Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Bertemu pria tua


__ADS_3

"Maafkan Sekar pak hiks hiks hiks, Se...Sekar khilaf." ucap Sekar mencoba memegang tangan sang bapak walaupun berulang kali ditepis oleh mang Kurdi


"Jangan mendekat." sahut mang Kurdi


Mang Kurdi kini hanya bisa menangis pilu meratapi nasib nya, ia malu kepada Damar dan Riana. Ia merasa telah gagal mendidik anak dan gagal menjadi orang tua, ia tidak percaya putri semata wayangnya yang terkenal baik tega melakukan hal keji.


"Bapak malu." ucapnya seraya menggeleng lemah


Damar yang tidak tega kepada mang Kurdi kini menghampiri pria paruh baya itu.


"Saya ingin mengatakan sesuatu yang penting pakde, tapi sebaiknya kita kerumah pakde saja dulu." ucap Damar


Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu menuju rumah mang Kurdi, tidak lupa mengajak Sekar. Sesampainya disana, mereka semua masuk kedalam.


"Ibu masih hidup." ucap Damar membuka suara setelah duduk di lantai yang dialasi tikar pandan


Mendengar pernyataan itu, seketika mang Kurdi tersedak oleh ludah sendiri. Sementara Sekar, ia terbelalak kaget bahkan matanya hampir keluar.


"Ba...bagaimana bisa." ucap Sekar terbata


"Ada yang menolong nya, kalian tidak perlu tahu siapa. Yang penting ibu masih hidup, dan masalah ini mungkin aku akan berusaha memaafkan kamu Sekar." ucap Damar di kalimat terakhir menatap Sekar


Damar sengaja menutupi, ia tidak ingin jika semua orang tahu tentang Riana. Lagi pun, ini permintaan Riana sendiri.


"Ta...tapi hantu itu, tidak mungkin jika ada hantu bude jika bude masih hidup." ucap Sekar lagi


"Itu hanya ketakutan kamu sendiri saja, makanya sebelum bertindak alangkah baiknya jika dipikirkan dulu." sahut Damar


Sekar seketika menunduk.


"Maaf." ucapnya lirih


"Tapi mulai sekarang aku minta sama kamu, tolong jangan muncul didepan ku lagi. Jangan pernah ganggu dan temui aku lagi, kamu mengerti." ucap Damar


Seketika Sekar mengangkat kepalanya menatap Damar, dari pancaran matanya terlihat jika Sekar tidak terima dan sedih. Sekar menggeleng pelan, melihat itu mang Kurdi yang sedari tadi diam kini buka suara.


"Bapak setuju, sebaiknya kamu ikuti permintaan Damar. Atau, bapak akan mengirim kamu ke kota lagi." ucap mang Kurdi mengancam


Sekar pun terlihat pasrah, matanya bahkan mulai terlihat berkaca kaca.

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit dulu njih." ucap Damar sopan


"Ya Allah Gusti, pakde lupa suguhin teh pie toh." pekik mang Kurdi


"Tidak perlu pakde, wong Damar cuma mau bilang itu saja."


"Tapi selama ini ibumu dimana, kok tidak pernah kelihatan?" tanya mang Kurdi


Damar hanya tersenyum tipis menanggapi, ia tidak ingin orang orang tahu ibunya ada dimana. Mengingat sekarang ada bahaya dimana mana, mang Kurdi yang paham hanya mengangguk mengerti.


"Wes tidak perlu dijawab." ucapnya


Setelah berpamitan, Damar segera mengayuh sepedanya. Ia berniat untuk pulang ke rumahnya, namun tiba tiba ditengah jalan.


Brakkk


"Arghhh."


Damar tidak sengaja menabrak pria yang sudah sepuh, lantaran Damar tidak melihat jalan dengan jelas. Dikarenakan ia sudah sangat lelah, ditambah lapar dan mengantuk.


Untung saja pria tua itu tidak terluka, Damar segera turun dari sepeda dan membantu pria tua itu.


"Tidak apa nak, saya juga salah." sahut pria tua bersorban putih dan pakaian terusan berwarna putih juga


"Sebagai permintaan maaf saya, saya akan mengantar mbah pulang." ucap Damar


"Wes ora, mbah bisa sendiri." sahut pria tua itu menolak halus


"Tidak mbah, saya akan mengantar mbah pulang." ucap Damar tetap pada pendirian nya


Pria tua berpakaian serta sorban kepala berwarna putih itu tersenyum.


"Yowes terimakasih yo, nama saya Sastro panggil saja mbah Sastro." ucap pria tua yang ternyata bernama Sastro


"Njih mbah Sastro, nama saya Damar mbah."


"Matur nuwun njih nak Damar."


Damar pun membonceng mbah Sastro untuk mengantarnya pulang, mbah Sastro pun terlihat mengerahkan jalan.

__ADS_1


...****************...


Sementara jauh diatas bukit, masih dimalam yang sama terlihat wanita cantik tengah berjalan ditengah gelapnya malam.


Rambutnya dibiarkan tergerai panjang dengan hiasan bunga sedap malam di kepala, sesekali rambutnya akan tersibak oleh angin malam.


Lingsir wengi


Sepi durung bisa nendra


Kagodha mring wewayang


Ngerindhu ati


Kawitane


Mung sembrana njur kulina


Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna


Ia menyanyikan tembang lagu Lingsir Wengi dengan suara yang mendayu, lembut, dan halus. Ia terus bernyanyi seraya berjalan menyusuri semak semak ditengah malam, kemudian langkahnya terhenti kala melihat sebuah batu yang sangat besar dan berwarna hitam pekat.


Ia berjalan kearah batu itu, kemudian ia naik keatas dan duduk bersila. Tangannya ia tangkup didepan dada, kemudian ia memejamkan mata dan merapalkan suatu ajian.


Seketika angin berhembus kencang, menerpa rambutnya. Namun ia tak bergeming, ia tetap bersemedi.


Kemudian tiba tiba ia membuka mata, dan secepat kilat ia menarik keris yang selalu ia selipkan di pakaian nya. Kemudian segera ia melompat tinggi, dan menerjang pohon.


Wushhhh


Brakkk


Brakkk


Setiap kali ia menjejakkan kakinya di salah satu pohon, maka pohon itu akan tumbang. Kemudian ia menukik cepat menuju salah satu pohon dengan menghunuskan kerisnya, kemudian.


Brakkk


Pohon itu terbelah menjadi dua, kala kerisnya menusuk pohon itu. Begitulah ia sampai pagi datang, ia setiap malam akan mengasah ilmu nya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2