh diri. Semua orang juga tau kalau si Nanang takut sama ketinggian toh, tidak mungkin ia berani melakukan itu." ucap Hardi menerangkan
"Aku setuju, tapi yo siapa yang membunuh Nanang?" tanya Mamad menimpali
__ADS_1
"Entahlah kang." sahut Basuki
Sejenak mereka menghentikan pembicaraan mereka, kala pemilik warung datang menghampiri dengan membawa nampan berisi tiga gelas kopi.
Setelah pemilik warung itu pergi, mereka melanjutkan kembali pembicaraan mereka yang tertunda.
"Apa menurut kalian ini tidak aneh, dari kematian Darma, Zuki, dan sekarang Nanang. Dimana kita semua terlibat pembakaran rumah pak lurah Pramono, apa mereka yang melakukan ini?" ucap Hardi
"Tapi kang, kan keluarga mereka sudah mati semua kena teluh." ucap Mamad menimpali
Aku mengepalkan tanganku, kala mendengar perkataan mereka.
'Tapi tunggu, mereka mengatakan teluh? Apa mereka tau, atau lagi lagi juragan Karno yang melakukan.' batinku
"Suutttt." ucap Basuki seraya menempelkan jari telunjuk nya ke mulut
"Nanti ada yang mendengar." ucap nya lagi seraya melirik kesana kemari
Dan tatapan mata Basuki berhenti ke arah ku, dan beralih menatap temannya.
"Disini ada orang." ucap Basuki lagi seraya melirik ku
Kedua temannya pun mengikuti arah tatapan Basuki, mereka bertiga menatapku. Aku seolah olah tidak peduli dan tidak melihat mereka.
"Tenang kang, dia tidak akan mendengar." ucap Hardi
Basuki dan Mamad hanya mengangguk, kemudian tanpa bicara lagi mereka menghabiskan kopi mereka. Setelah itu, mereka keluar setelah membayar pesanan mereka.
Aku akan menunggu mereka disini, sampai aku memiliki kesempatan untuk melenyapkan mereka.
__ADS_1