
Sementara di istana Nyi Danuwati, tampak Nyi Danu menghampiri anaknya dengan senyum lebar. Ia yakin setelah mendengar berita ini, Nyi Danuwati akan senang.
Nyi Danu kemudian lekas menuju kamar anaknya, tanpa mengetuk atau membuka Nyi Danu langsung tembus kedalam kamar Nyi Danuwati.
"Ada apa ibu?" tanya Nyi Danuwati yang heran melihat ibunya yang tidak pernah tersenyum kini tersenyum lebar
"Ada berita penting yang ingin ibu katakan, kemarin kemarin ibu lupa mengatakannya." ucap Nyi Danu
"Berita apa?"
"Setiap malam satu suro akan ada pemujaan besar besaran di hutan larangan ini, yang dimana pemujaan nya di pimpin oleh penunggu hutan angker masing masing...
Penunggu hutan akan membawa pasukan atau orang orang yang tidak beriman yang selama ini menyembah mereka, mereka akan mengadakan pemujaan disini. Karena sosok yang paling berkuasa di hutan angker adalah kita, jadi persiapkan dirimu besok." ucap Nyi Danu
"Itu artinya Nyi Warsih akan hadir?" tanya Nyi Danuwati
Nyi Danu hanya mengangguk seraya tersenyum penuh arti, mereka yang kini sama sama bengis lantas Nyi Danuwati langsung mengetahui arti senyuman itu seketika ikut tersenyum sinis.
"Akankah kita memberinya pelajaran diarea kita, atau ditempat nya saja ibu." ucap Nyi Danuwati meminta saran
"Bukan tempatnya, tapi tempatmu. Semua hutan terangker disini sudah menjadi milikmu karena kamu sudah menjadi penerus, sedangkan mereka hanya penunggu yang ibu tugaskan untuk menjaga. Jika kamu ingin mengusir nya pun, boleh saja." ucap Nyi Danu
Sontak mereka berdua tertawa jahat, Nyi Danuwati sungguh sudah kehilangan jati diri. Kini ia sudah menjadi ratu kegelapan, sedetik kemudian ia menyeringai seram.
"Dan satu lagi." ucap Nyi Danu
Segera Nyi Danuwati menoleh kearah ibunya dengan alis mengernyit.
__ADS_1
"Lepaskan saja sukma kakek tua yang kamu kurung, tidak ada gunanya juga." ucap Nyi Danu tegas
Nyi Danuwati hanya diam saja, meskipun kini ia telah menjadi penerus. Tetap saja ia tidak bisa melawan Nyi Danu, karena sejatinya kekuatan Nyi Danu masih berada diatas Nyi Danuwati walau sedikit.
"Tapi ibu..."
"Ibu tidak menerima penolakan." ucap Nyi Danu dan segera pergi dari kamar Nyi Danuwati
Sepeninggal Nyi Danu, Nyi Danuwati segera bangkit dari duduk panjangnya dan berjalan menuju sel tahanan dengan dikawal oleh lima algojo. Setibanya disana, ia langsung menemui mbah Bayan tanpa berniat membuka pintu sel nya.
"Apa kau ingin terbebas kakek tua?" tanya Nyi Danuwati dengan suara yang sangat lembut namun sinis
Sontak mbah Bayan yang tertidur membelakangi sel seketika menoleh, kemudian ia berdiri dan menuju pintu sel yang masih memiliki celah.
"Sebelum itu kembalikan janin yang kau curi." sentak mbah Bayan
"Anak Barun?" tanya Nyi Danuwati dengan suara lembut mendayu
"Tapi maaf mbah, janin itu sekarang menjadi milikku. Janin itu akan menjadi santapan pengikut setiaku, hmm... lagi pun Barun yang sudah menumbalkan bayinya." ucap Nyi Danu
Mendengar hal itu, seketika mbah Bayan terbelalak kaget ia tidak percaya Barun melakukan hal sekeji itu.
"Jangan berbohong kamu." teriak mbah Bayan
"Hei kakek tua jangan pernah berani berteriak kepadaku, itu sebabnya sebelum kau sok sok an ingin membantu mereka alangkah baiknya jika kau selidiki dari akarnya." sahut Nyi Danuwati dengan berteriak kencang
Ia benar benar sudah berada di puncak kemarahan, sebelum ini tidak ada yang berani membentak nya. Bahkan menyebut namanya saja warga goib tidak berani, beruntung kali ini keberuntungan berpihak pada mbah Bayan. Jika tidak, mungkin sukma nya sudah hancur sementara raganya sudah pasti mati.
__ADS_1
"Kau tidak tahukan seberapa bejat si Barun itu hah, jangan terlalu menilai orang dari luar." ucap Nyi Danuwati lagi kemudian melengos pergi meninggalkan mbah Bayan yang masih diam terpaku
"Apa benar yang ia katakan." gumam mbah Bayan pelan sedetik kemudian ia menggeleng
"Tidak tidak, wanita itu adalah wanita jahat dan licik ini pasti akal akalan nya saja." gumam nya lagi
...****************...
Setelah selesai serangkaian acara peresmian, mbah Sastro segera masuk kedalam kamarnya. Ia ingin segera menyelamatkan sukma mbah Bayan, karena jika terlalu lama dibiarkan maka raga nya tidak bisa diselamatkan.
Ia segera duduk bersila dan mengatupkan kedua tangan dikedua paha, kemudian ia segera memejamkan mata dan merapalkan ajian rogoh sukmo. Setelah merapalkan ajian itu, tampak cahaya putih keluar dari tubuh mbah Sastro dan menembus atap kamar.
Hingga tiba tiba jiwanya sudah berada di istana yang tidak asing baginya, kemudian ia merasakan kehadiran seseorang dibelakang nya lekas mbah Sastro menoleh kebelakang.
"Wahh, apa kau ingin menyelamatkan orang kepercayaan mu itu." ucap Nyi Danu dengan wajah datar dan dingin
"Lepaskan ia Danu." sahut mbah Sastro
"Nyi, panggil aku Nyi Danu." ucap Nyi Danu marah namun mbah Sastro memilih diam tak bergeming
Untuk sesaat mereka berdua hanya diam dan saling pandang, seolah olah mereka melepas rindu dengan tatapan mata. Hingga Nyi Danu memilih untuk membuang muka kearah lain, tampak jelas dimata mereka tersirat akan kerinduan.
"Mengapa kamu masih saja tidak mau berhenti Danu, toh orang orang yang menyakitimu dulu sudah tiada." ucap mbah Sastro
"Bukan aku tapi anakku, sebaiknya kau pergi dari sini aku akan membebaskan Bayan. Karena jika anakku melihatmu, bukan tidak mungkin kau akan bernasib sama dengan orang kepercayaan mu itu." ucap Nyi Danu dengan sinis
Tanpa menunggu ucapan mbah Sastro selanjutnya, Nyi Danu memilih langsung meninggalkan mbah Sastro. Bukan karena takut dengan mbah Sastro, melainkan takut jika itu membuatnya lemah. Karena sejatinya, Nyi Danu masih sangat mencintai mbah Sastro.
__ADS_1
Jiwa mbah Sastro sendiri seketika langsung masuk kedalam raga nya, setelah mbah Sastro membuka mata ia menghembuskan nafas dalam. Ada kerinduan yang bergejolak didalam dada.