
Disore harinya, aku melihat Mamad, dan Hardi pulang. Hanya mereka berdua, mungkin yang lain masih berjaga.
Aku mengikuti mereka dari belakang, merasa diikuti mereka pun menoleh kebelakang. Aku hanya diam tak bergeming, emang mereka bisa apa.
Mereka kembali melanjutkan bejalan, aku kembali mengikuti sampai berada ditempat sepi. Mereka lagi lagi menoleh, kali ini mereka menghampiri ku.
"Kamu mengikuti kami hah." sentak Mamad
Aku hanya diam, tidak menanggapi ucapan mereka.
"Iki bukannya perempuan yang diwarung mbak Yuli tadi?" tanya Hardi seraya menatapku lekat lekat
"Iyo benar Har, ini perempuan yang tadi." ucap Mamad
"Ngapain kamu mengikuti kita." ucap Mamad
Aku lagi lagi terdiam, bahkan mengubah posisi ku pun tidak.
"Cantik juga Mad." ucap Hardi menoleh kearah Mamad seraya menarik turunkan alisnya
Mamad yang mengerti maksud Hardi segera menoleh kearah nya seraya tersenyum penuh makna, kemudian mereka berdua menoleh kearah ku. Mereka menarik tanganku kasar memasuki hutan, aku tidak menepis memang ini yang aku mau.
Kami berjalan menyusuri semak semak yang setinggi lutut, setelah sampai kehutan kami berhenti. Dengan berani tangan Hardi mengelus punggung ku yang masih berbalut pakaian, dengan kasar aku menepis tangannya.
Mereka terkejut dan marah dengan aksiku.
"Kauu berani nya kau." teriak Hardi
"Jaga sikap kalian jika tidak ingin mati seperti Darma dan Zuki." sahutku datar tanpa ekspresi sama sekali bahkan aku tidak menatap mereka
"Halah perempuan lemah seperti mu bisa apa, aku juga tau kau pasti mendengar pembicaraan kami tadi diwarung itu sebabnya kau tau Darma dan Zuki meninggal." ucap Hardi
"Aku tau karna aku yang membunuhnya, sekarang giliran kalian.". sahutku
"Hahahahaha." tawa mereka serempak
"Jangan terlalu banyak bermimpi." ucap Mamad disela tawanya
Dengan kasar Mamad mendorong ku hingga terjatuh, kemudian dengan sigap Hardi langsung menarik tanganku hingga posisiku terlentang.
"Hahahahah." Mereka lagi lagi berteriak
__ADS_1
"Sekarang kau bisa apa hah." sentak Hardi
Aku masih diam tak bergeming, mereka benar benar membuatku marah. Aku menarik tanganku pelan dari cengkeraman Hardi, namun baru segini saja ia sudah terjungkal kebelakang bagaimana jika aku memakai kekuatan ku.
Aku menatap mereka satu persatu dengan tatapan tajam namun tanpa ekspresi.
"Berani beraninya kalian menyentuh ku." ucapku dingin
"Diam... Cukup layani kami, atau kami akan membunuh mu." sentak Mamad
Disaat Mamad hendak menarik tanganku, aku lekas melompat tinggi dan menerjang tubuh Mamad.
Wushhhh
Bugh
Bughhh
"Arggg." teriak Mamad
Dua kali tendangan membuat ia terjungkal membentur pohon, darah segar sudah keluar dari mulut dan hidungnya. Aku menoleh ke arah Hardi yang hendak menendangku dari belakang, dengan gerak cepat aku langsung mengelak kemudian secepat kilat aku kerahkan kakiku menendang perutnya.
Bughhh
"Arghhh."
Setelah berada di dekat nya, ia kemudian lekas berdiri. Kini kami sudah berhadapan, dengan cepat ia hendak melayangkan bogem kearah ku.
Namun, dengan cepat pula aku menahan tangannya dan memutar tangan nya hingga berbunyi.
Kreekk
"Arghhh." teriakan Hardi menggema di hutan yang sunyi ini
Tanpa menoleh kebelakang, aku sudah merasakan Mamad hendak menyerang ku.
1
2
3
__ADS_1
Aku lekas menghindar kesamping.
"Arghhhhhhh." teriakan panjang Hardi meraung diudara
Seketika darah terciprat kemana mana, kala Mamad yang hendak menusuk ku malah mengenai perut Hardi karna aku sudah menghindar.
Aku dapat melihat, ceruit yang menusuk perut Hardi tembus kebelakang. Detik kemudian ia jatuh tersungkur seraya memegang perutnya, nafasnya sudah terengah-engah.
"Ma...maafkan aku Har, aku tidak sengaja." ucap Mamad ketakutan
"Tidak perlu meminta maaf, karna kau juga akan bernasib sama dengannya." ucapku dingin
"Jaa...jangan macam macam kamu." ucapnya dipenuhi dengan ketakutan
Aku berjalan mendekat kearahnya, ia hendak menarik celurit yang menancap diperut Hardi namun susah. Disaat aku sudah hampir sampai, ia segera membalikkan tubuh Hardi hingga tengkurap.
Sangat terlihat jelas, bahwa celurit diperutnya terlihat hingga ke punggung. Bahkan, semakin dalam kala Mamad membalikkan tubuhnya.
Dengan cepat Mamad menarik celurit dipunggung Hardi, semua centeng disini tidak hanya di desa Sukar bahkan semua desa para centeng memang wajib membawa celurit.
Kemudian Mamad segera berdiri kala aku sudah sampai di dekat nya, tidak membuang waktu Mamad segera menyerang ku. Aku yang sedang memerhatikan Hardi tidak mengira Mamad menyerang ku, hingga celurit nya mengenai lenganku.
"Arghh, berani nya kau." ucapku dingin dengan wajah datar
Mamad hendak menyerang ku lagi dengan melompat dan hendak menghunuskan celurit itu ke arah ku, dengan cepat aku menghindar.
"Nogo keluarlah." ucapku
Seketika asap tebal menyelimuti tubuhku, dan tidak lama keris Nogososro keluar. Aku segera memegang gagangnya, aku melompat tinggi dan menukik tajam kearah Mamad dan.
Brushhh
"Arghhh." teriakan panjang Mamad menghiasi hutan
Bahkan darah Mamad mengenai wajahku, kala aku menusuk perutnya dengan kerisku. Aku semakin menekan kan keris milikku lebih dalam lagi.
"Arghhh." teriaknya
Aku mencabut kerisku, aku melihat nafas Mamad sudah terengah-engah wajahnya sudah pucat pasi. Detik kemudian, ia pun menghembuskan nafas terakhir nya.
Aku melihat kearah mereka sekilas, tidak ada ekspresi apapun tercetak di wajah ku. Kemudian aku melesat cepat Kembali ke rumah.
__ADS_1
...****************...