Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Persyaratan Tumbal Janin


__ADS_3

"Selamat datang di hutan larangan, senang bertemu dengan kalian." ucap Nyi Danuwati membuyarkan lamunan Yayan dan Mamat


Perasaan Yayan dan Mamat bercampur aduk, ada ketakutan sekaligus senang dan menikmati pemandangan didepan sana. Kulit yang putih mulus membuat mereka berdua kesulitan menelan saliva nya sendiri, namun lekas mereka memasang ekspresi biasa atau mereka akan mati begitu pikirnya.


"Salam hormat kami Ratu." ucap Yayan disusul dengan Mamat


Nyi Danuwati hanya mengangguk masih dengan membelakangi mereka.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Nyi Danuwati dengan ciri khas suara yang lembut mendayu


"Kekayaan Ratu." ucap Mamat langsung


Sementara Yayan masih tampak berfikir menimbang nimbang apa kiranya yang akan ia minta.


"Jabatan, kekayaan, hidup abadi Ratu." ucap Yayan


Sontak mendengar itu Mamat melongo menatap tidak percaya kearah Yayan, sementara didepan sana tampak senyum sinis tersungging dibibir Nyi Danuwati.


"Sesajen yang kalian bawa hanya bertujuan untuk memanggil ku, jika kalian ingin kekayaan, jabatan, hidup abadi maka datanglah lain kali dengan membawa tumbal." ucap Nyi Danuwati


"Tu..tumbal." desis Mamat gemetar


Sebagai seseorang yang tinggal di desa yang masih kental dengan mistik nya tentu mereka tahu persyaratan khusus untuk meminta sesuatu, namun tidak terbesit sedikitpun jika Mamat akan mendengar Nyi Danuwati meminta tumbal.


"Iya jika kalian mau, jika tidak maka pulanglah." sahut Nyi Danuwati


"Tumbal yang mana yang Ratu inginkan." ucap Yayan cepat yang lagi lagi membuat Mamat melongo


Rupanya mata hati Yayan sudah dibutakan oleh kekayaan tanpa memikirkan resiko nya, sementara Mamat yang merasa takut dan sedikit ragu tapi mau tidak mau ia harus tetap mengikuti karena ia juga tidak bisa berbohong dan munafik jika ia membutuhkan uang.

__ADS_1


"Hahahaha." Nyi Danuwati tertawa


Namun Nyi Danuwati tertawa masih dengan suara lirih dan lembut mendayu membuat sesuatu yang ada didalam diri Mamat dan Yayan bergejolak, tidak dipungkiri mendengar suara lemah lembut Nyi Danuwati membuat sesuatu yang ada di diri mereka memberontak.


"Aku menginginkan tumbal janin." ucap Nyi Danuwati yang seketika membuat kedua pemuda itu terbelalak kaget


Bagaimana bisa mereka menumbalkan janin? Setidaknya itu yang ada didalam hati Mamat, sementara Yayan justru berfikir dimana mereka akan mendapatkan janin?


"Ja...janin." sahut Mamat tergagap


Nyi Danuwati mengangguk.


"Malam satu suro nanti datanglah kembali dan bawa persembahan yang kuinginkan." ucap Nyi Danuwati


"Ta..tapi bagaimana bisa kami mendapatkan janin Ratu? Tidak mungkin kami mengeluarkan janin secara paksa dari perut ibunya." ucap Yayan


"Mungkin." sahut Nyi Danuwati seraya menyeringai seram


"Jika kalian tidak mau tidak apa dan silahkan pergi, hanya saja saya tidak bisa menjamin keselamatan kalian karena seseorang telah menandai kalian sebagai target." ucap Nyi Danuwati


"Ta..target?" tanya Yayan semakin pusing


"Seseorang mengetahui rahasia kalian yang sudah membunuh dan menyakiti beberapa orang, dan seseorang itu sedang memburu kalian. Bahkan, hantu wanita itu akan meneror kalian." ucap Nyi Danuwati membuat Yayan dan Mamat pusing tidak mengerti


"Kami tidak mengerti maksud Ratu." sahut Yayan


"Hayati." ucap Nyi Danuwati


Deg

__ADS_1


Satu kalimat, satu nama, tapi mampu membuat mereka keringat dingin padahal hutan larangan memiliki suasana yang berbeda dari hutan lainnya yaitu memiliki hawa panas.


"Wanita itu akan meneror kalian habis habisan seperti yang terjadi dengan bos kalian, sementara ada seseorang yang mengetahui perbuatan kalian yang akan membalaskan perbuatan yang kalian lakukan." ucap Nyi Danuwati lagi


Sementara orang yang diajak bicara hanya bisa termangu, sungguh mereka tidak bisa membohongi diri jika mereka takut.


"Tolong lindungi kami Ratu." ucap Yayan


"Aku menginginkan tumbal janin." sahut Nyi Danuwati tanpa menjawab permohonan Yayan


"Baik, baik ratu malam satu suro nanti akan kami bawakan janin." ucap Mamat cepat yang kali ini berganti Yayan lah yang melongo menatap tidak percaya kearah Mamat


Bagaimana tidak? Mamat yang memang sedari awal menentang keras, takut, ragu dan lainnya kini dengan tegas mengiyakan.


"Hahahaha." Nyi Danuwati tertawa


Namun kali ini bukan tertawa dengan suara lembut, melainkan tertawa menggelegar.


"Silahkan pergi." ucap Nyi Danuwati


Yayan dan Mamat pun segera pergi dari hutan larangan dengan membawa kembali nampan yang berisi sesajen, sementara nampan satu lagi dibawa oleh Yayan setelah meletakkan kepala kerbau diatas batu dengan alas daun pisang.


Setelah mereka berbalik pergi, Nyi Danuwati pun berbalik badan menghadap kearah dua pemuda desa yang berjalan membelakangi Nyi Danuwati.


Nyi Danuwati menarik sudut bibirnya hingga senyuman sinis tercetak jelas dibibir indah Nyi Danuwati, pandangan sorot mata tajam mengarah kearah Yayan dan Mamat seolah tatapan itu akan membunuh dua pemuda itu sekarang.


"Aku akan menjadikan kalian budakku sebelum aku menuntaskan balas dendam ku, tapi jangan harap aku memberikan apa yang kalian mau." gumam Nyi Danuwati dengan tatapan tajam


"Mungkin aku akan memberi kekayaan saja sedikit agar mereka merasa senang sebelum menghampiri kematian." gumam Nyi Danuwati lagi

__ADS_1


...****************...


__ADS_2