
Disaat tengah melatih kekuatannya, Riana mencium bau bangkai busuk dicampur anyir. Seketika ia mengendu-endus aroma bau itu, dan tiba tiba terdengar seperti seseorang menyeret kakinya diatas daun kering.
Srekkk Srekkk
Spontan ia mengalihkan pandangan nya ke segala penjuru, matanya awas melihat sekitar.
"Tunjukkan wujud mu." ucap Riana
Seketika angin berhembus semakin kencang, dingin yang menusuk tulang. Aroma bau bangkai semakin menyengat hidung, hingga tiba tiba sosok Buto Ireng terlihat.
Sosok yang menyeramkan dengan tinggi dan ukuran badan yang sangat besar, seluruh tubuhnya dipenuhi oleh bulu yang sangat lebat. Taring dan kukunya sangat panjang, dengan mata merah menyala.
"Ggrhhh." sosok Buto Ireng mengeram
"Mengapa kau menganggu ku." ucap Riana tidak ada ketakutan sedikitpun diwajahnya
"Grrhhhh." sosok itu hanya mengeram
"Katakan." sentak Riana
"Aku hanya ingin menjadi anak buahmu." ucap Buto Ireng dengan suara besar dan ganda
Riana hanya menanggapi dengan sinis, kemudian ia menatap kearah Buto Ireng. Tidak bisa ditampik, Riana merasakan aura negatif yang sangat besar oleh sosok itu.
'Jika aku mengangkat nya menjadi anak buahku mungkin akan berguna.' batin nya
"Mengapa kau mau menjadi anak buahku."
"Karena aku merasakan kekuatanmu sangat tinggi, aura yang terpancar dari tubuhmu pun tidak main main."
"Baiklah aku mengangkat mu sebagai murid ku."
"Terimakasih." ucap Buto Ireng memberi hormat
Riana hanya membalas dengan anggukan.
Riana kemudian kembali melatih ilmunya, hingga menunggu pagi datang.
...****************...
Sementara Damar baru saja mengantar mbah Sastro.
"Mampir dulu le." ucap mbah Sastro
"Matur nuwun mbah, tapi ora usah. Takut ngerepotin, lagian sudah malam." sahut Damar
__ADS_1
"Yowes, jenengan hati hati yo."
Setelah berpamitan, Damar segera mengayuh sepedanya meninggalkan mbah Sastro yang menatap Damar dengan sendu. Damar berniat untuk kedesa Sumbul dan menceritakan semua kejadian tadi, tanpa mampir kerumahnya ia segera berlalu.
Bahkan teriakan Kemal sahabatnya sedari kecil pun tidak terdengar olehnya.
"Mar... Damar." ucap Kemal berteriak
Namun yang dipanggil tidak mendengar, dan melaju begitu saja.
"Itu anak mau kemana yo, rumahnya kan disini." gumam Kemal
"Aneh." desis nya seraya menggaruk kepala yang tidak gatal
Kemal kemudian masuk kedalam rumahnya, ia tadi ingin menemui Damar berniat untuk menawarkan dirinya agar membantu pembangunan rumah mendiang lurah Pramono dulu.
Sementara Damar terus mengayuh sepedanya, hingga sekian lama terlihat gapura desa Sumbul. Segera ia melaju dengan kecepatan kencang, hingga tiba dihalaman rumah Riana ia segera menaruh sepedanya disamping rumah.
Tok tok tok
Damar mengetuk pintu, tidak lama terdengar pergerakan dari dalam.
Cklekk
Pintu terbuka lebar menampakkan wajah ibunya, ibunya yang melihat Damar seketika terlonjak kaget.
"Loh, kamu toh le." ucap ibunya seraya menyuruh Damar masuk
"Sopo?" tanya mbok Sri seraya berjalan mendekat
"Iki Damar mbak yu." sahut ibunya Damar
Mbok Sri yang melihat Damar masih kucel segera menyuruhnya untuk mandi kemudian makan, Damar pun mengikuti tanpa bantahan.
Ia segera mandi dan memakai pakaian yang baru, tepatnya pakaian nya yang tertinggal dulu, kemudian makan malam bersama. Setelah makan, mereka berkumpul diruang tamu.
"Emm... mbok tahu tidak keberadaan Riana?" tanya Damar membuka suara
Mbok Sri tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Damar menunggu perkataan nya selanjutnya.
Damar menghela nafas, kemudian ia menceritakan tentang kejadian tadi. Mbok Sri dan ibunya yang mendengar seketika kaget, terutama mbok Sri wajahnya sudah pias.
'Aku harus menemui cah ayu besok.' batin mbok Sri
"Mbok tidak tahu dia ada dimana, kamu tenang saja mbok yakin ia bisa jaga diri." ucap mbok Sri
__ADS_1
Damar hanya bisa pasrah, Damar yakin mbok Sri pasti tahu Riana ada dimana. Namun Damar tidak bisa memaksa, ia juga yakin ini pasti permintaan Riana.
'Semoga kamu baik baik saja, mas tidak mau kehilangan kamu lagi.' batin Damar
Ia mengusap kasar wajahnya, ibunya hanya bisa menenangkan putra nya dengan mengelus punggung Damar.
...****************...
Sementara dikediaman Ki Ageng, terlihat Mahendra mengintip dari celah lubang. Ia melihat Ginanjar tengah duduk berhadapan dengan Ki Ageng, hanya ada meja yang berisi sasajen sebagai pemisah mereka.
"Masuklah." ucap Ki Ageng tiba tiba seolah menyambut kedatangan seseorang
Sontak Ginanjar terheran heran, ia penasaran siapa yang disuruh masuk oleh Ki Ageng. Sementara Mahendra, ia terlihat kelimpungan.
"Duh, dia kan dukun pasti dia tahu." gumamnya
"Masuk saja lah." ucap nya
Mahendra hendak membuka pintu, namun ia ragu kala mengingat sesuatu.
"Tunggu, dia dukun. Bagaimana jika ia tahu bahwa aku sudah bertemu dengan Riana, sial bagaimana sekarang." ucapnya
Pada akhirnya ia pun memberanikan diri untuk masuk, setelah pintu terbuka ia segera masuk dan disambut oleh tatapan terkejut dari abangnya.
Mahendra kemudian menutup pintu dan bersikap biasa aja, ia kemudian menghampiri Ginanjar dan duduk disebelah nya.
"Tumben kamu kesini." ucap Ginanjar curiga
Mahendra memang tidak pernah ikut kesini, ia tahu Ki Ageng hanya melalui cerita abangnya. Kemudian pernah sewaktu waktu ia mengikuti Ginanjar diam diam karena penasaran, setelah sampai ia segera pergi itu sebabnya ia tahu jalan.
Namun Ginanjar tidak terfokus dengan keanehan Mahendra, ia lebih tertarik dengan pembahasan Riana dengan Ki Ageng.
"Bagaimana Ki, apa sudah ada perkembangan?" tanya Ginanjar kepada Ki Ageng
Mahendra yang penasaran mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk, ia menatap Ki Ageng. Seketika matanya terbelalak, secepat kilat ia kembali menunduk.
'Wajahnya sangat menyeramkan.' batin Mahendra
Seluruh tubuh Ki Ageng yang berkulit hitam, wajahnya yang terdapat luka memanjang serta jenggot yang panjang menambah kesan menakutkan.
"Tidak ada." sahut Ki Ageng
"Tapi saya akan mencoba, kalian pulang saja." ucap Ki Ageng lagi
Sepertinya ia tidak ingin Mahendra mendengar, dengan berat hati mereka meninggalkan tempat itu.
__ADS_1