Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Perpisahan


__ADS_3

POV Riana


Setelah sampai di danau, kami segera duduk di pinggiran danau dengan pemandangan yang terbentang indah di sekitar danau.


Sebelum bercerita aku menghembuskan nafas pelan, entah mengapa aku merasa gugup sekali.


"Katakan lah." ucap mas Damar


Aku hanya menoleh sekilas kearahnya, kemudian menghembuskan nafas lagi. Kemudian aku mulai bercerita semua nya tanpa ada yang ku tutupi, mulai dari sosok berjubah hitam beserta pengawal nya yang mengejar hingga terjadi pertumpahan darah, kemudian dari cerita mbok Sri tentang semua yang terjadi ku.


Aku menoleh ke arah mas Damar, ia tertegun sesaat kemudian menghembuskan nafas kasar.


"Aku senang dan bahagia jika kamu selamat, namun.." mas Damar tidak sanggup meneruskan perkataan nya


Aku mengerti bagaimana perasaan nya, tapi kami tidak akan bisa bersatu.


"Lalu bagaimana denganku Riana." ucap mas Damar dengan sendu


"Maaf mas, alangkah baik nya jika kita berjalan masing masing." sahutku menunduk


Seketika aku merasakan tubuh mas Damar bergetar, detik kemudian ia menangis tanpa suara.


"Maaf." ucapku


"Kumohon jangan pergi lagi, kita bersama oke, kita bersama sama menumpaskan mereka mas mohon." sahut mas Damar seraya menggenggam erat tanganku

__ADS_1


"Aku tidak bisa mas, itu bisa menyakiti ku. Hal itu bisa membunuhku secara perlahan, dan aku tidak mau mati sebelum membalas mereka." ucapku penuh penekanan di kalimat terakhir


Mas Damar sudah tidak sanggup mengatakan apapun, aku kembali menggenggam tangan nya.


"Riana mohon mas, mas Damar jangan seperti ini. Iklhas kan saja Riana, jalani takdir sebagaimana mesti nya. Jangan bersedih lagi itu akan membuat ku sakit mas, berbahagia lah walaupun tanpa aku." ucapku pelan


Jujur demi apapun yang ada didunia ini aku merasakan sakit yang luar biasa, aku sakit harus meninggalkan orang yang aku sayang lagi dan lagi.


Namun ini yang terbaik, aku kembali bisa bernafas karna bantuan keris itu. Jika aku melepas keris itu bukan tidak mungkin aku akan tiada, dan itu akan membuat mas Damar semakin sakit.


Disini bukan hanya mas Damar yang terluka, namun aku juga. Aku harus memilih antara cinta dan dendam, jika aku memilih cinta itu tidak mungkin kami sudah tidak bisa bersama. Dan, aku juga tidak ikhlas jika para pembunuh itu bahagia.


"Mas hanya mencintai kamu, katakan pada mas bagaimana caranya mas bisa bertahan." sahut mas Damar


Seketika kami terdiam beberapa menit dengan pikiran masing masing yang berkecamuk, sebelum akhirnya mas Damar kembali berbicara.


"Jadi apakah hubungan kita sudah berakhir?" tanya mas Damar dengan pandangan lurus kedepan


"Ini yang terbaik buat kita." sahutku menguatkan hati


"Perpisahan seperti apa ini Riana." ucap mas Damar menoleh ke arah ku


"Maaf." ucapku menunduk


"Kalau kamu memang menginginkan kita berpisah, katakan sekali lagi dengan menatap mataku."

__ADS_1


Seketika sekujur tubuhku merasakan panas, aku ingin sekali berteriak mengatakan aku mencintainya.


'Aku harus kuatt' batinku


Perlahan aku menoleh kearahnya, aku menatap matanya.


"Kita harus berpisah mas, kita tidak bisa seperti ini karna percuma. Sampai kapan pun kita tidak bisa bersama, jangan menyakiti perasaan kamu sendiri dengan memaksakan takdir." ucapku


Mas Damar terdiam sesaat dengan menatap mataku, tatapan sendu nya yang bisa saja menggoyahkan ku namun aku harus kuat.


"Baiklah jika itu yang kamu mau, mulai sekarang kita berpisah." ucap mas Damar seraya tersenyum


Aku sudah tidak sanggup mengatakan apapun, aku hanya bisa merasakan sesak luar dalam.


"Aku harus pergi." ucapku


"Aku antar, sepertinya mbok Sri juga masih di rumah."


"Tidak, aku bisa sendiri. Kamu pergi saja, dan suruh mbok Sri menemuiku diluar desa." sahutku dingin


"Kamu mau kemana?"


Namun aku tidak menjawab pertanyaan mas Damar karna akan membuat ku semakin sakit, aku lekas berdiri dan pergi. Sebelum pergi, aku menoleh sekilas kearahnya yang menatapku dengan sendu.


Aku menarik dan menghembuskan nafas kasar, mencoba menguatkan hati dan pergi.

__ADS_1


__ADS_2