
Setelah cukup lama menunggu dibawah besarnya pohon yang tumbuh menjulang tinggi, akhirnya tengah malam pun tiba. Mamat pun bangkit berdiri dengan seluruh tubuh yang bentol bentol kemerahan akibat gigitan nyamuk, tidak jauh berbeda dengan Yayan.
Mereka pun berjalan beriringan seraya memegang nampan masing masing, tampak tubuh Mamat dan Yayan bergetar karena dinginnya malam. Namun anehnya, baru selangkah mereka memasuki hutan larangan suasana tampak berbeda.
Suasana di hutan larangan lumayan hangat, tubuh mereka yang tadinya bergetar hebat akibat dinginnya malam kini berganti dengan hawa hangat yang menjalari tubuh membuat mereka merasa nyaman.
Namun suasana tampak hening, tidak ada satupun hewan sejenis jangkrik, atau bahkan nyamuk sekalipun. Disaat kebingungan mereka terdengar sayup sayup suara gamelan, semakin lama semakin jelas juga suara itu.
"Suara apa itu?" tanya Yayan
"Aku tidak tahu." sahut Mamat yang sudah dilanda ketakutan
"Suaranya sangat dekat tapi dimana? Tidak ada apapun disini." ucap Yayan yang tidak mendapatkan jawaban dari Mamat
Mamat dan Yayan pun mencari asal suara, mereka menoleh ke sembarang arah namun tidak menemukan apapun. Mereka kembali menoleh kebelakang masih sama, tidak ada apapun.
Disaat mereka kembali menoleh kedepan kedua mata Yayan dan Mamat terbelalak kaget, tampak didepan sana terlihat istana yang sangat besar dan megah. Disetiap dinding nya bahkan atapnya terbuat dari emas, emas itupun berkilauan membuat istana itu semakin indah.
__ADS_1
"Aku ora mimpi kan?" tanya Mamat memastikan seraya menggosok gosok kedua mata
Tapi sebanyak apapun Mamat mengusap usap matanya, atau bahkan sebanyak apapun ia berkedip hasilnya tetap sama. Istana yang terpampang didepan sana tetap ada, tidak menghilang barang sedetik pun.
Bahkan didepan istana itu terlihat para danyang menari dengan lemah gemulai mengikuti alunan suara gamelan, lagi lagi Mamat dan Yayan tidak berkedip melihat para wanita yang cantik sedang menari dengan lihai.
"Cantik." gumam Yayan tanpa sadar
Setelah suara gamelan itu berhenti, para danyang pun seketika berhenti menari.
"Kenapa berhenti sih." keluh Yayan
"Ko..kok hilang." ucap Mamat
"Lah iyo, kok istana nya sudah tidak ada yo." sahut Yayan lebih tepatnya gumaman pada diri sendiri
"Ja...jangan itu tadi demit." sahut Mamat semakin ketakutan
__ADS_1
Mendengar ucapan Mamat yang spontan membuat Yayan kesulitan menelan saliva, seolah ada sesuatu didalam tenggorokan nya membuat ia bersusah payah meneguk liurnya.
"Sudah, sebaiknya kita lekas melakukan apa yang seharusnya kita lakukan." ucap Yayan
Mereka berdua pun kembali berjalan kedepan tepat didepan sana ada batu besar yang berwarna hitam, setelah sampai didepan batu besar itu mereka segera meletakkan nampan masing masing diatas batu. Mamat segera menyalakan dupa yang dicampur dengan kemenyan, sementara Yayan membuka daun pisang yang digunakan untuk menutup kepala kerbau.
Setelahnya mereka berdua pun duduk bersila dengan mengatupkan kedua tangan didepan dada, kemudian tampak Yayan merapalkan mantra. Sementara Mamat hanya diam, sebab ia tidak tahu harus merapalkan apa.
Hingga lima menit berselang tampak angin berhembus kencang, namun anehnya mereka tidak merasakan kedinginan sedikitpun. Suasana masih tetap sama yaitu pengap hingga membuat tubuh Yayan dan Mamat hangat, padahal angin semakin kencang berhembus.
Hingga semakin lama angin itu tampak berkumpul di satu titik, yaitu tepat didepan batu besar. Tidak lama angin itu pun membentuk pusaran setinggi manusia dewasa, hingga perlahan terlihat jelas seorang wanita cantik memakai kemben merah membelakangi mereka seiring dengan menghilang nya angin.
Mamat dan Yayan masih belum tersadar karena posisi mereka menunduk, hingga Mamat yang dilanda ketakutan pun menatap awas kesana kemari sampai tatapan matanya tertuju pada seseorang didepan nya hanya ada batu besar sebagai penghalang. Sedetik kemudian, Mamat melongo menatap sosok itu.
'Mirip seperti yang ada dalam mimpiku.' batin Mamat
Hingga reflek tangannya menepuk pundak Yayan yang berada disebelahnya, Yayan yang sedikit kesal karena rapalan nya terganggu lekas mendongak menatap Mamat.
__ADS_1
Tidak lama kekesalan nya itu berganti dengan tatapan bingung, kemudian Yayan pun mengikuti arah pandang Mamat.
...****************...