Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Pelampiasan


__ADS_3

Mbah Sastro dan Pangeran Segoro pun lekas pergi dari rumah Kemal, tampak cuaca tiba tiba mendung. Awan gelap telah menyelimuti desa Ketang, tidak lama gerimis pun turun hingga mengenai tubuh Pangeran Segoro dan mbah Sastro.


"Ada apa lagi ini mbah." gumam pangeran Segoro pelan


Namun mbah Sastro tidak menjawab, ia hanya menoleh kearah Pangeran Segoro dan tersenyum teduh.


Hingga langkah mereka terhenti di sebuah balai desa, disana tampak sudah banyak warga tergeletak.


"Mengapa para warga disuruh dibalai desa pakde?" tanya Pangeran Segoro pada salah satu warga pria paruh baya


"Disuruh sama pamong desa le, katanya biar memudahkan mantri agar tidak capek kerumah warga." sahut pria paruh baya itu


"Apakah sudah semua warga disini?" tanya Pangeran Segoro


"Sepertinya belum semua."


"Oh, yasudah kalau begitu."


Pangeran Segoro dan mbah Sastro pun menemui beberapa warga yang tergeletak namun masih sadarkan diri, kondisinya jauh lebih buruk dari Yeti ibunya Kemal. Mungkin karena beberapa warga sudah kelamaan menunggu, dan tidak segera ditangani.


Bentolan sebesar bisul sudah memenuhi tubuh mereka tanpa ada celah sedikitpun, bahkan ada pula bentolan sebesar kelereng yang besar siap untuk meletus dan pecah.

__ADS_1


"Sakit, arghh."


"Tolong."


"Sakit sekali."


Erangan demi erangan, kesakitan demi kesakitan keluar dari mulut warga. Namun ada yang membuat hati Pangeran Segoro teriris pedih, sama halnya dengan semalam para anak anak kecil pun mengalami hal serupa.


'Kau sudah melewati batasanmu Nyi Danuwati.' batin Pangeran Segoro seraya mengepalkan erat tangannya


Tanpa menunggu lama, Pangeran Segoro dan mbah Sastro segera menyelamatkan warga. Karena percuma saja jika mantri mengobati, atau bahkan jika dokter terhebat didunia sekalipun yang mengobati akan percuma. Karena sakit yang diderita warga adalah teluh atau goib, bukan sakit medis.


Pangeran Segoro mengambil bagian untuk menyembuhkan anak kecil, semetara mbah Sastro menyembuhkan warga yang sudah berumur. Pangeran Segoro dan mbah Sastro segera mengambil posisi dan duduk bersila, mereka mengatupkan kedua tangan didepan dada dan memejamkan mata.


...****************...


Wajar saja, di alam manusia dan alam goib beda waktu. Waktu begitu cepat berputar diarea kekuasaan Nyi Danuwati, dan ia masih sibuk menghancurkan desa hingga melupakan keberadaan Nyi Warsih.


"Ada apa nduk?" tanya Nyi Danu yang tiba tiba saja sudah duduk disebelah Nyi Danuwati padahal tidak terdengar pergerakan apapun


"Aku sedang memikirkan cara tersadis untuk melenyapkan Nyi Warsih ibu."

__ADS_1


"Kamu bisa melakukan apapun sesuka mu, kamu bisa menyiksa nya terlebih dahulu. Tenang saja, ilmu yang dia punya tidak berarti apapun disini." ucap Nyi Danu


"Itu terlalu kecil ibu, aku sudah bosan menyiksa seseorang. Dan sekarang, aku mau sesuatu yang baru." desah Nyi Danuwati


"Terserah padamu saja." ucap Nyi Danu dan melenggang pergi meninggalkan Nyi Danuwati yang masih berfikir keras


Ditengah pikirannya yang kemelut, tiba tiba terlintas di otak nya kemarahan Pangeran Segoro tempo hari. Seketika saja tatapan sorot mata yang tadinya tajam yang siap menghunus siapa saja kini berubah menjadi sendu, namun itu hanya sebentar ia segera kembali seperti semula.


"Sial, mengapa aku tiba tiba memikirkan nya." ucap Nyi Danuwati


"Tidak, aku harus menghancurkan mereka semua." ucapnya lagi yang kali ini disertai dengan tatapan tajam dan seringai bengis


Namun amarahnya sudah berada dipuncak kepala dan ia membutuhkan sesuatu untuk pelampiasan, jadilah ia pergi ke sel menemui Nyi Warsih yang akan dijadikan olehnya sebagai mainan.


Beberapa pengawal mengikuti dari belakang, hingga langkah mereka sampai di sebuah ruangan dimana tampak sosok demit terkurung didalamnya.


"Buka." ucap Nyi Danuwati seraya menyeringai seram kala tatapannya berserobot dengan tatapan Nyi Warsih


Seketika tubuh Nyi Warsih bergetar, dan tanpa sadar ia melangkah mundur. Ia sudah sering melihat senyuman Nyi Danuwati yang menurutnya sangat menyeramkan, namun kali ini terlihat beda.


Melihat itu Nyi Danuwati tersenyum lebar, dan sedetik kemudian ia tertawa menggelegar hingga suaranya memenuhi ruangan.

__ADS_1


"Mari kita mulai permainan nya." ucap Nyi Danuwati


...****************...


__ADS_2