Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Sungguh Aneh


__ADS_3

Tampak wajah hancur penuh belatung didepan mata, sosok itu menyeringai hingga mulutnya melebar sampai telinga. Kulit daging diwajahnya berjatuhan bersamaan dengan belatung yang menggeliat, bola matanya yang berwarna putih secara keseluruhan.


"Grrhh." Sosok itu mengeram penuh amarah.


Jangan ditanya Nurdin dan Yanto, mereka berdua terlihat semakin ketakutan. Wajah mereka pias dan pucat seketika, anehnya tubuh mereka menggigil namun wajah mereka dipenuhi dengan peluh sebesar biji jagung.


Entahlah, mereka menggigil namun juga berkeringat. Mereka berkeringat namun hari sudah malam terlebih dibawah kaki gunung yang otomatis memiliki cuaca yang dingin, tubuh mereka berdua gemeteran tak terhingga.


"Tolong pergi!" Seru Nurdin yang bahkan tidak berani menatap kearah sosok yang mengeringkan itu.


Mereka berdua menunduk enggan melihat kedepan, sementara kuda semakin melaju dengan kecepatan tinggi hingga hampir membuat delman beserta penumpang nya terjungkal.


"Tolong." Nurdin berteriak kencang yang pastinya hanya sia sia karena mereka kini sedang berada di hutan larangan yang tidak pernah dijamah manusia.


Sementara Yanto memilih meringkuk saja, ia terlalu penakut jika dihadapkan dengan situasi seperti ini. Itu sebabnya mereka semua pindah ke kota untuk menghindari hal ini, namun lihatlah sekarang kini mereka sendiri yang menjemput ketakutan itu.

__ADS_1


Nurdin perlahan memberanikan diri untuk mengangkat kepala dan menoleh kedepan, kosong. Tidak ada siapapun kecuali kuda yang terus melesat itupun tidak ada yang tahu kuda itu asli atau kiriman sang ratu keraton, sementara sosok yang mengerikan tadi kini hilang entah kemana menyisakan mereka berdua.


"To, sosok tadi kemana?" Tanya Nurdin dengan suara bergetar.


Mendengar pertanyaan dari temannya membuat Yanto pun ikut memberanikan diri untuk menoleh, dan lagi lagi kosong. Makhluk menyeramkan itu benar benar menghilang menyisakan dua manusia yang kelimpungan, meski begitu mereka kini sudah bisa bernafas lega.


"Ora usah dipikir, sekarang pikirkan saja bagaimana bisa keluar dari sini." Ucap Yanto.


"Atau kita lompat saja?" Nurdin mengusulkan ide gila.


Bagaimana tidak gila, jika melompat disaat seperti ini kemungkinan akan cidera atau bisa saja patah tulang. Namun tetap bertahan pun bukan pilihan yang bagus, Yanto tampak memikirkan pendapat Nurdin.


"Terus pie iki?" Nurdin terlihat semakin gamang.


Kiikkk

__ADS_1


Hingga secara tiba tiba kuda tersebut berhenti dan spontan membuat Nurdin ataupun Yanto terjungkal kedepan dengan kuat, saking kuatnya bahkan mereka terlempar lima meter dari jarak kuda berada.


"Aduh."


"Aww sakit sekali."


"Kuda sialan."


Berbagai macam erangan dan umpatan terdengar dari kedua mulut mereka berdua, tidak ada yang menyadari jika mereka berdua telah masuk kedalam wilayah hutan larangan. Sepertinya mereka mengalami terkilir atau justru patah tulang, hingga beberapa saat mereka pun berusaha untuk bangkit walaupun sakit dan tertatih.


"Loh, kuda delman nya kemana?" Tanya Yanto yang terkejut melihat kuda delman yang hilang tiba tiba.


Lekas Nurdin pun melihat ketempat dimana kuda tadi bertengger.


"Hilang." Gumam nya

__ADS_1


Dan kini mereka menyadari jika hutan yang mereka tempati sekarang berbeda dengan hutan yang mereka lalui tadi, sepanjang jalan yang mereka lalui hanya ada hamparan kegelapan. Sementara hutan yang mereka jejaki sekarang lumayan terang padahal tidak ada sinar rembulan ataupun bintang, semakin takutlah mereka.


"Bagaimana ini?" Tanya Yanto yang sudah tidak sanggup berdiri.


__ADS_2