Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Pertarungan dan Kematian


__ADS_3

Setelah sampai di perbatasan desa aku berniat untuk menunggu mbok Sri disini, cukup lama aku menunggu hingga akhirnya dari kejauhan terlihat mbok Sri berlari tergopoh gopoh.


Aku lekas menghampiri mbok Sri, terlihat keringat sebesar biji jagung berjatuhan diwajah mbok Sri.


"Mbok istirahat dulu saja yo, pasti mbok Sri capek kan lari lari. Lagian mbok Sri ngapain lari lari sih?" ucapku beruntun


Namun mbok Sri hanya nyengir kuda.


"Tidak apa, kita ke desa Sumbul saja."


"Yasudah, ayo mbok."


Kami lekas pergi ke desa Sumbul, aku tidak berniat untuk bertanya pada mbok Sri tentang pembicaraan mereka dengan bude Ratna. Karna sepertinya, tanpa bertanya pun aku tau apa yang mereka bahas.


...****************...


Setelah lama diperjalanan, akhirnya kami sampai juga di desa Sumbul. Lekas kami menuju rumah yang baru dibeli oleh salah satu orang kepercayaan ku di kebun yang diberikan bapak di desa ini.


Setelah sampai didepan rumah, aku memperhatikan rumah ini rumah yang berbentuk panggung lumayan juga. Cukup besar, walaupun tidak sebesar rumah kami dulu padahal yang menempati hanya aku dan mbok Sri saja.


Kami memasuki rumah ini, keadaan didalam cukup rapi dan harum. Aku lekas masuk kedalam kamarku, dan merebahkan tubuh sejenak.


Setelah merebahkan tubuh, justru yang ada bayang bayang aku dan mas Damar di danau tadi yang selalu menari nari di ingatan.


Aku menghembuskan nafas kasar, dan bangkit dari perbaringan.


Aku membuka pintu kamar.


Kriiiit


Braak


Aku kembali menutup pintu, aku tidak melihat mbok Sri. Aku berjalan menuju dapur, disana aku melihat mbok Sri sedang memasak.


Mbok Sri yang melihatku lekas bertanya.


"Kamu kenapa nduk, apa yang kamu mau biar mbok Sri siapkan."


Aku hanya menggeleng kepala pelan.


"Tidak ada mbok, aku hanya bosan saja." sahutku


"Kalau bosan kamu bisa keluar nyari angin toh." ucap mbok Sri


Aku mengangguk


"Kalau gitu aku pamit dulu yo mbok."


"Hati hati nduk." sahut simbok seraya mengangguk


Aku berjalan keluar, setelah sampai didepan aku justru semakin bingung mau kemana. Karna tidak ada kerjaan dan pilihan, aku berniat untuk ke desa Sukar untuk memantau para incaranku.


Itu sebabnya aku mau untuk tinggal disini, karna jarak dari desa Sumbul kedesa Sukar tidak terlalu membutuhkan waktu lama. Aku lekas pergi, dengan menggunakan kekuatan ku aku berlari secepat kilat hingga orang awam yang melihat hanya sebatas angin.


Aku berkelebat cepat hingga hanya menyisakan bayangan, hingga tidak butuh waktu lama aku pun sampai.


Setelah sampai seperti biasa, aku berjalan memasuki warung mbak Yuli yang berada di seberang rumah juragan Karno. Sebelum masuk, aku memesan wedang uwuh agar tidak ada yang curiga.


"Mbak, wedang uwuh satu yo."


"Siap neng, silahkan di tunggu."


"Nggeh, matur suwun." sahutku seraya berjalan menuju ke kursi belakang

__ADS_1


Namun baru beberapa detik duduk betapa terkejut nya aku melihat pemandangan didepan sana, aku melihat mas Purwo yang ternyata masih hidup.


Aku mengepalkan erat tanganku, hingga kuku kukuku melukai tanganku sendiri hingga berdarah.


"Hmmm.... ternyata kalian ingin bermain main denganku." gumamku pelan hingga aku saja yang dapat mendengar


Aku sangat marah, berani berani nya mereka membohongi ku. Jika dia tidak mati oleh tusukan mas Prasetyo, maka aku yang akan membunuh mas Purwo.


Aku menarik dan menghembuskan nafas perlahan untuk menetralisir amarahku, aku harus bersikap seperti semula.


...****************...


Lama aku menunggu, hingga pada akhirnya aku melihat dari kejauhan ada dua orang pengawal juragan Karno hendak menuju kesini. Setelah mereka mendekat, aku bisa melihat jelas kalau mereka adalah Manto, dan Mansur.


"Kopi dua njih mbak yu." ucap Manto


"Siap kang." sahut mbak Yuli


Manto dan Mansur pun lekas duduk yang tidak jauh dari tempatku.


"Aku masih tidak menyangka kalau ternyata den Purwo masih hidup." ucap Manto


"Sama kang, tapi aku justru heran kenapa ia sembuhnya cepat sekali." sahut Mansur


"Kan kata juragan tusukan yang didapatkan den Purwo tidak terlalu dalam, dan lagi pun keluarga mereka punya banyak uang pasti bisa membuat den Purwo cepat sembuh." ketus Manto


"Iya juga ya kang." sahut Mansur seraya terkekeh


Rasanya darahku sudah mendidih mendengar pembicaraan mereka, aku ingin sekali menghancurkan mereka detik ini juga. Tapi aku harus bersabar, aku ingin menyiksa mereka sebelum membunuh mereka.


Dan lagi pula aku memang harus bersabar, karena aku harus menyingkirkan antek antek nya terlebih dahulu.


Dan targetku sekarang ada didepan mata, aku akan menghabisi kedua orang ini.


'Ini kesempatan ku.' batinku


Setelah keluar dari kediaman juragan Karno, aku lekas mengikuti mereka terang terangan.


Rupanya mereka sadar aku mengikuti, untungnya tempat ini sepi. Mereka menghampiri ku, aku hanya menatap mereka dengan nyalang.


"Heh ngapain kamu ngikutin kami hah." sentak Manto


Aku hanya diam tak bergeming, rasanya aku sudah tidak sabar menghabisi mereka.


"Jawab!" sentak nya lagi


"Aku mengikuti kalian untuk membunuh kalian." sahutku datar


"Hahahahah." mereka berdua tertawa sinis


"Apa kamu bilang, kamu mau membunuh kami? Sebelum kamu melakukan itu, kami terlebih dahulu membunuh mu." ucap Manto seraya terkekeh


Sementara Mansur masih tertawa seraya menggeleng kepala tanda tak habis pikir.


"Coba saja." sahutku menantang masih dengan wajah datar tanpa ekspresi


Mereka yang sudah naik pitam menarik tanganku kesemak belukar yang tingginya sepinggang, setelah itu mereka mendorong ku hingga aku terjungkal.


Aku mengepalkan erat tanganku, rasanya emosi ku sudah diubun ubun.


"Kalian sudah melewati batas." ucapku dingin seraya bangkit berdiri


"Terus kamu mau apa hah, mau membunuh kami hahahaha." sahut Mansur seraya tertawa

__ADS_1


Tanpa berkata kata aku lekas menyerang mereka, aku melompat tinggi kemudian menendang mereka berdua dari arah belakang.


Bughh


Bughhh


Sekali tendangan di punggung mereka masing masing membuat mereka terjungkal.


"Argghh." teriak mereka bersamaan


"Berani nya kau." ucap Manto menunjuk wajahku


Aku hanya bersikap datar, melihat raut wajah ku yang dingin tanpa ekspresi membuat mereka naik pitam.


Mereka berdua lekas berdiri, dan mengeluarkan golok dari balik pinggang mereka masing masing.


Seraya mengacungkan golok kearah ku, mereka hendak menerjang ku dengan tendangan mereka. Melihat pergerakan mereka, secepat kilat aku mengelak dengan melompat dan kembali menerjang mereka.


Wushhhhh


Bughhhh


Bughh


Dua kali tendangan bersarang di dada mereka masing masing, membuat mereka terjungkal hebat kebelakang dan mengeluarkan cairan merah dari mulut.


Aku berjalan mendekat, kemudian mengambil kerisku dari balik punggung yang sudah aku siapakn sebelumnya. Aku tidak mau jika memanggil kerisku dan justru mengeluarkan aroma busuk, itu sebabnya aku mempersiapkan nya.


Aku hendak menghunuskan kerisku, namun mereka masih bisa menghindar. Aku semakin emosi, akupun memulai serangan lagi kearah Manto terlebih dahulu.


Aku mengacungkan keris milikku kearah depan dengan kaki yang melompat cukup tinggi, disaat Manto hendak menangkis dengan gerak cepat aku membelokkan lompatan ku.


Disaat ia lengah, aku menghunuskan kerisku kearah perut nya dan.


Wushhhh


"Arghhhh." teriakan kesakitan milik Manto memecah kesunyian dimalam hari


Tidak lama kemudian, ia pun meregang nyawa. Melihat temannya seperti itu, Mansur seketika emosi namun ada ketakutan diwajahnya.


Aku menatapnya dingin dan ia juga menatapku, ia kembali mencoba menyerang ku dengan berlari dan melompat tinggi seraya mengacungkan golok.


Aku telat memperhatikan gerakan nya, hingga golok yang digenggam nya melukai sedikit lenganku hingga berdarah walaupun hanya sedikit dan tidak dalam.


"Arghh." aku meringis


Seketika ia menyeringai penuh kepuasan, aku yang sudah berada di puncak emosi seketika melompat tinggi seraya mengacungkan kerisku, disaat ia hendak menangkis aku dengan secepat kilat membelokkan lompatan ku hingga bergulung gulung dengan kedua kakiku ditekuk.


Disaat aku sudah berada diatas kepala Mansur, kedua kakiku kembali ku lurus kan dan bergantian menghantam punggung Mansur.


Bughhh


Bughh


Dua kali hantaman bersarang di punggung nya membuat ia terjungkal membentur pohon, dengan cepat aku berlari kearahnya seraya menghunuskan kerisku kearah perut nya dan.


Wushhhh


"Arghhhh." kembali teriakan panjang memecah kesunyian malam


Detik kemudian ia pun meregang nyawa, aku hanya menatap mereka sekilas kemudian melesat cepat.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2