
POV Riana
Keesokan harinya, di pagi yang cerah. Aku hanya diam memandang pemandangan hutan dari arah jendela dengan pandangan yang kosong. Entah kenapa, didalam dadaku ada kemarahan dan kebencian yang mendalam.
Tiba tiba mbok Sri keluar dari kamar, dan menghampiri ku.
"Kamu kenapa nduk?" tanya nya
Namun aku hanya diam, sorot mataku semakin tajam. Ntah mengapa, mungkin ini adalah pengaruh dari keris itu. Aku menoleh kearah mbok Sri, dan. berkata dengan nada datar.
"Mbok Sri, tolong belikan ayam cemani dan kembang tujuh rupa." ucapku datar
Aku sekilas menoleh kearahnya ada rasa penasaran di wajah nya, namun mbok Sri tidak berani bertanya dan akupun malas menjelaskan.
"Baik nduk." ucapnya
"Pakai caping milik eyang yang tergantung di dekat pintu mbok, aku tidak mau ada yang mengenali mbok. Biarlah, mereka tau jika kita sudah mati." ucapku datar penuh penekanan
Mbok Sri hanya mengangguk, dan lekas pergi setelah memakai caping dan selendang.
Aku memutuskan untuk kekamar, setelah memastikan mbok Sri pergi. Aku memang sengaja menyuruh nya membeli beberapa kembang dan ayam cemani, karna semalam setelah selesai makan aku ingin tau bagaimana cara mengunakan keris ini.
Setelah aku memegang keris itu semalam, tiba tiba ada bisikan jika aku ingin memakainya aku harus membaluri keris itu dengan ayam cemani dengan campuran darahku setelah itu aku meminum darah ayam itu sebagian, dan harus mandi menggunakan air kembang tujuh rupa.
Tidak hanya itu saja, aku juga harus datang ke hutan keramat menemui penunggu nya untuk menambah kekuatan ku.
__ADS_1
...****************...
Setelah menunggu lama, akhirnya mbok Sri pulang ia meletakkan barang belanjaan nya di tikar yang terbuat dari pandan.
"Apakah mbok Sri tadi ada yang melihat?" tanyaku
"Tidak nduk, aman." ucapnya
"Eh.. mbok mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan namaku, aku takut nanti mbok Sri keceplosan dan orang orang tau. Bisa bisa, kita kalah sebelum berperang." ucapku.
"Jadi mbok manggil apa?" tanya mbok Sri
Aku diam sejenak tampak berfikir, setelah menemukan nama yang cocok akupun buka suara.
"Panggil aku Sosriveela." ucapku
"Kalau boleh tau apa artinya nduk?" tanya mbok Sri penasaran
"Aku hanya memakai nama keris itu saja mbok." ucapku
"Baiklah nduk." ucapnya
...****************...
Malam harinya, disaat tengah malam kami pun melakukan ritual penyembelihan ayam cemani menggunakan keris Nogososri. Kami duduk di tanah belakang rumah, dengan keadaan penerangan remang remang karna aku sengaja mematikan lampu kearah luar.
__ADS_1
Aku membuka warangka keris, dan mengeluarkan kerisnya. Aku kemudian mulai menyembelih ayam cemani, aku menuangkan darahnya ke suatu wadah yang sudah dipersiapkan.
Kemudian aku meminum sebagian darah itu terlebih dahulu, aroma anyir dan rasa yang kecut, dan pahit aku tahan. Hingga menyisakan sebagian cukup untuk membaluri keris.
Kemudian aku melukai sedikit jari kelingking ku mengunakan ujung keris hingga mengeluarkan darah segar, kemudian aku meneteskan darahku ke wadah yang berisi darah ayam cemani.
Setelah itu, aku pun membaluri darah itu ke keris Nogososro hingga keseluruhan. Kemudian, aku pun mandi menggunakan air yang berisi kembang tujuh rupa yang sudah dipersiapkan oleh mbok Sri.
Aku mulai menanggalkan pakaian ku, hanya dengan menggunakan kemben dan kain jarik. Kemudian aku menyelipkan salah satu bunga kamboja ke telingaku, aku mulai mengambil air itu dengan menggunakan batok kelapa.
Aku mulai mengguyur tubuhku hingga airnya habis tak bersisa, setelah selesai aku kemudian memakai pakaian ku yang sudah disiapkan oleh mbok Sri.
Aku lekas keluar dari sumur, menuju kedalam rumah. Sumur nya memang terletak diluar rumah, diruang depan aku masih melihat mbok Sri.
"Belum tidur mbok?" tanyaku
"Ehh..masih nunggu kamu nduk." ucapnya
"Baiklah, ini sudah larut mari tidur mbok." sahutku
Mbok Sri hanya mengangguk, kami kemudian tidur dikamar masing masing. Karna besok malam, aku harus ke hutan keramat agar kekuatan ku bertambah.
Aku harus bisa membalas mereka satu per satu,
'aku akan membunuh mereka semua tanpa ampun.' batinku
__ADS_1
...****************...