Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Tidak Ada Rasa Empati


__ADS_3

Pagi hari kembali menampakkan sinarnya, warga yang biasanya damai dan tentram kini rusuh akibat mendengar ada yang meninggal. Dan yang meninggal tiga sekaligus, mereka pun kini dilanda cemas.


"Hampir setiap hari ada saja korban berjatuhan."


"Iyo kang, entah siapa lagi korban selanjutnya."


"Saya kok ngeri yo."


"Sama saya juga."


Berbagai spekulasi para warga saling mengeluarkan unek unek nya, beberapa warga pun segera menyusul ke balai desa tempat dimana ketiga jasad itu diletakkan. Sesampainya disana, aroma anyir busuk semakin menguar memenuhi rongga hidung mereka.


"Mambu opo iki?" tanya salah satu warga seraya menutup hidungnya menggunakan caping yang ia bawa


"Iyo kang, seperti bau bangkai busuk tapi ini lebih bau lagi." sahut yang lain


"Sepertinya bau busuk ini dari mayat itu." timpal yang lainnya

__ADS_1


...----------------...


Sementara dirumah Pangeran Segoro tampak pria sepuh dan pemuda sedang membicarakan sesuatu, terlihat dari raut wajah Pangeran Segoro berubah ubah.


"Sepertinya dia hanya ingin menghancurkan orang orang yang membuat ia menderita saja mbah, bukan untuk menghancurkan desa seperti yang kita pikirkan sebelumnya." ucap Pangeran Segoro


"Belum saatnya le, apa kamu lupa kalau ia pernah mengirim teluh kepada warga desa ini? Sumpah nya benar benar berjalan, namun tidak dalam waktu dekat ini. Mungkin saja setelah ia menghabisi orang orang yang menghancurkan hidupnya, hanya dia yang tahu." sahut mbah Sastro


"Tapi jika ia ingin kembali apakah bisa mbah? Maksud saya apakah ia masih manusia?" tanya Pangeran Segoro dengan sangat lirih


Mbah Sastro hanya tersenyum menanggapi ucapan Pangeran Segoro, tampak sorotan mata mbah Sastro begitu teduh.


Pangeran Segoro tampak menunduk mendengar jawaban mbah Sastro, keinginan nya untuk berjalan bersama dijalan yang benar, menuntun ke jalan yang benar bersama pujaan hatinya masih ada.


"Wes kita ke balai desa saja, kasihan jasadnya jika terlalu lama terkena angin dunia." ucap mbah Sastro


"Njih mbah."

__ADS_1


Mereka berdua pun segera keluar dari rumah kecil milik Pangeran Segoro, meskipun sejujurnya Pangeran Segoro sangat malas mengurus jasad itu mengingat mereka ikut andil dalam menghancurkan wanita yang ia sayangi. Yaitu, Ratna ibunya, Hayati adiknya, dan Nyi Danuwati.


Ditengah jalan mereka bertemu dengan rombongan mang Kurdi, ternyata mang Kurdi beserta mbah Bayan ingin menghampiri mbah Sastro untuk mengajak ikut serta ke balai desa.


"Sudah sebaiknya kita kesana sekarang." ucap mbah Sastro


Mereka berempat pun berjalan menuju balai desa, sesampainya disana ternyata sudah banyak orang berkerumun. Melihat kedatangan rombongan mbah Sastro, para warga lekas memberi jalan kepada mereka berempat.


Didalam sudah ada keluarga korban beserta petinggi desa, tangisan menyayat hati begitu menggema memenuhi ruangan balai desa yang lumayan besar. Mengingat tempat itu sering digunakan untuk rapat mendadak bersama para petinggi yang lain, ataupun bersama para warga.


"Apa jenazah itu sudah dimandikan?" tanya mbah Sastro kepada lurah didesa itu


"Belum mbah, tidak ada yang mau. Satupun tidak ada yang berani meskipun diimingi bayaran mahal, dan keluarga mereka pun belum mau lepas dengan jenazah." sahut pak lurah


Mbah Sastro pun menghela nafas dalam, kemudian pria sepuh itu menoleh keluar dimana para warga berkerumun hingga tampak seperti pasar yang sedang mengadakan discount besar besaran.


Mereka hanya berdiri dan celingak celinguk melihat tiga mayat, tidak ada rasa empati sedikitpun. Mbah Sastro menggeleng kepala pelan, sungguh miris.

__ADS_1


Namun tidak ada yang tahu juga toh? Para warga yang kehilangan rasa empati, atau justru ketiga mayat itu yang terlalu banyak salah sehingga mereka juga mendapatkan karma didunia.


__ADS_2