Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Membantu


__ADS_3

"Jagapati!" seru mbah Sastro


Sesampainya di istana laut Segoro, mbah Sastro langsung memanggil Jagapati seorang pria sepuh namun masih lebih sepuh mbah Sastro. Sedangkan jika dibandingkan dengan mbah Bayan, Jagapati jauh lebih sepuh.


Jagapati seorang kepercayaan atau kaki tangan mbah Sastro dalam menjaga istana, sebelum adanya Pangeran Segoro setiap kali mbah Sastro ingin pergi maka Jagapati yang akan mengambil alih untuk mengurus istana. Dan sekarang, mbah Sastro maupun Pangeran Segoro sedang tidak ada maka Jagapati lah yang akan menjaga istana. Jagapati juga bertugas untuk menutup, dan membuka istana dari pandangan manusia.


Jagapati pun muncul dihadapan mbah Sastro dengan raut wajah datar, Jagapati juga tidak berbicara bukan berarti dia tidak bisa bicara. Hanya saja, itulah ciri khasnya.


"Aku hanya sebentar disini, setelah ini tolong jaga kembali istana." ucap mbah Sastro


Jagapati hanya mengangguk pelan.


"Baiklah matur suwun." ucap mbah Sastro lalu pergi meninggalkan Jagapati


Jagapati pun segera pergi dan menjalankan tugasnya, sementara mbah Sastro lekas beralih menuju ruang penyimpanan seluruh emas miliknya. Entah darimana ia mendapatkan emas itu, tidak ada yang tidak mungkin didunia goib.


Ia mengambil lumayan banyak untuk dibagikan ke warga, kemudian emas itu ditaruh didalam kantongan kain yang sudah disiapkan. Setelah dirasa cukup, mbah Sastro segera kembali pergi ke desa.


Seperti biasa, mbah Sastro keluar dari istana melalui gerbang. Dan semua pengawal pun turut memberi hormat, setelah keluar dari gerbang mbah Sastro pun komat kamit membaca mantra.

__ADS_1


Dan lagi lagi seperti biasa, muncul sebuah asap putih. Dan mbah Sastro segera masuk dan menembus asap putih itu, hanya dengan satu kedipan mata mbah Sastro sudah sampai di gapura desa.


Suasana desa kembali sepi seperti desa mati, padahal waktu masih menjelang sorop padahal mbah Sastro pergi masih terbilang pagi. Tampaknya Nyi Danuwati berhasil mempermainkan mental warga desa Ketang, mbah Sastro pun menghela nafas kemudian melanjutkan langkah.


Sesampainya didalam rumah, mbah Sastro segera membersihkan diri. Setelah itu, mbah Sastro pun memilih untuk makan malam sejenak.


Tok tok tok


Tok tok tok


Ditengah tengah asyik menyantap makanan, terdengar bunyi ketukan pintu. Tampaknya orang itu sedang terburu buru, terbukti dengan ketukan pintu yang tergesa gesa dan tidak berhenti.


Tok tok tok


"Kulo nuwun mbah." ucapnya lagi


Mbah Sastro mengenal betul pemilik suara itu, mbah Sastro pun segera berdiri dan membuka pintu.


Krieett

__ADS_1


Bunyi derit pintu membuat seseorang yang berdiri diluar bergidik ngeri, mbah Sastro hanya menatap pemuda desa yang berparas manis itu.


"Mbah." ucap Kemal cengengesan


"Ono opo?" tanya mbah Sastro


"Disuruh sama petinggi desa untuk menjemput mbah ke balai desa, karena sebagian warga ada yang mendesak. Karena menurut penuturan mereka, mereka tidak bisa menunggu sampai besok karena hari ini saja mereka tidak makan." ucap Kemal


Mbah Sastro hanya menghela nafas dalam, begitu miris kehidupan warga desa namun Nyi Danuwati masih menambah penderitaan mereka.


"Baiklah ayo kesana." sahut mbah Sastro


Tanpa menunggu lama, mbah Sastro bersama Kemal menyusuri jalanan desa yang lenggang. Sesampainya di balai desa, mereka disambut ramah oleh para warga yang berada disana.


"Jadi begini mbah, warga ingin dibantu hari ini juga." ucap Pamong desa


Mbah Sastro hanya mengangguk.


"Kebetulan saya sudah membawa sesuatu yang akan membantu warga, semoga saja dapat membantu semua warga." sahut mbah Sastro seraya mengambil kantongan yang berada dibalik baju mbah Sastro

__ADS_1


...****************...


__ADS_2