Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Menunggu


__ADS_3

Malam merangkak semakin larut, angin sepoi berhembus pelan membelai rimbun dedaunan hutan. Hawa dinginnya menembus masuk ketulang, bunyi jangkrik dan burung hantu berpadu memecah kesunyian di hutan, ditambah dengan hawa dingin yang sesekali menerpa tengkuk membuat semua bulu kuduk meremang.


Tampak dua pemuda tengah berjalan menyusuri jalanan setapak tengah hutan dimalam hari, Yayan yang berada dibelakang Mamat sesekali menoleh kebelakang kala merasakan ada seseorang yang mengikuti. Namun disaat menoleh kebelakang, hanya kegelapan yang terlihat sejauh mata memandang.


Wushhhh


Tiba tiba sekelebat bayangan putih melintas cepat hingga yang dapat dirasakan hanya hawa dingin, namun Mamat yang berjalan didepan sudah terlebih dulu merasakan sesuatu yang tidak biasa membuat ia terhenti.


Yayan yang masih fokus menatap kebelakang tidak menyadari bahwa Mamat berhenti hingga Yayan menubruk punggung Mamat.


Brukkk


Mendapat serangan tiba tiba membuat Mamat sedikit oleng, untung saja ia langsung dengan sigap menyimbangkan tubuh. Jika tidak, telat sedikit saja nampan yang berisi sesajen itu akan terjatuh dan berhamburan.


"Kamu apa apaan sih Yan." ucap Mamat sedikit kesal pasalnya isian yang berada diatas nampan sudah tidak rapi


"Loh malah nyalahake aku, sudah jelas jelas sampeyan yang salah berhenti tiba tiba." sahut Yayan


(Loh malah menyalahkan ku)


"Sampeyan kudu bisa ndeleng nalika aku mandheg, amarga sampeyan ana ing mburiku." ucap Mamat ketus seraya merapikan isian nampan


(Kamu seharusnya bisa lihat kalau aku berhenti, karena kamu berada dibelakang.)

__ADS_1


Yayan hanya meringis mendengar ocehan Mamat, rasanya Yayan ingin sekali mengatakan alasan nya tidak melihat kedepan. Namun Yayan urungkan mengingat sejak tadi yang paling bersemangat pergi adalah dirinya sendiri, Yayan takut Mamat akan menertawakan nya jika mengatakan ketakutan nya.


"Lah, napa sampeyan mandheg?" tanya Yayan mengalihkan pembicaraan


(Lah, kenapa kamu berhenti?)


Benar saja, Mamat segera lupa persoalan Yayan dan kini fokus kepada yang dilihat tadi. Namun jawaban Mamat bukanlah keinginan Yayan, itu sama saja akan menambah ketakutan nya.


"Aku berhenti karena melihat sekelebat bayangan." sahut Mamat


"Ojo guyon."


(Jangan bercanda.)


"Aku serius, kalau bercanda aku tidak mau kali sampai berhenti segala bisa bisa nampan ku terjatuh." sahut Mamat seraya memutar bola mata malas


"Wong jelas jelas aku melihat sendiri, aku tidak berhalusinasi." sentak Mamat


"Wes lah, biar sampeyan yang dibelakang."


Tanpa menjawab, Mamat segera pindah dibelakang Yayan. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan dalam keheningan, Mamat yang masih kesal karena Yayan tidak mempercayai nya memilih untuk diam saja. Sementara Yayan, ia memilih untuk fokus melihat kedepan agar tidak salah jalan.


Tetapi anehnya, jalan yang tadinya menuju hutan larangan yang harus ditempuh hingga dua sampai tiga jam kini berubah. Baru beberapa menit melangkah, mereka sudah sampai didepan hutan larangan.

__ADS_1


Mereka bisa tahu itu hutan larangan karena penunggu nya pernah menunjukkan didalam mimpi, ditambah hutan yang mereka pijak dengan hutan yang didepan sana sangat berbeda. Di siang hari saja berbeda, apalagi dimalam hari.


Hutan yang mereka pijak masih lumayan sedikit terang karena terkena cahaya sinar rembulan, sementara hutan didepan sangat gelap seakan tidak ada kehidupan apapun disana.


"Loh kata sampeyan butuh waktu lama untuk sampai, tapi kita jalan tidak sampai setengah jam sudah sampai. Sampeyan berbohong yo, terus pie iki tengah malam masih sekitar satu setengah jam lagi." ucap Mamat bersungut sungut


Yayan hanya diam, ia sendiri bingung mengapa bisa seperti ini seolah olah mereka memang ditunggu dan dituntun agar cepat sampai.


"Aku juga tidak tahu Mat, yasudahlah jangan dibuat pusing kita tunggu aja disini." sahut Yayan enteng


"Tunggu saja gundulmu, sampeyan tidak lihat disini sangat gelap bagaimana jika ada hantu atau bahkan hewan liar." ucap Mamat yang lagi lagi dibuat kesal


Yayan pun seketika tersadar, di hutan itu memang masih banyak hewan liar. Bahkan terkadang beberapa warga memburu hewan liar di hutan, namun tidak sampai hingga kedalam seperti yang dilakukan kedua manusia itu.


"Terus bagaimana? Apa kita mulai saja sekarang." tanya Yayan


"Yo aku ora tahu, wong aku tidak pernah melakukan hal seperti ini."


Mereka berdua tampak berfikir sejenak untuk memutuskan sesuatu hal.


"Sudahlah kita tunggu saja, lagian sudah tidak lama lagi dan disini juga aman." ucap Yayan akhirnya


Mau tidak mau Mamat pun mengikuti keputusan Yayan, mereka pun duduk bersandar dibawah pohon besar. Sesekali tangan mereka dengan lihai menepuk anggota tubuh yang lain yang terkena gigitan nyamuk, dan sesekali juga mereka akan meringkuk memeluk lutut saking dinginnya.

__ADS_1


Entah di hutan larangan akan terjadi serupa, akankah ada nyamuk dan serangga lain, dan akankah suasana juga dingin. Mereka berdua tidak tahu pasti, yang pasti mereka sekarang harus menunggu.


...****************...


__ADS_2