
POV Nanang
Keesokan harinya, seperti biasa setelah hari sudah sore aku kembali pulang dari kediaman juragan Karno. Aku bekerja dirumah nya menggunakan sif, aku mendapat bagian dari pagi sampai sore.
Aku dan kelima temanku memutuskan untuk pulang saja, ditengah simpang mereka mengambil arah lain untuk memotong jalan.
Kini aku sendiri, mana sepanjang jalan sepi. Aku seperti merasa diperhatikan, tapi disaat aku menoleh ke segala arah namun kosong tidak ada siapa siapa.
Bulu kudukku seketika berdiri, aku merinding ketakutan aku lekas mengayuh sepeda ku dengan kecepatan tinggi.
Disaat fokus mengayuh sepeda, tiba tiba didepan sana aku melihat Sundari perempuan yang sering dibayar oleh mas Purwo.
"Eh Sun ngapain kamu disitu?" tanyaku setelah mengentikan sepeda di depan nya
Namun ia hanya diam, bergerak saja tidak sudah sama seperti patung.
"Mbak mau kemana?" tanyaku lagi
Ia hanya menunjuk kearah Utara, yang dimana setauku itu arah makam.
"Mbak mau ngapain kesana, keluarga saja tidak punya disini." ucapku
Namun ia hanya diam, setelah diperhatikan baik baik. Ternyata wajah Sundari ternyata sangat pucat seperti mayat, bahkan setelah aku sadar aroma kapur menguar tapi aku masih berpikiran positif.
"Biar saya antar pulang saja bagaimana." ucapku
Ia mengangguk, dan naik ke boncengan ku. Setelah duduk, ia pun memeluk pinggang ku dari belakang.
"Tangan kamu kok dingin banget Sun sedingin mayat, bahkan wajahmu saja pucat." ucapku
Namun lagi lagi ia diam, aku pun masih berfikiran positif mungkin karna cuaca. Namun setelah setengah jalan, aku merasa sepeda ku terasa berat.
"Kok berat yo." gumamku tanpa menoleh ke belakang
Tidak lama kemudian, tiba tiba aroma bangkai sangat tercium hingga membuatku mual.
"Apa kamu nyium bau bangkai ini juga Sun?" tanya ku
__ADS_1
Namun yang kudapati adalah hening, tidak ada sahutan. Tanpa berfikir panjang aku menoleh kebelakang, seketika mataku terbelalak aku sangat terkejut melihat pemandangan di depanku.
Seraut wajah tua yang menyeramkan, dengan kulit wajah dan seluruh tubuh mengelupas. Darah dan lendir menetes dimana mana, sosok itu tersenyum kepadaku, hingga menampilkan deretan gigi yang menghitam seketika aroma busuk keluar dari mulutnya.
"Arghhhh.... Se...setan." teriakku
Aku berusaha berlari sekencang mungkin, aku berlari tak tentu arah.
"Tolooonngggg..." teriakku
"Hihihihi larilah sekencang nya, tapi kau tidak akan bisa lari dariku hahahahha." ucap sosok itu tertawa mengerikan
Aku berlari kencang, hingga setelah lama berlari aku merasa sosok itu tidak mengikuti ku lagi. Aku pun memberanikan diri menoleh ke belakang, namun kosong.
"Huhh setan sialan." gumamku
Aku kemudian berbalik arah, namun betapa terkejut nya aku melihat sosok temanku yang sudah meninggal kemarin.
Dengan mata melotot kearah ku, wajah nya yang pucat bibir yang membiru.
Namun sosok Darma tak bergeming
"Bu...bukan, Darma sudah mati kemarin." ucapku lagi
Seketika sosok Darma itu tersenyum, semakin lama semakin lebar hingga ke telinga.
"Kamu juga akan mati Nanang." ucapnya dengan suara berat
Seketika lutut ku lemas, namun aku harus lari. Aku memaksakan diri untuk berlari sekencang yang aku bisa, aku sudah ketakutan setengah mati.
"Hahahaah percuma kamu lari." ucap sosok Darma itu menggelegar
Namun aku tidak peduli, aku terus lari tanpa menoleh kemana mana lagi. Hingga tiba tiba, aku mendengar seseorang yang memanggilku.
"Kang." ucap seseorang yang memanggil ku
Aku menghentikan lariku, kemudian aku menoleh ke sumber suara. Disana aku melihat sosok pria berdiri, namun aku tidak bisa melihat dengan jelas karna hari sudah malam.
__ADS_1
Tanpa berfikir panjang aku lekas menghampiri pria itu, kebetulan sekali akhirnya aku punya teman.
Setelah aku mendekat aku bisa melihat pria itu menunduk, seketika aku tersenyum lebar.
"Kang, akhirnya ada orang juga. Dari tadi, aku selalu diganggu setan." ucapku langsung
Namun ia hanya diam tetap menunduk, aku pun menepuk pundak nya.
"Kang." panggil ku
Ia menoleh kearah ku, seketika jantungku berpacu cepat. Aku terbelalak melihat sosok temanku Zuki berdiri di depanku, dengan mata yang putih keseluruhan, bibir pucat, wajah nya pucat yang sudah dihinggapi sedikit belatung.
"Aku ikut kang." ucap sosok Zuki dengan suara berat
Seketika aroma kapur keluar dari mulutnya.
"Arghhh." teriakku
Disaat aku berbalik aku melihat sosok hantu nenek tua dan Darma, aku menoleh kebelakang ada Zuki yang menyeringai seram. Aku terkepung, aku menangis ketakutan.
"Hahahaha." tawa mereka bersamaan
Seketika nenek tua itu mendekat ke arah ku, ia menepuk pundak ku. Seketika aku merasa dalam keadaan sadar tidak sadar, aku merasa diriku dikendalikan namun aku tidak bisa apa apa.
Aku mendongak keatas pohon yang tinggi, kemudian aku menoleh kearah bawah pohon itu yang terdapat banyak bebatuan.
Seketika aku menyeringai, kemudian aku naik keatas pohon itu. Setelah berada diatas, aku dapat melihat banyak batu besar maupun kecil disana. Aku merasa ketakutan tapi aku tidak bisa melakukan apapun, karna aku sudah dikendalikan.
Seketika aku melompat dari atas pohon kebawah, dan.
Brakk
"Arghh." teriakku panjang memecahkan kesunyian.
Aku bisa merasakan nafasku, yang pendek mataku menggelap.
...****************...
__ADS_1