
POV Riana
Hari sudah mulai gelap, kami semua menanti kedatangan keluarga juragan Karno untuk memberikan seserahan hari ini. Bapak sejak tadi sudah tidak sabar menunggu, tidak lama kemudian yang di tunggu pun tiba.
"Kulo nuwun." ucap bude Nining
Kami pun menyambut kedatangan mereka, dan mempersilahkan masuk.
"Mbok tolong siapkan teh nya." teriak bapak
Mbok Sri langsung sigap, ia berlalu ke dapur tidak berselang lama datang kembali membawa nampan berisi teh hangat. Setelah meletakkan teh di atas meja, mbok Sri pamit ke belakang.
"Wahh Riana pasti terlihat cantik memakai ini." ucap ibu antusias seraya memperhatikan kebaya berwarna putih di tangan nya
Aku hanya bisa diam tertunduk, rasanya aku masih belum siap. Ku remas pelan dada ini, kala rasa sesak mulai menghampiri.
"Yoo emang dasar anak nya saja sudah cantik begitu mbak yu, apalagi memakai kebaya ini. Wohh, apik tenan." sahut bude Nining seraya tersenyum lebar
Setelah berbincang sesaat, mereka pun pamit pulang karna hari sudah mulai gelap.
"Kalau begitu, kami pamit yo." ucap juragan Karno
"Iyaa baiklah, hati hati di jalan kang." ucap bapak
Aku hanya tersenyum dan mengangguk sekilas setelah mereka pergi, kami pun masuk ke dalam kamar masing masing dan istirahat. Aku memilih tidur bersama eyang di kamar nya, dua jam setelah pulang dari pasar tadi bersama mbok Sri. Eyang memang sudah datang, banyak yang ingin ku ceritakan pada eyang.
Aku mengetuk pintu kamar eyang pelan
Tok tok tok
Tidak menunggu waktu lama, terdengar ada pergerakan dari dalam kamar.
Cklekk cklek
Kreeek
__ADS_1
Pintu pun terbuka, menampilkan wajah keriput eyang yang sudah lanjut usia.
"Eyang... Riana tidur sama eyang boleh kan?" tanya ku seraya menatap wajah nya
"Boleh toh nduk, sini masuk lagian sudah lama kita tidak tidur bareng. Terakhir dua tahun lalu, kamu pasti kangen toh." sahut eyang seraya tersenyum lebar
Aku mengangguk dan masuk ke dalam, eyang menutup pintu nya lagi dan mengunci nya, kami pun berbaring di ranjang eyang.
"Eyang." panggilku lirih
"Iyaa ada apa nduk? Ada yang ingin kamu ceritakan?" tanya eyang seraya mengelus rambut ku
Aku hanya mengangguk
"Coba ceritakan apa yang menganjal dalam hati mu." ucap eyang
"Eyang, sebenarnya Riana tidak cinta sama mas Purwo. Apakah, nanti pernikahan kami akan langgeng eyang?" sahut ku
Eyang tersenyum lembut
"Nduk jalani saja takdir mu sebagaimana mesti nya, jangan takutkan sesuatu yang belum tentu terjadi." ucap eyang menasehati
"Ini sudah menjadi takdir kamu nduk, kelak suatu saat nanti kamu akan mengerti. Setelah waktunya tiba, kamu akan menumpaskan mereka semua. Pernikahan ini adalah jalan buat kamu nduk, pernikahan ini hanya pancingan." ucap eyang penuh ambigu
Aku mengernyitkan alis bingung.
"Maksud eyang apa?" tanyaku
Tapi eyang hanya tersenyum penuh arti, seraya mengelus tangan ku eyang berkata.
"Sudahlah nduk, jangan pikirkan lebih baik kita istirahat saja besok kamu pasti sangat capek." ucap eyang mengalihkan pembicaraan
Tapi aku tetep kekeh, aku tetap mendesak eyang.
"Tidak eyang, sekarang katakan pada Riana apa maksud eyang." sahutku
__ADS_1
Eyang menghembuskan nafas pelan, seraya menatapku lekat lekat.
"Eyang sudah perkiraan ini sebelumnya nduk, kamu tau eyang. Eyang memliki kemampuan khusus, eyang juga memiliki ilmu hitam, saat eyang menerawang eyang melihat ah sudahlah, intinya pernikahan ini akan membawa pertumpahan darah." ucap eyang yang semakin membuat ku bingung
"Tapi eyang, kalau memang pernikahan ini membawa bencana kenapa tetap di langsungkan." sahutku
Eyang hanya diam tak bergeming, detik kemudian eyang pun memejamkan matanya. Jika sudah begini, aku tidak bisa menganggu lagi aku pun berusaha memejamkan mataku.
...****************...
Keesokan harinya, kami semua di sibukkan dengan serangkaian persiapan menuju akad. Dari siraman, dan lain lain. Hingga sore menjelang, pernikahan pun di langsungkan.
Aku keluar dari kamar dengan kebaya putih, dan kain jarik, lengkap sudah begitu juga dengan wajahku yang sudah di rias. Aku di tuntun berjalan oleh ibuku, sebelum aku duduk aku sempat melihat sosok yang sangat aku rindukan berdiri jauh di bawah pohon sana. Detik kemudian pandangan kami pun bertemu.
"Silahkan duduk cah ayu." ucap penghulu membuyarkan lamunan ku
Aku pun lekas duduk di samping mas Purwo, dengan mata masih tertuju pada mas Damar. Aku menatap nya dengan penuh kerinduan, sedangkan ia menatap ku dengan sendu.
Disaat ijab kabul, mas Damar pun pergi. Jujur aku ingin mengejar, tapi sudahlah.
'Semoga kamu bahagia mas.' batinku
"Akhirnya kalian resmi menjadi suami istri." ucap penghulu
Semua tamu yang ada disini sangat bahagia, tapi tidak denganku. Setelah semua acara selesai, dan tamu undangan juga sudah pergi aku diboyong oleh keluarga juragan Karno ke rumah nya.
Ibu, eyang, dan bapak melepas ku dengan mata berkaca kaca.
"Kamu baik baik disana ya nduk." ucap bapak seraya memelukku
"Nggeh pak." ucapku lirih
(Iya pak )
"Ingat nduk, kamu jangan sedih jalani saja takdir nya." ucap eyang disaat aku memeluk nya
__ADS_1
Ibu hanya mengelus kepala dan mencium kening ku, aku balas mencium kening ibuku kami berpelukan sesaat sebelum kami pergi. Setelah berpamitan, kami bergegas pergi meninggalkan pekarangan rumah mataku masih menoleh ke belakang sampai tak terlihat lagi.
...****************...