Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Tempat Tinggal Baru


__ADS_3

Sementara di waktu yang bersamaan, namun ditempat yang berbeda. Damar dan mang Kurdi serta beberapa pekerja yang lain kini tengah di sibuk kan dengan acara pembangunan kembali rumah keluarga mendiang lurah Pramono dulu, tiba tiba seorang pria yang tidak ingin dilihat Damar datang.


"Ehh, nak Mahen disini juga toh." ucap mang Kurdi seraya tersenyum ramah


"Njih pakde, maaf kalau saya telat." sahut Mahendra


"Tidak kok, kami saja baru mulai." ucap mang Kurdi


Sementara Damar hanya bisa memaksakan senyumnya, mereka pun kembali bekerja. Ditengah tengah kesibukan pekerjaan mereka, Mahendra menghampiri Damar yang tidak jauh darinya.


"Maaf mas, saya ingin menanyakan sesuatu." ucap Mahendra


Sontak Damar yang sedang mengangkat beberapa kayu pun berhenti, kemudian ia menoleh kearah Mahendra.


"Apa?" tanya Damar alisnya bahkan sudah terangkat sebelah karena bingung


"Eumm, saya tidak melihat Riana beberapa hari ini. Apa mas tahu dia ada dimana?" tanya Mahendra


Damar menggeleng pelan, ia teringat perkataan Riana yang tidak perlu mengatakan pada orang lain ada dimana dia sekarang.


"Saya tidak tahu mas." sahut Damar


"Yasudah, terimakasih." ucap Mahendra

__ADS_1


Damar merasakan panas didalam hatinya kala mendengar pria lain mencari wanita yang dicintai nya. Sementara Mahendra sendiri merasakan pikiran nya berkecamuk, ia takut jika abangnya sudah mendapatkan Riana tanpa sepengetahuan nya.


Sementara ditempat yang berbeda, tepatnya diatas bukit. Riana baru saja sampai, sebelum masuk ia memperhatikan sejenak gubuk milik mendiang eyang dan kakung nya dulu.


Setelah itu ia tampak menghembuskan nafas kasar, kemudian ia pun masuk kedalam. Hal pertama yang ia lihat adalah dinding gubuk yang terbuat dari bambu kini sudah bersarang laba laba, lantai yang sudah tebal akan debu.


Dengan cepat Riana membersihkan tempat tinggalnya yang baru, kebetulan isi gubuk ini tidak ada yang berubah. Karena dulu bekas tempat tinggal eyang dan kemudian ditempati oleh Riana dan mbok Sri, jadi sudah diisi dengan peralatan.


Riana kemudian menyapu dari belakang dapur hingga kedepan, kemudian membersihkan sarang yang ada dimana mana. Setelah itu, ia membersihkan kamar yang akan ditempati.


Riana cukup kesulitan melakukan itu semua, mengingat sedari kecil bahkan ia tidak pernah memegang sapu. Namun akhirnya selesai juga walaupun membutuhkan waktu lama, sekarang ia memilih untuk menyapu halaman.


Hari sudah hampir memasuki senja, ditengah keasyikan nya menyapu. Riana menyadari ada banyak pasang mata yang mengawasi nya, namun Riana mengabaikan hingga ia selesai menyapu.


Ia kemudian meletakkan sapu didepan gubuk, kemudian ia membaca mantra tanpa suara dan setelahnya ia meludah sebanyak tiga kali kekiri.


Tanpa sadar ia tertidur, setelah hari sudah gelap ia pun terbangun.


"Sudah malam." gumamnya


Ia kemudian menutup jendela kamarnya, sekilas ia melihat sekelebat bayangan.


"Hmm, kalian sudah mulai bermain rupanya." gumam Riana seraya tersenyum

__ADS_1


Lekas ia menutup jendela kamarnya, dan menutup semua jendela gubuk yang tadi memang sengaja dibuka. Setelah itu ia pergi ke dapur untuk membuat perapian, setelah itu ia menaruh air yang ada didalam ceret keatas api.


Setelah mendidih segera ia angkat dan memasukkan nya kedalam gentong didalam sumur, setelah itu ia mencampur nya dengan air dingin. Kemudian ia menaburkan kembang tujuh rupa yang sudah ia bawa, setelahnya ia menanggalkan semua pakaian nya dan menyirami tubuhnya menggunakan batok kelapa.


Wushhhh


Ia merasakan hawa dingin yang tidak biasa menerpa leher jenjang nya, namun ia tidak peduli hingga selesai mandi ia membungkus tubuhnya menggunakan kain jarik karena ia tidak membawa pakaian ganti.


Segera ia masuk kedalam kamarnya dan mengganti pakaian, tiba tiba terdengar suara dari atas atap gubuknya.


Tap tap tap


Seperti orang yang sedang menunggangi kuda, Riana hanya memperhatikan tanpa ekspresi sama sekali.


Kratak kratak


Tiba tiba terdengar suara seperti patahan kayu, bersamaan dengan aroma ubi rebus menguar. Riana segera keluar dari kamar, dan menuju pintu utama.


Segera ia keluar dan duduk bersila di tanah, ia menggenggam tanah dengan sebelah tangan dan mengepal nya hingga berbentuk bulat.


Kemudian ia melukai tangannya menggunakan kukunya yang sedikit panjang hingga berdarah, setelah itu ia meneteskan darahnya sebanyak tiga tetes keatas tanah yang sudah berbentuk bulat itu.


"Kembalilah kepada pengirim mu tanpa tersisa sedikit pun." ucap Riana sebanyak tiga kali

__ADS_1


Kemudian ia melemparkan tanah itu ke sembarang arah, ajaibnya tanah itu tiba tiba menghilang.


...****************...


__ADS_2